Kemiskinan Meningkat, Dinsos Sumenep: Merantaulah!

  • Whatsapp
KESEJAHTERAN: Di Kota Keris ini masih banyak kehidupan yang tergolongkurang layak.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep mengakui tingkat kemiskinan di kota paling timur Madura di tahun ini meningkat.Atas solusi agar masyarakat bisa keluar dari zona kurang mampu itu, pihaknya belum bisa berbuat banyak.

Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Fakir Miskin Moh Zainimenegaskan,untuk angka kemiskinan yang melanda masyarakat Sumenep merupakan masalah yang membutuhkan waktu yang panjang.Itu jika masyarakat sendiri hanya bergantung ke pemerintah.

“Mereka itu kalau mau mencari pekerjaan ya memang sulit. Makanya gunakanlah kreativitas.Buatlah pekerjaan sendiri, yang penting hasilnya cukup membiayai dirinya, jangan melulu bergantung ke pemerintah. Kreativitasdapatmengurangikemiskinan,” katanya, Kamis, (22/8).

Zaini juga mengapresiasi masyarakat yang berani kelur dari zona nyaman, yaitu semisal memilih untuk bekerja di luar (merantau). Sebab, hal itu merupakan sebuah keharusan jika sudah tidak mempunyai keahlian atus kreativitas tingi.

Untuk menjalani kehidupan, ia melanjutkan, memang tidak akan lepas dari proses yang sangat rumit, termasuk semua tokoh yang hidupnya sekarang itu kelihatannya sukses, tidak akan pernah melalui tanpa badai serta persoalan lain dalam hidupnya.

“Mereka yang sukses itu memang bermula dari kerja keras. Bukan hanya diam menunggu belas kasih. Kalau memang sudah mandek, yamerantau saja ke luar negeri misalnya,” imbuhnya.

Pilihan untuk merantau, tambahnya, bukanlah sebuah aib. Tetapi,jika sudah berusia di atas 20 tahun, tidak menlanjutkan sekolah dan tidak bekerja, itulah aib yang sebenarnya.

Menurutnya, berbagai program yang ditawarkan pemerintah itu sifatnya hanya bantuan yang berjenjang.Itupun hanya cukup untuk lepas dari cekik kelaparan. Artinya,tidak dapat dijadikan sebuah modal yang bisa dinikmati jangka panjang.

Untuk keluar dari kemiskinan, tegasnya, tidak ada alternatif lain selain bergerak aktif dalam beraktivitas dan cerdas dalam membangun jaringan. Tetapi pikiran berharap kepada orang lain itu jangan dilestarikan.

“Bantuan dari pemerintah mayoritas berbentuk sembako, dan itu hanya cukup dimakan saja,” pungkasnya. (ara/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *