oleh

Keniscayaan Pendidikan Afeksi Pada Pembelajaran Daring dan Luring

Oleh: Ridwan

 

Pandemi covid membawa perubahan yang sangat nyata. Evolusi sosial terjadi tanpa didahului oleh perang dan kekurangan makanan. Budaya baru yang muncul bukan karena dipaksa dan direkayasa, tapi berjalan secara instan untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Masyarakat yang memiliki mobitas sosial ,disuruh  berhenti sejenak untuk melakukan instrospeksi diri. Hal itu dilakukan agar mobilitas sosial berikutnya  dapat diantipasi khususnya untuk diri pribadi dan keluarga

Dunia pendidikan juga terkena dampaknya, ulasan di media sosial, daring maupun luring sudah dibahas tuntas. Ada yang rasional, emosional dan apatis, bahkan sampai perdebatan pada satu skenario besar tentang konspirasi akibat pertarungan global dalam mempertahankan hegemoni.

Acakadut lalu lintas media sosial mendapat tanggapan masyarakat juga sangat beragam, ada percaya, ragu, tidak percaya bahkan bersifat acuh tak acuh dengan berbagai alasan dan argumentasi yang dilontarkan. Ternyata wabah ini menjadi seksi dan diperbincangkan dengan tidak mengenal status sosial.

Sebentar lagi sekolah masuki tahun ajaran baru dengan kegiatan yang baru juga, Kegiatan pembelajaran akan berlangsung dari kegiatan konvensional menjadi kegiatan yang berbasis teknologi. Zona merah dan yang sederajat tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Pembelajaran daring adalah menjadi pilihan di samping juga menggunakan pembelajaran luring. Pilihan tersebut bukan sebuah paksaan tapi kewajiban yang harus dijalankan.

Namun pertanyaannya sekarang, apakah pembelajaran daring dan luring akan menyebabkan siswa belajar secara utuh?. Nah di sini otak kita diperas agar keutuhan belajar tersebut tetap terjadi. Semua sudah mafhum, bahwa siswa belajar tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampialn ansich, akan tetapi tujuan utama adalah dimilikinya nilai-nilai  afeksi yang menyatu di hati dan otak siswa sehingga menjelma menjadi sebuah perilaku yang sesuai dengan fitrah manusia, dan juga tidak menjadi paradok dengan berbagai macam  norma yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Padahal pakar pendidikan selalu mengatakan, bahw teknologi hanyalah alat yang dapat membantu proses agar kegiatan lebih mudah dan fleksibel, sementara peran guru selain mengajar, juga mendidik. Mendidik itulah yang tidak dapat di wakili oleh alat secanggih apapun.

Pertarungan gagasan selalu muncul antara dua kutub: Kutub pertama mengatakan bahwa teknologi informasi adalah satu keniscayaan dan tidak berpengaruh nyata terhadap perilaku anak. Mereka bisanya membuat analogi dengan kemudaha mengakses informasi dengan segudang aktifitas sosial, misalnya referensi, artikel ilmiah, artikel opini, filantropi, aplikasi donasi, jejaring derma dan lain sebagainya. Pada Kutub yang lain selalu mengatakan bahwa teknologi informasi selalu melahirkan anonimasi yang menyebabkan adanya disfungsi sosial karena orang dan kegiatannya tidak terlihat. Sistem sosial kehikangan harmoni dan selalu berada dalam relasi konflik. Efeknya, ekuilibrasi tidak seimbang yang memunculkan disekuilibrium, disorder, disorganisasi dan beberapa perubahan sosial lainnya. Tatanan sosial yang mestinya seimbang antara unsur fungsional dan disfungsional lebih mengarah pada disfungsinya tatanan sosial yang melahirkan relasi konflik.

Pembelajaran daring dan luring yang dilaksanakan dalam masa pandemi Covid 19 ini ditakutkan juga akan melahirkan disfungsi sosial karena interakasi antara guru dan siswa hanya berlangsung melalui teknologi. Diskusi yang terjadi hanya berupa materi pelajaran yang kadang hanya bersifat tugas membaca dan mengerjakan soal. Sementara penanaman perilaku tidak mendapat perhatian, padahal esensi pembelajaran yang mestinya menguatkan nilai-nilai afeksi sebagai dasar utama tergerus oleh renggangnya interaksi antara guru dan siswa serta komunitas pendidik yang lain.

Memang tidak ada jaminan bahwa belajar tatap muka akan melahirkan  siswa dengan afeksi yang baik, tapi paling tidak perilaku kurang baik pada diri siswa ketika pembelajaran tatap  muka akan langsung diberikan atensi sesuai dengan kadarnya. Tulisan ini tidak dalam rangka menolak munculnya teknologi dalam kegiatan pembelajaran, tapi dengan teknologi tidak mematikan relasi sosial serta fungsi kearifan dan kesepakatan baik yang berlaku di masyakat menjadi berkurang dan bahkan hilang sama sekali.

Dalam pembelajaran daring dan luring harus ada standar materi yang selalu dikaitkan dengan pembelajaran afeksi, materi tersebut tidak berbentuk narasi atau deskripsi catatan apabila tugas menitikberatkan pada penyelesaian soal. Tapi yang lebih tepat dengan media pembelajaran inspiratif yang di share lewat aplikasi yang digunakan.

Di samping itu ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian guru agar nilai afeksi menjadi bagian penting dalam kegiatan pembelajaran daring dan luring diantaranya; Pertama , Pembelajaran yang berkaitan dengan afeksi disuguhkan video, misalnya konflik sosial, gemar membaca dan semangat belajar dengan segala kesuksesannya, cinta tanah air, biografi tokoh terkenal, aktifis lingkungan, para filantropi, hal ini memiliki tujuan agar anak dapat belajar tentang hal positif dan negative dari tayangan tersebut. Kedua, Siswa diberi tugas membuat poster yang berkaitan dengan pendidikan afeksi. Anak akan berfikir poster terbaik apa yang akan dibuat dan memberi kesan nilai afeksi yang dimunculkan dapat dilakukan oleh orang masyarakat.

Ketiga, memberikan tugas kepada siswa agar mengikuti kegiatan sosial dan di dalamnya diberlakukan protokol covid yang ketat, outputnya siswa disuruh membuat laporan tentang nilai afeksi yang positif dan negatif serta bagaimana pengembangan dan solusinya. Keempat, Siswa disuruh membentuk kelompok kecil dan melakukan kegiatan positif di masyarakat yang tidak menyalahi protokol covid, ouput-nya membuat laporan yang dilengkapi dengan foto kegiatan.

Sekali lagi tugas tersebut terintegrasi dalam materi pembelajaran, tidak membuat tugas baru di luar materi. Harapannya dengan beberapa tugas yang terintegrasi dengan materi pelajaran siswa dikenalkan pada berbagai macam kegiatan positif dengan tujuan nilai-nilai perilaku baik yang terkandung di dalamnya terinternalisasi menjadi bagian perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari

Erich fromm  mengatakan bahwa sekarang muncul hantu baru: masyarakat yang dimesinkan secara total, dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, dan diarahkan oleh komputer-komputer. Manusia dalam proses sosial semacam ini  menjadi bagian mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup tetapi pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan. Dengan kemenangan masyarakat baru,  individualisme dan kebebasan menjadi tenggelam. Perasaan-perasaan dalam hubungan dengan orang diatur oleh alat-alat yang mengkondisikan psikologis dan obat-obat bius, penipuan-penipuan lain dianggap memberi bentuk pengalaman introspekstif baru. Semoga hal tersebut tidak terjadi pada siswa kita di tengah masive-nya penggunaan teknologi informasi. Salam.

 

Penulis Ketua LPMI  Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

 

 

 

Komentar

News Feed