Keluh Kesah Sopir Bus AKAZ Saat Pandemi Covid-19

  • Whatsapp

KABARMADURA.ID – Pandemi Covid-19 bukan sekedar horor bagi kesehatan jasmani. Akan tetapi, juga berdampak bagi pendapatan ekonomi seluruh masyarakat. Baik bagi para pengusaha, seperti penjual gorengan pinggir jalan, hingga para sopir bus.

MOH. ROYCHAN FAJAR, Sumenep

Bacaan Lainnya

Perjuangan seorang supir bus untuk menafkahi anak dan istri di rumah sungguh luar biasa. Apalagi, saat pandemi Covid-19 saat ini. Tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatan. Hal inilah yang dialami, Didik Atim (40) warga Banyuwangi seorang sopir bus AKAZ antar terminal Madura-Banyuwangi.

Menurutnya, selama masa pandemi pendapatannya menurun drastis. Terutama mengenai jumlah penumpang yang mengalami anjlok dibandingkan sebelum pandemi. Jumlah penumpang sebelum pandemi mencapai 50 hingga 70 orang penumpang. Namun, saat ini jumlah penumpang hanya kisaran 20 hingga 30 penumpang dari arah Madura-banyuwangi atau sebaliknya.

“Adanya pandemi Covid-19 ini benar-benar saya rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan ini merupakan satu-satunya untuk mengais rezeki untuk anak dan istri di rumah,” ujarnya, Selasa (6/4/2021).

Dia menuturkan, gaji seorang sopir bus tidak banyak. Ia harus mengemudi selama 12 jam setiap hari, dengan pendapatan 10 persen dari jumlah keseluruhan ongkos dari penumpang. Sedangkan selama pandemi ongkos yang hanya diperoleh dari seluruh penumpang sekitar Rp700 ribu.

“Kalau 10 persen hanya Rp70 ribu untuk saya. Beda sebelum pandemi, keseluruhan ongkos yang saya terima kadang diatas Rp2 juta,” tuturnya.

Disinggung mengenai tempat beristirahat dan tenggang waktu untuk pulang ke rumah, pihaknya mengaku tidur di kendaraan. Bahkan, untuk bertemu dengan anak dan istri harus menunggu selama dua bulan lamanya. “Tidak mungkin pulang setiap minggu mas. Apalagi pendapatan saat ini cukup sulit,” ucapnya.

Kondisi terpuruk atas pendapatannya, tidak membuat pria dengan dua anak ini hilang semangat dan putus asa dalam menekuni profesinya. Kini, Didi dengan sipor bus  lainnya benar-benar diuji ketabahannya. Selain pandemi, terbitnya aturan larangan mudik tahun 2021 ini juga menjadi cobaan besar bagi dirinya.

“Rezeki memang gak netep, jadi ya ikhlas saja berapapun yang saya hasilkan itu sudah pemberian dari Allah. Nah, itu memang yang saya khawatirkan,” ungkapnya saat dimintai tanggapan soal larangan mudik tahun 2021 ini.

Menurut Didik, arus mudik ramadan terutama menjelang dan pasca lebaran merupakan pendapatan terbesar bagi para sopir bus. Sebab, pada saat itu penumpang biasanya membludak dan moment seperti itu memang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang yang berprofesi sebagai sopir bus.

“Mudah-mudahan gak sampek ditutup lagi. Itu harapan kami. Kami tidak digaji bulanan, Kalau gak kerja yang gak dapet uang,” tukasnya. (*/ito)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *