Kekeringan Sudah Berlangsung, Proyek Sumur Bor Tak Kunjung Rampung

  • Whatsapp
NASIB: Masayarakat sibuk mengambil air dari bantuan pemerintah di Desa Montorna Kecamatan Pasongsongan, Sumenep.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Jelang berakhirnya masa bencana kekeringan, pembangunan sumur bor untuk mengatasi masalah kekeringan di Sumenep, tidak kunjung rampung.

Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Rakyat dan Masyarakat Permukiman Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Sumenep Benny Irawan menyampaikan, terdapat lima paket proyek pengeboran yang dalam tahap pengerjaan. Namun saat ini masih belum selesai.

Berdasarkan laporan dari konsultan proyek, saat ini masih satu paket yang sesuai dengan rencana dan sudah berjalan.

“Saat ini tinggal empat paket pengeboran,” katanya, Selasa (24/9/2019)

Bahkan, proses pengerjaannya juga dibalik. Kontraktor mengerjakan jaringan distribusi terlebih dahulu, setelah itu, diakhiri dengan proses pengeboran.

Saat ini, dirinya telah menyusun dokumen rencana induk strategi rencana untuk pengeboran. Benny meyakni, proyek pemgobaran akan rampung pada November mendatang. Proyek tersebut dianggarkan sebesar Rp380 juta.

“Anggaran itu sudah dirasa cukup,” paparnya.

Ditambahkan, sumur bor itu nantinya akan dipasrahkan ke desa masing-masing, termasuk perawatan dan penggunaannya. Dinas terkait hanya merencanakan dan mengaggarkan.

Sebelumnya, Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi mengatakan, saat ini pendistribusian air bersih melalui kendaraan tangki, belum menyeluruh. Sebab, masih proses pengajuan kembali ke Pemkab Sumenep. Meski demikian, BPBD berusaha untuk mendistribusikan secara menyeluruh. Saat ini, terdapay 30 desa di 10 kecamatan yang mengalami kekeringan.

“Pemerintah belum mampu bendung semua kebutuhan di setiap desa dan kecamatan tersebut,” tuturnya.

Pengiriman air hingga akhir Agustus lalu, sudah mencapai 200 rit. Dari 30 desa yang terdampak kekeringan, yang sangat kritis dialami 9 desa, antara lain Desa Pasongsongn, Batu Putih, Talango, Saronggi, Rubaru, Besoka, Mandala, Duko dan Desa Karang Nangka.

“Usaha kami tetap utuh sampai nantinya pendiatribusian menyeluruh pada daerah-daerah kekeringan,’ pungkasnya. (imd/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *