oleh

Kembali Ada yang Terinfeksi Covid-19, PTM se-Kecamatan Dilumpuhkan

Kabarmadura.id/SUMENEP-Akibat enam desa diisolasi, uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di Kecamatan Saronggi kembali dihentikan. Tidak hanya sektor pendidikan. Seluruh aktivitas sehari-hari juga dikendalikan penuh. Kecamatan yang tidak jauh dari Kota Sumenep itu, kini kembali masuk zona merah.

“Sudah tidak diizinkan kembali untuk beraktivitas secara tatap muka, secara tertulis masih belum diedarkan, tapi melalui pesan langsung sudah disampaikan ke setiap sekolah agar berubah kembali pada model PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh),” ungkap Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep Abd Kadir.

Seluruh sekolah di bawah naungan Disdik Sumenep, SMP atau SD swasta maupun negeri di Saronggi, mulai Senin (21/9/2020) akan diimbau secara resmi agar melaksanakan kembali pelajaran jarak jauh (PJJ) selama 14 hari.

Menurutnya, kegiatan sekolah merupakan aktivitas paling rawan untuk diserang penularan Covid-19, terlebih SD yang memang sarana dan prasarananya terbilang kurang siap. Tetapi pihaknya mengaku siap memperketat pengawasan bagi sekolah yang terpaksa melanggar.

“Besok akan dibuatkan surat edaran resmi dari Dinas Pendidikan, sementara untuk pengawasan, pengawas kecamatan akan keliling untuk memastikan semua lembaga tidak ada PTM. Jika ketahuan ada PTM, akan dibubarkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Pendidikan (Kacabdin) Sumenep Syamsul Arifin lebih tegas lagi. Tidak hanya sekolah luar biasa (SLB) di Kecamatan Saronggi yang direkomendasikan kembali melaksanakan PJJ, namun semua sekolah di Saronggi.

“Kkami imbau agar kembali ke sistem PJJ, termasuk guru, TU dan tenaga pendidik lain yang berasal dari Kecamatan Saronggi juga tidak diizinkan PTM, seperti SLB tadi,” paparnya.

Diketahui, enam desa di Saronggi masuk wilayah rawan penularan Covid-19. Kini, penjagaan di wilayah itu diperketat. Desa itu antara lain Sarokah, Kebun Dadap Barat, Kebun Dadap Timur, Tanjung dan Pagar Batu. Semuanya di Kecamatan Saronggi.

Penjagaan itu mulai diterapkan Senin (21/09/2020). Sebab, ditemukan ada pasien Covid-19 yang meninggal dunia di enam desa tersebut. Selama 20 hari terakhir, terhitung sejak 29 Agustus hingga 17 September 2020, tercatat ada 6 pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Pengetatan dilakukan dengan menutup akses masuk Desa Saroka hingga perbatasan desa Pagar Batu. Titik penutupan tepat di pertigaan masuk Desa Saroka. Jalur tersebut ke timur hingga memutar ke selatan menuju Desa Pagar Batu yang juga perbatasan Kecamatan Saronggi.

Di perbatasan Desa Pagar Batu dengan Desa Lobuk Kecamatan Bluto di sebelah barat juga ditutup.

“Ya di sana diterapkan akan diterapkan pembatasan sosial berskala kecil, bukan berskala besar. Sebab, hanya khusus di 6 desa tersebut,” katanya, Minggu (20/9/2020).

Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumenep Ferdiansyah Tetrajaya mengatakan, bagi ASN dari wilayah tersebut, diharuskan kerja di rumah dan masyarakat juga tetap di rumah.

Ditegaskan, penerapan tersebut bukan di seluruh Kecamatan Saronggi, tetapi hanya jalur yang masuk 6 desa itu.

“Pembatasan sosial berskala kecil benar benar akan diterapkan,” paparnya.

Penerapan tersebut didasari hasil rapat di Kecamatan Saronggi pada Sabtu (19/9/2020) bersama masing-masing kepala desa, camat Saronggi, bupati, sekkab, dandim, kapolres, dinas kesehatan, dishub serta para ulama.

Dia berharap, upaya telah dilakukan dapat memulihkan kondisi 6 desa itu. Sehingga, dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.

“Banyak upaya yang sudah dilakukan Pemkab Sumenep, termasuk memaksimalkan kampung tangguh,” tutur dia. (ara/imd/waw)

Komentar

News Feed