oleh

Keluarganya Kurang Dilayani, Legislator Protes RS Syamrabu Bangkalan

Kabarmadura.id/Bangkalan-Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syarifah Rambani Ratu Ebuh (Syamrabu) Bangkalan kembali dikeluhkan oleh pasiennya. Keluhan tersebut datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Abd Aziz. Salah satu keluarganya sempat berobat ke rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan tersebut.

Menurutnya, salah satu keluarganya yang dirawat di RS tersebut tidak kunjung ditangani. Padahal menurutnya, keluarganya yang masuk rumah sakit tersebut sudah meronta-ronta kesakitan. Azis mengatakan, bahwa sebaiknya petugas rawat di RSUD Bangkalan agar mengikuti pelatihan attitude (sikap) dan etika profesi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Kasihan para pasien dan keluarga yang berobat. Yang semestinya diberi motivasi dan pelayanan terbaik dengan kondisi nyaman. Eh, malah disuguhi sikap yang tidak ramah. Semoga ke depan pelayanan di RSUD Bangkalan lebih baik,” katanya.

Sementara itu, dari pihak RSUD sendiri yakni Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan Nunuk Kristani mengungkapkan, pelayanan di rumah sakitnya tersebut sudah sesuai dengan prosedur. Mengenai adanya keluhan tersebut, dirinya mengatakan, bahwa saat kejadian pihak RSUD memang belum bisa memberikan tindakan kepada pasien.

Pasalnya, dirinya menuturkan, tindakan bisa dilakukan setelah diagnosa dari ultrasonografi (USG) mengenai penyakit salah satu anggota keluarga legislatif tersebut. Nunuk juga menerangkan, pihaknya tidak ingin gegabah untuk melakukan tindakan kepada pasien meski sudah ada diagnosa dari rumah sakit sebelum pasien dibawa ke RSUD. Sebab, saat dibawa ke RSUD pasien tidak dilengkapi dengan hasil USG.

“Sebetulnya kita sudah memberikan tindakan sesuai dengan prosedur dan saat itu juga sedang banyak pasien. Ya karena pasiennya ini kan agak spesial saja,” katanya, Minggu (5/1).

Masih menurut Nunuk, semua pasien harus antri terlebih dahulu. Namun, dirinya mengaku, bahwa antrian tersebut juga sebentar tidak lama. Kalaupun lama, menurut Nunuk, ada tahapan prosedur yang harus dilewati. “Seperti dari hasil USG tersebut juga harus ada hasil dari Lab. Jadi ada tahapannya, tidak langsung diberikan tindakan,” ungkapnya.

Nunuk juga beralasan bahwa penyakit yang diderita pasien ini terbilang penyakit yang sedikit berbahaya. Sehingga, pihaknya harus benar-benar tepat melakukan tindakan dan diagnosa. Hal tersebut juga dikeranakan RSUD yang masih menyandang status RS bertipe B atau pendidikan. Dimana banyak pasien rujukan dari rumah sakit lain.

“Hanya proses menunggunya saja yang dipermasalahkan, karena penyakit pasien ini tidak bisa langsung ditangani dan diagnosa harus ada tahapan seperti hasil USG, Lab dan konsultasi ke dokter spesialis. Harus tepat penanganannya, tidak sembarangan,” tukasnya. (ina/pai)

Komentar

News Feed