oleh

Kepala BPBD Pamekasan Ngotot Pengadaan Tandon Sesuai RAB

KABARMADURA.ID, Pamekasan  – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Akmalul Firdaus menjelaskan, proses pengadaan tendon dilakukan dengan pendataan terlebih dahulu. Utamanya, kepada setiap penerima yang akan memanfaatkan tendon tersebut. Data itu diperoleh dari bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) dan dianggarkan dalam dana refocusing.

Menurutnya, karena wabah Covid-19 merupakan bencana non alam yang sifatnya insidentil dan harus segera ditangani, maka pihaknya langsung menunjuk 12 CV dalam pengadaannya. Namun tetap melakukan survey kelayakan harga, dan sejumlah kesepakatan dengan CV terkait termasuk tentang kesediaan mengembalikan jika di kemudian hari ditemukan kerugian negara.

Selain itu, pihaknya tidak hanya membutuhkan produksi tendon, tempat cuci, melainkan juga untuk mendistribusikannya ke ribuan tempat. Sehingga menunjuk belasan CV, untuk menyalurkan ribuan tandon yang sudah selesai. “Tidak mungkin satu CV bekerja sekian ribu dengan menyebarkannya sampai ke lokasi-lokasi tertentu,” bantahnya, Minggu (25/10/2020).

Bahkan Akmalul Firdaus mengaku telah meminta pihak Inspektorat untuk melakukan audit pada bulan Agustus lalu. Hal itu dilakukannya agar transparansi anggaran jelas dan diketahui jika ada kejanggalan dalam pengadaannya. Menurutnya, biaya setiap satu set tandon tempat cuci tangan yaitu Rp2,9 juta.

Jumlah itu masih dipotong pajak sebesar Rp300 ribu. Sehingga biayanya Rp2,6 juta. Meski mengetahui sejumlah sampel tandon tempat cuci tangan di instansi lain biayanya tidak lebih dari Rp1,6 juta, dengan biaya sebesar itu miliknya jauh lebih kokoh. Sedangkan tandon dan tempat cuci tangan dengan harga Rp1,6 juta lebih keropos.

Dia mengatakan, pengadaan itu sudah sesuai dengan  rencana anggaran biaya (RAB) dan dikonsultasikan dengan instansi terkait. Menurutnya, selisih tandon buatannya tidak seberapa dibandingkan dengan tendon buatan instansi lain yang Rp1,6 juta. “Silahkan disurvey kualitasnya, kelengkapannya juga apa saja. Punya kami lebih kokoh,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Kajian Mahasiswa Pemuda Pamekasan (FKMPP) Umar Faruk mengaku akan melaporkan segala kejanggalan tersebut hari ini (Senin red) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan. Menurutnya, uang negara dan uang rakyat harus diperjuangkan.

Bahkan pihaknya mengaku memiliki sejumlah bukti pendukung yang bisa menguatkan dugaan tindak pidana korupsi mengenai pengadaan tendon tersebut. Kejanggalan itu, tidak wajar, karena satu set tendon tempat cuci, harganya tidak lebih dari Rp1,6 juta.

Sehingga jika biayanya disebutkan sebesar Rp2,9 juta maka ada sekitar Rp2 miliar lebih uang negara yang tidak diketahui larinya ke mana dan perlu dipertanggung jawabkan. “Besok kami akan ke Kejari bukti-bukti sudah kami kantongi,”ancamnya. (ali/ito)

 

 

Komentar

News Feed