Kekurangan Guru ASN, Rektor Unija Minta Pemkab Serius

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) PERLU: Profesionalisme guru dan dosen perlu ditingkatkan salah satunya dengan adanya perekrutan PNS baru.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sumenep sangatlah berkurang. Termasuk di Perguruan Tinggi Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep. Saat ini hanya ada lima ASN.

Rektor Unija Sumenep Sjaifurrachman mengatakan, profesionalisme sangat penting untuk memajukan masa depan bangsa. Seperti di Unija Sumenep sangat kurang untuk meningkatkan profesionalitas dalam bekerja maupun dosen.

Bacaan Lainnya

“Pemerintah perlu melakukan penambahan PNS baru, dengan melakukan tes CPNS lagi,”katanya, Selasa (25/01/2020)

Dia mengatakan, dalam kontek Sumenep, jumlah guru PNS masih terbilang jauh dari harapan, termasuk jumlah dosen ASN di Unija. Dijelaskannya, jika saat masih ada 156 dosen tetap dan yang PNS atau PDK hanya ada 5. Jadi, penambahan PNS perlu ditingkatkan. “Penambahan PNS memang sangat penting,”ucapnya.

Plt Kepala Seksi Pendidikan dan Madrasah (Pendma) Kemenag Zainurrosi mengatakan, guru sangat berharga untuk generasi masa depan. Oleh karena itu, harus diperjuangkan untuk menjadi PNS agar kesejahteraan terjamin.

Ditambahkan, kekurangan guru PNS saat ini harus menjadi perhatian bersama. Bahkan dalam data kemenag ada 446 guru yang berstatus PNS. Rinciannya, guru/kepala sekolah RA, MIN dan sederajat sebanyak 267, guru/kepala MTs negeri/MTs swasta, sebanyak 122, dan sebanyak 57 khusus guru/kepala MAN/MAS. “Jumlah guru sebanyak 19.882. Jadi, sangat sedikit yang berstatus sebagai ASN,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Forum Honorer Kategori 2 (FHK2) Sumenep Abd. Wahed mengatakan, sangat kecewa atas aturan Mendagri. Sebab, yang jelas saat ini kesempatan guru honorer sangatlah sempit sekali untuk berpeluang menjadi PNS. Maka, jika ada penundaan pengangkatan atau tes seleksi CPNS khusus guru maka berdampak besar.

“Secara tidak langsung kami tidak dihargai oleh pemerintah,” tegasnya.

Dia menjelaskan, dirinya senantiasa menunggu perekrutan PNS. Sebab, selama ini honorer K2 sudah mengabdi dalam beberapa tahun, minimalnya ada yang mengabdi sampai 15 tahun. Bahkan, ada pula yang 30 tahun.

Jumlah honorer K2 sebanyak 770 tidak kunjung direkrut menjadi PNS. Dia menilai, pemerintah abai terhadap guru yang mengabdi selama bertahun-tahun.

“Kami ingin ada keseriusan pemerintah dalam memperhatikan nasib kami,” pungkasnya. (imd/mam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *