oleh

Kepala Desa Abadi

Mendekati pemilihan calon kepala desa, masyarakat Puritan ramai membicarakan tiga calon kepala desa siapa kira-kira yang pantas untuk dipilih di antara mereka. Satu diantara mereka Marhadi adalah yang menjabat kepala desa tahun sebelumnya dan priode ini kembali ia mencalonkan lagi. Karim adalah masyarakat biasa yang kesehariannya banyak ia habiskan di sawah. Satunya lagi Sukri, satu-satunya calon kepala desa yang pernah mengenyam pendidikan hingga selesai S2.

Masrakat di ambang bingung untuk menentukan pilihannya. Si Marhadi selama periode ini mendapat kecocokan di masyarakat, beras satu karung rutin setiap bulan diberikannya kepada setiap rumah. Hanya saja banyak jalan di desa ini yang rusak parah dan belum diperbaiki. Entah apakah memang tidak ada biaya anggaran atau karena belum sempat atau alasan yang lain.

Karim dimata masyarakat juga baik, apalagi dia yang petani tentunya banyak merasakan asam kecut jatuh bangun sebagai petani, bekerja keras namun harga panen selanjutnya ditentukan oleh pasar yang sangat tidak berpihak terhadap petani. Pribadi Karim adalah sosok yang sangat ramah terhadap siapa saja, hebatnya lagi dia suka membantu dan enggan menerima imbalan sedikitpun dari orang yang dibantunya sekalipun dipaksa.

Sedangkan Sukri apalagi. Dia yang sudah mengenyam pendidikan tinggi tentu sudah banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luas untuk menjadi pemimpin desa ini jika ia benar terpilih. Sungguh masyarakat bingung untuk memilih siapa calon kepala desa berikutnya.

Bukan berarti diantara tiga orang itu sama sekali tidak punya kekurangan, masyarakat sudah tahu dan ramai membicarakan kekurangan itu. Ini pula sebenarnya yang menjadi pertimbangan mereka untuk tidak hanya melihat dan kagum atas kelebihannya, kekurangan mereka lebih-lebih juga menjadi pertimbangan.

Marhadi sebenarnya adalah seorang bajingan, seantero desa siapa yang tidak tahu dia. Bahkan di desa tetangga pun namanya tidak asing lagi. Kalau ada sesuatu yang hilang entah itu uang, sapi, ayam, atau buah kelapa di pohonnya pasti yang disangka pertama oleh masyarakat adalah nama Marhadi atau jika tidak salah satu dari empat rekannya.

Kabarnya pada priode sebelumnya masyarakat sebenarnya terpaksa memilihnya, dua bulan menjelang pemilihan banyak warga yang kemalingan. Yang disangkanya siapa lagi kalau bukan gengnya Marhadi itu. Hanya saja warga tidak punya bukti kuat untuk menyangkanya atau mempermasalahkan ke polsek. Memang geng itu tidak sembarangan, kalau sudah beraksi jarang orang mengetahuinya.

Kemudian dengan kesepakatan bersama tahun itu masyarakat memutuskan untuk ramai-ramai memenangkan pihak Marhadi. ‘Jika benar Marhadi menang sebagai kepala desa maka kebiasaan ini pelan-pelan akan ditinggalkannya” kata Pathor salah seorang tokoh paling berpengaruh di desa ini. Sebab pada bula-bulan sebelumnya maling tidak semassif sekarang.

Karim yang petani bukan berarti tidak punya kekurangan, dia yang rumahnya reyot seperti itu dan hartanya pas-pasan masak ia cocok jadi kepala desa. Paling-paling kalau benar terpilih selanjutnya akan korupsi uang yang harusnya diberikan kepada rakyat.

Sedangkan Sukri beda lagi, sekalipun pendidikannya sampai S2 dan punya pengalaman lebih, di desa Puritan ini sama sekali dia tidak punya pengetahuan. Dia yang jarang keluar rumah atau jarang sekali untuk sekedar main ke tetangga terdekat. Memang dia banyak membaca buku dan prestasinya segudang, tapi yang dikhawatirkan masyarakat itu semua tidak ada gunanya kalau kebiasannya adalah mengurung diri.

***

Tiga bulan lagi tepat awal Januari pemilihan kepala desa akan diselenggarakan. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Mulai dari surat suara, para satpam yang gagah untuk mengawal berjalannya pemilihan dan tetek bengek lainnya. Kampanye masing-masing calon sudah berjalan dan jatah masing-masing adalah dua bulan.

Biasa mereka mengunjungi tiap rumah warga bicara empat mata. Hanya Karim yang tidak memberikan apa-apa sebab memang dia tidak punya apa-apa. Janjinya jika terpilih dia akan mengerahkan seluruh jiwa dan raga demi kesejahteraan warga Langgar dan akan memperbaiki jalan yang rusak sesegera mungkin setelah terpilih. Beras yang biasanya 5 KG setiap bulan untuk setiap rumah akan ditambah menjadi dua kalilipat.

Beda lagi model kampanyenya Sukri. Selain menyampaikan janji-janji manisnya untuk pembangunan desa, dia juga mengasih kaos bergambar dirinya dan bertuliskan ‘jek kaloppaeh, Sukri benni se laen’[1] dengan gaya berfotonya berdiri sambil mengepalkan yang kanan sembari tersenyum. Dia juga memberikan Mie Sedap untuk masing-masing yang punya hak pilih.

Strategi Marhalah lebih seram lagi, pada masing-masing yang punya hak pilih dia mengasihnya uang yang untuk ukuran warga Pakes tidak sedikit, cukup lah untuk kebutuhan sembako. Dia juga menyetak baleho besar kemudian diletakkannya di jalan umum. Foto khas dengan kumis model Sakera. Sebelahnya tertulis kalimat ‘menuju desa sejahtera tempat tinggal kita bersama, coblos songotna.

Beberapa kali Marhalah menyampaikan pesan seram melalui kebiasaannya. Sudah tiga ekor sapi hilang dan dua blendungan[2] ia bakar. Masyarakat meyakini bahwa yang melakukannya tidak lain adalah si dia.

Semakin hari kampanye di antara tiga orang calon itu semakin memanas, saling mengagungkan dirinya dan janji manis yang tidak ada ujungnya. Marhalah yang cepat naik pitam jika diremehkan oleh calon yang lain  maka tidak lama dari itu akan ada sebuah kejadian yang dia lakukan lima tahun yang lalu. Mencuri sapi milik masyarakat atau ayam, atau bahkan sepeda motor dan lainnya. Intinya Marhalah akan membuat keresahan di desa ini sekaligus sebagai pesan bahwa dirinyalah yang harus mendapat suara jika ingin aman lima tahun kedepan.

Pemilihan kepala desa Puritan tinggal seminggu lagi. Dan masyarakat samapai sekarang pun belum punya pandangan untuk menjatuhkan hak suaranya terhadap siapa. Sedangkan kampanye sudah tidak dibolehkan lagi sejak minggu lalu. Beberapa masyarakat memang sudah punya catatan diantara tiga calon itu. Berdasarkan kesepakatan mereka siapapun masing-masing yang punya hak suara janagn sampai bilang pada yang lain, cukup diri sendiri yang tahu dan ditaruh dalam hati. Khawatir jika misalnya bilang terhadap yang lain akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

***

Sebagaimana prediksi sebelumnya, bagi Marhadi dan timnya bahwa dialah yang akan memperoleh suara banyak. Jika dibandingkan dengan dua calon lainnya memang benar, usaha Marhadi luar biasa dan dana yang dihabiskannya tidak sedikit. Dan ini benar, setelah proses pemilihan dan hitungan suara bahwa Marhadi memang yang memperoleh suara paling banyak. Bahkan dua calon yang lain suara yang diperolehnya tidak lebih dari sekitar tiga ratusan, padahal jumlah masyarakat Pakes adalah tiga ribu orang. Marhadi benar-benar merasa puas, jerih payah dan dana yang dihabiskannya untuk kampanye tidak sia-sia akhirny menuai hasil seperti yang didambakannya.

Sedangkan Karim menerima apa adanya, dia sadar bahwa dia yang tidak punya apa-apa tidak mungkin akan memeperoleh suara banyak. Paling yang memilihnya adalah kerabat dan sahabat dekatnya sendiri yang mendukung untuk maju mencalonkan kepala desa.

Sukri yang sudah menghabiskan banyak biaya pada kampanye sungguh tidak menyangka kenyataan ini, dia yang meminjam uang ratusan juta di bank untuk kampanye bagaimana mungkin bisa memperoleh sedikit suara. Padahal rencana meminjam uang yang banyak itu akan segera ia lunasi tiga bulan setelah pemilihan jika ia menang. Tapi fakta tidak benar-benar bisa direncanakan.

Satu bulan berlalu belum sedikit pun dari hutangnya dia bayar, sejak kesepakatannya berarti dia memiliki sisa waktu dua bulan lagi.

Dia tidaklah Sukri yang dulu lagi. Malam ke malam dia ronda dari satu rumah ke rumah yang lain mencari mangsa untuk bisa melunasi hutang di bank. Dua bulan adalah waktu yang sebentar. Tepat pada masa akhir perjanjian dengan bank itu akhirnya oleh pihak bank perjanjiannya dijadikan kasus yang kemudian berujung bahwa Sukri harus mendekam selama 10 tahun dibalik jeruji besi sebab dia tidak bisa membayar hutangnya. Dia tidak bisa berbuat apa lagi.

Sekalipun kalah, Sukri tetap berambisi untuk bisa menjabat sebagai kepala desa, sama sekali tidak menyerah. Katanya dia akan mencalokan lagi priode pemilihan berikutnya, dan selama kampanye dia akan melakukan persis seperti yang dilakukan Marhalah bahkan lebih kejam lagi. Biar masyarakat tidak merendahkannya dan ia mendapat suara unggul melalui cara seperti ini. Tetapi sungguh sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Tepat sehari sebelum berakhirnya masa tahanan, nyawa Sukri tidak dapat tertolong lagi akibat penyakit yang dideritanya sejak dua bulan yang lalu.

Warits, kelahiran Talaga Timur Ganding Sumenep. Alumni PP. Darul Ulum Banyuanyar. Mahasiswa Sosiologi Agama Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan kader FKMSB Wilayah Yogyakarta.

[1] Jangan lupa, pilih Sukri bukan yang lain.

[2] Semacam bilik yang biasanya oleh orang Madura digunakan sebagai simpanan persediaan kayu bakar atau untuk santapan sapi

Komentar

News Feed