oleh

Kepemimpinan Berbasis Kesadaran

Sekarang begitu banyak kita jumpai pemimpin yang tidak amanah. Buktinya kasus korupsi masih menjadi pekerjaan rumah bangsa kita. Sering kali kita mendapatkan informasi terkait pejabat publik yang sedang melakukan aksi sogok menyogok. Janji untuk mensejahterakan rakyat hanya manis di bibir. Sebagian justru lalai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabanya sebagai pelayan masyarakat. Kebohongan demi kebohongan sering di lakukan demi memenuhi hasrat politik. Tak heran ketika berkuasa, mereka menjadi predator ganas yang merampok uang negara. Tidak peduli bagaimana dengan keadaan nasib rakyat di bawah. Pemimpin semacam itu bukan pemimpin sejati. Jusru mereka adalah gerembolan penipu yang berdasi.

Sebagian mereka yang terjerat kasus korupsi kadang bersikap seolah-olah tidak bersalah. Ironinya, masih sempat saja senyum-senyum di depan kamera layaknya artis. Padahal perbuatan mereka melukai hati rakyat. Padahal tindakan mereka menyalahi hukum. Mereka mengingkari janjinya sendiri. Janji untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan pemerintahan yang jujur, bersih dan terbuka. Ternyata itu hanya bualan semata. Bualan kosong untuk menarik simpati rakyat. Amanah rakyat dipersalahgunakan. Kekuasaan menjadi sarana untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya. Pemimpin semacam itu tak layak disebut pemimpin.

Nurani para sebagian birokrat telah mati. Tidak ada lagi simpati dan empati terhadap nasib rakyatnya. Bahkan sebagian dari mereka menutup telinga, enggan untuk mendengarkan keluh kesah dan saran dari masyarakat. Tidak jarang pula telinga mereka kepanasan ketika ada rakyat yang kritis terhadap kinerjanya. Mereka lupa bahwa sejatinya pemegang kedaulatan itu adalah rakyat. Mereka sebatas penyambung lidah rakyat. Tapi kenapa justru mereka berindak seolah-olah berada di atas rakyat. Bukankah yang memilih mereka adalah rakyat.

Saya kira bangsa ini membutuhkan pemimpin yang sadar. Pemimpin yang peka serta siap berjuang dan berkorban untuk rakyarnya. Pemimpin yang berani menderita demi kepentingan rakyatnya. Kepemimpinan berbasis kesadaran itulah yang kita cari. Pemimpin yang sadar posisi dirinya sebagai pelayan masyarakat tidak akan membuat rakyatnya kecewa dan menderita. Kesadaran itu muncul dari nuraninya untuk mendermakan atau mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang banyak. Tidak ada ambisi yang berlebihan. Tidak ada hasrat duniawi yang berlebihan. Intinya pemimpin semacam itu tidak rakus terhadap kekuasaan, tidak tamak terhadap duniawi.

Kita mengharapkan hadirnya sosok pemimpin yang mampu menjadi tauladan. Bisa menuntut dan mengarahkan masyarakat. Pemimpin yang dalam setiap gerak-gerik, perkataan dan perbuatannya bisa dicontoh oleh segenap masyarakat. Artinya, masyarakat menunggu pemimpin yang berhati mulia dan berakhlak mulia. Tidak mudah emosi dalam mengadapi persoalan yang rumit. Mau merangkul orang-orang yang berbeda pendapat dan pandangan dengannya. Pemimpin semacam itu bisa membuat kondisi masyarakat lebih tenang dan kepercayaan masyarakat akan meningkat. Beda halnya dengan pemimpin yang suka berdusta. Justru rakyat semakin muak dan enggan untuk memilihnya kembali. Pemimpin yang gemar berbohong, egois, dan mudah emosi tidak akan mendapatkan kepercayan masyarakat. Karena sekrang banyak orang pinter tapi di sisi lain miskin adab. Lihat saja mereka yang tertangkap KPK. Rata-rata latar belakang pendidikannya lumayan tinggi. Bukan jaminan orang cerdas bisa menjadi orang yang bermoral.

Pemimpin yang sadar bahwa semua gerak-geriknya diawasi oleh Tuhan, tidak akan berani untuk mengambil yang bukan haknya. Dia mengerti kelak semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Pemimpin semacam ini memiliki kecerdasan spritual yang bagus. Artinya dia melihat bahwa kekuasaan sarana untuk merampas hak rakyat. Justru kekuasaan menjadi sarana bagi dia untuk beramal. Dia tahu bahwa dengan kekuaaan dia bisa menata kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, pemimpin semacam itu akan berhati-hati dalam menjalankan tugas dan fungsinyas selaku abdi rakyat, sekaligus hamba Allah.

Menurut Krishnanda Wijaya Mukti, kepemimpinan berbasiskan kesadaran adalah bagaimana mengangkat pandangan, nilai dan kebermaknaan hidup sekaligus prestasi seseorang sehingga mampu untuk tidak menyandarkan nasib kepada orang lain. Kepemimpinan bukan sekedar membuat orang lain terpengaruh dan tunduk, apalagi menjadi tergantung kepada si pemimpin, Memberi perintah gampang, memberi arahan juga gampang. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana perintah itu konsisten di lakukan oleh masyarakat yang dipimpinnya. Artinya, sang pemimpin harus menjadi inspirasi untuk menggerakkan publik. Pemimpin yang menginspirasi akan muda menggerakkan publik dalam meraih cita-cita bersama. Pemimpin semacam itu tentunya telah teruji integritas, kredibilitas, dan dedikasinya bagi bangsa dan negara.

Sekali lagi, pemimpin yang sadar terhadap peran dan tanggung jawabnya tidak akan berani untuk menyakiti hati rakyat. Dia senantiasa mengasihi dan mencintai masyarakat yang dipimpinnya. Kesadaran menjadi sebuah panggilan untuk memperbaharui visi dan misi agar hidup menjadi lebih bermakna. Pemimpin semacam itu senantiasa  rela berpayahpayah untuk membawa masyarakat mencapai cita-cita bersama yang telah ditetapkan. Akhir kata, saya berharap pemimpin-pemimpin kita sadar diri. Sadar terhadap amanah yang dipegangnya. Sadar bahwa senantiasa ada malaikat pencatat yang tidak pernah tidur mencata segala amalnya. Alangkah indahnya bangsa ini jika semua pemimpinnya jujur dan amanah. Saya percaya pemimpin kita akan semakin baik lagi ke depannya.

Penulis: Muhammad Aufal Fresky (Kolumnis/ Pengurus Yayasan dan Pondok

Pesantren Al-Ikhlas/ Kader Penggerak Nahdlatul `Ulama)

Komentar

News Feed