Kekayaan


Kekayaan

Falsafah Harian

Ahmad Sahidah: Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid 

Setidaknya, saya menonton film Crazy Rich Asians lebih dari satu kali melalui TransTV. Tema dari kisah ini tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah cinta romantis antara si kaya dan si miskin, yang ditentang oleh salah satu keluarga dari pasangan. Rachel Chu berkunjung ke negara sang  kekasih yang tajir, Nick Young, di Singapura. Di sini, kita bisa melihat betapa kaya keluarga Eleanor, sehingga si ibu tidak menerima kehadiran kekasih sang anak yang dianggap tidak sama status sosialnya. 

Kekayaan yang ditunjukkan dalam sepanjang film adalah rumah megah, mobil mewah, liburan gah dan baju yang wah. Ternyata kemewahan ini tidak menjadikan kehidupan mereka berjalan mulus. Dalam keluarga besar satu satu lain memiliki masalahnya masing-masing. Itu berarti bahwa uang (jika menjadi ukuran kekayaan) tidak bisa membeli semuanya dalam kehidupan. Justru, akhir film ini mengetengahkan bahwa keikhlasan dan ketulusan merupakan karakter yang bisa menjadikan hidup seseorang menemukan makna dan tujuan. 

Berbeda dengan kisah nyata Pak Haji Khalil yang  membagikan Rp 1000 bagi setiap orang yang mengikuti tadarus di masjid di kampung dulu. Bagi kami, duit sebanyak itu pada tahun 1980-an begitu berarti untuk menikmati lebaran, sebab tuan haji memberikan uang itu di malam terakhir Ramadhan. Kebaikan orang tersebut akan senantiasa diingat karena kepeduliannya turut menjaga tradisi dan menyuburkan kedermawanan. Meskipun beliau telah meninggalkan kami, namun namanya senantiasa dikenang dan bahkan dilanjutkan oleh si kaya lain, Haji Busthami, yang juga telah pulang ke rahmatullah. Kekayaan itu berbuah kebaikan untuk sesama.

Tentu, kekayaan yang bisa dilihat secara material mudah dipahami dan juga diimpikan oleh banyak orang. Tetapi, adakah kekayaan itu bisa melahirkan kesejahteraan pemiliknya? Di sini, kita membedakan dua kata dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dalam bahasa kita dengan kekayaan, yakni wealth dan rich. Kata yang pertama digunakan oleh Laura Rowley dalam Money and Happiness (2005) secara lebih luas. Karya ini jauh lebih praktis daripada karangan Georg Simmel, The Philosophy of Money

Rowley mengaitkan kekayaan dengan nilai-nilai. Oleh karena itu, tatkala ditanyakan seberapa Anda kaya, maka senarai pertanyaan yang diajukan adalah sebanyak 43 pertanyaan yang dihubungkan dengan kebutuhan sehari-hari, pendidikan, penghasilan, simpanan pensiunan, hubungan pribadi, emosi, dan partisipasi publik. Dalam melakukan penghitungan kekayaan ini, Rowley membagi  empat bagian, yakni kebutuhan dasar, kesehatan, pendidikan, aset dan liabilitas. 

Dari seluruh pertanyaan di atas, ada satu kunci yang hendak dijawab dari pertanyaan besar filsafat yakni bagaimana kita mempunyai sebuah kehidupan yang tentram (good life). Dari sini, kekayaan bisa dilihat sebagai kunci untuk membuka kehidupan kita yang (bisa) menentramkan. Ternyata, weatlh bukan sekadar terkait dengan benda, tetapi juga makna.  Itulah mengapa pada pilihan ya dan tidak untuk nomor 33 adalah I have meaningful relationships. Betapa uang tidak sepenuhnya bisa membeli pertemanan, sebab tidak jarang orang-orang berduit menjadikan hubungan tidak lebih daripada transaksi. Itulah mengapa Rhoma Irama dalam Sahabat mencela orang-orang yang mau berteman tatkala kawannya berada dan berjarak ketika salah satunya tidak berpunya.  

Pertanyaan lain yang juga sangat relevan adalah my day is filled with meaningful activity. Aktivitas yang dimaksud mendorong seseorang untuk merasa nyaman dan aman. Dengan mengacu pada kegiatan-kegiatan bersama yang meningkatkan level oxytoxin, seseorang bisa sering berkumpul dengan orang dan bersemuka. Salat berjamaah sejatinya memenuhi tuntutan ini karena seorang individu bisa bertemu orang lain di musala. Bila level turun, fungsi sosial seseorang rendah dan merasa cemas. 

Dari pengalaman di atas, ucapan lebih baik kaya hati semestinya dilihat secara jernih bahwa pemenuhan kekayaan menjadi impian manusia terkait erat dengan perilaku yang berdasarkan nilai-nilai. Di sini, kepercayaan individu seharusnya berjalan secara harmonis dengan kehendak komunitas. Setidaknya, dengan relasi yang sehat, individu-individu ini bisa merasakan kaya dengan membawa potluck ke masjid Ali bin Thalib sehingga mereka bisa merayakan maulid (kelahiran) nabi, yang biasanya digelar oleh orang-orang kaya dalam kebiasaan orang Madura. 

Pendek kata, kekayaan terkait dengan human being (manusia yang mengada), bukan human having (manusia yang memiliki). Kepemilikan bisa ditanggung bersama melalui banyak cara dan kaidah. Dengan membiarkan rumah tanpa pagar, sejatinya seseorang memperluas batas dari kepemilikan, karena ia bisa meletakkan rumah menjadi bagian dari jalan dan sawah, sehingga terkesan luas. Jadi, kekayaan bisa dilihat dari perubahan pola berpikir, yang tentu saja tidak mudah dijangkau oleh khalayak bila percakapan di antara manusia tidak dibebaskan dari individualisme, egoisme, dan hedonisme. Dengan nalar, hidup ini jembar (gembira). Ini kekayaan yang sesungguhnya.