Kejawen, Filsafat, dan Laku Hidup Orang Jawa

  • Whatsapp

Oleh: Slamet Makhsun*)

Dalam pandangan Clifford Geertzt—antropolog Barat—Kejawen diartikan sebagai bagian dari agama lokal orang Jawa. Padahal tidak seperti itu. Secara mendalam, Kejawen merupakan laku hidup orang Jawa yang, didalamnya banyak berisikan filosofi kehidupan. Demikian itu jamak diaplikasikan di beragam segi kehidupan, misalnya dalam kesenian, ritual, sosial-budaya, dan semacamnya. Sehingga, jika Kejawen diartikan sebagai agama, adalah definisi yang fatal.

Memang benar, bahwa ada ritual yang berbau ‘Jawa’, tapi itu hanyalah lingkup kecil dari ejawantah ajarannya. Dalam perspektifnya Prof. Dr. Branders, setidaknya manusia Jawa telah memiliki sepuluh dasar kehidupan yang asli, sebelum masuknya ideologi dan agama-agama impor. Yakni pertanian, pelayaran, perbintangan, wayang, gamelan, batik, metrum, cor logam, mata uang, dan sistem pemerintahan. Budaya-budaya tersebut ada sejak Jawa kuno dan merupakan kedaulatan spiritual Jawa. 

Laku hidup orang Jawa bersifat terbuka, luas. Yang hal itu telah mewarnai setiap peradaban yang dilaluinya. Dari era Hindu, Budhha, hingga datangnya Islam di Jawa, Kejawen telah mewarnai kesemuanya itu. Sehingga praktik agama yang dilakukan tidak persis seperti di tempat asal agama tersebut, tetapi telah mengalami akulturasi dengan budaya Jawa.

Hal itu, lalu memunculkan sebuah pertanyaan, kenapa agama-agama besar dunia mudah berkembang dan dipeluk orang Jawa? Kesan yang didapat bukanlah karena orang Jawa mudah didoktrin dan dipengaruhi. Namun lebih kepada pondasi berpikir orang Jawa, bahwa sebelum agama-agama itu datang, mereka lebih dulu kenal dengan Tuhan melalui nalar rasionya. Dalam artian, orang Jawa tidaklah atheis.

Dalam kajian Religion Studies, mendakwahkan agama kepada orang yang sudah kenal dengan Tuhan, lebih mudah ketimbang kepada orang atheis. Dan orang Jawa telah memiliki akan hal itu. Spirit yang terkandung dalam Kejawen, nampak pada adagium manunggaling kawulo Gusti. Yang artinya persatuan hamba dengan Tuhan. Dalam pandangan masyarakat Jawa, melalui olah rasa dan olah batin yang tinggi, manusia dapat sampai ke derajat kedekatan dengan Tuhan yang paripurna. 

Orang yang telah mencapai fase itu, hidupnya akan tenteram dan damai. Oleh karenanya, ketika agama-agama itu datang ke Jawa, maka masyarakat Jawa mudah memeluknya sebab terdapat kesamaan dasar filosofisnya. Agama-agama itu walau beda bentuk ritualnya, namun memiliki kesamaan terkait spirit kebersatuan hamba dengan Penciptanya. 

Misalnya dalam agama Hindu dan Budha, terdapat dogma moksha yang berisi ajaran dan praktik untuk melepas dari ikatan keduniawian yang terselubung nafsu, supaya dapat mencapai tahap kebersatuan hamba dengan Tuhan. Bahkan dalam Islam sendiri, kebersatuan hamba dengan Tuhan dianggap sebagai puncak prestasi seorang Muslim.  

Jika masuk dalam kajian filsafat modern, Kejawen bisa dikatakan sebagai salah satu produk dari filsafat metafisik. Yakni pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal yang kasat mata. Secara turun temurun, orang Jawa mewariskan pandangan bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta ini sesuai dengan tata aturannya. 

Salah satunya seperti doktrin Kejawen tentang kesimbangan alam yang disebut Sastra Jendra. Bahwa kejadian di kosmos ini terbentuk karena hukum sebab akibat yang Tuhan buat. Jika manusia berlaku buruk kepada alam, maka alam akan membalas dengan menghadirkan bencana. Sebaliknya, jika manusia berbuat baik, maka alam itu akan melimpahkan segala kandungan baiknya kepada manusia.

Oleh sebabnya, dalam masyarakat Jawa banyak berkembang keyakinan tentang pelarangan perusakan alam yang sering dibumbui hal-hal mistis. Misalnya jika menebang pohon beringin besar, akan diganggu oleh jin. Atau ketika mendirikan bangunan diatas tempat yang muncul mata airnya, dimitoskan bahwa daerah itu akan dilanda banjir. 

Itu semua tak lain difungsikan agar masyarakat patuh dan tidak merusak alam. Penebangan pohon dan perusakan mata air, secara langsung akan menghancurkan ekosistem alam dan sumber air bersih. Mitos-mitos yang dibubuhkan tersebut, hanya sebagai sarana saja agar masyarakat Jawa dapat menjaga alam.

Hal-hal di atas, secara kolektif lalu menjelma sebagai kesadaran peradaban mengenai hubungan antar manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Kesadaran peradaban ini kemudian mewujud kesadaran untuk saling berintegrasi, terlebih dalam bernegara. Konsep tata tentrem kerta raharja menjadi tujuan utama dari konsep bermasyarakat dan bernegara. Seperti tertuang dalam leksikal. “Memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kaluwarga, memayu hayuning bebyaran, memayu hayuning negara, memayu hayuning bawana.”

Judul Buku : Ilmu Mistik Kejawen

Penulis : Petir Abimanyu

Penerbit : Noktah

Cetakan : Pertama, Agustus 2021

Tebal Buku : 281 Halaman

*) Mahasiswa Jurusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *