oleh

Kepemimpinan Jitu di Era Milenial

(Selayang Pandang Sisi Inspiratif Bupati Baddrut Tamam)

Oleh: Ahmad Rarizi*)

Kepemimpinan kharismatik sudah bukan zamannya, alias telah usang. Bila tetap dilestarikan, roda organisasi yang dipimpin akan berjalan lamban atau bahkan menjadi tidak terarah. Pemahaman seperti itu, saya dapatkan saat menyimak pidato atau sambutan Bupati Pamekasan H. Baddrut Tamam. Sering dikemukakan di acara-acara pemerintahan maupun kala pemimpin milenial tersebut jadi pembicara dalam kegiatan diskusi santai.

Dari Bupati Baddrut, kita melihat sepenuhnya bukan kepemimpinan kharismatik. Dirinya sendiri tampak kurang suka dengan kepemimpinan kharismatik. Sebab, pola kepemimpinan tersebut dipandang membangun jarak dengan orang lain (rakyat). Tidak heran, kita mendapati Bupati Baddrut kerap membaur dengan siapa pun.

Sepintas pola komunikasi dan gestur tubuh Bupati Baddrut tampak lebai ketika menyapa orang lain, terutama tatkala bertemu dengan masyarakat kecil. Tapi ketika sering berinteraksi dengannya, sikap yang dinilai lebai itu langsung sirna. Itu murni sifat atau karakter kepribadiannya yang memang santun dan hangat. Keramahan dalam kepemimpinan yang dibalut dengan kecerdasannya yang tinggi, tentu menjadi oase kepemimpinan tersendiri di Kota Gerbang Salam.

Spirit persahabatan menghiasi kepemimpinan Bupati Baddrut. Dirinya tentu menyedari betapa tidak ada persaudaraan yang sempurna; tentu pasti terdapat hal-hal yang ada kalanya membuat tidak nyaman perasaan. Karenanya, saling memaafkan dan mendoakan mesti dileburkan dalam persahabatan. Baginya, kepemimpinan hanyalah wasilah untuk mempererat persahabatan. Muaranya, kesejahteraan bersama dapat disemai secara berkesinambungan.

Pemimpin pemersatu tampak juga menjadi khas Bupati Baddrut selama menakhodai Kabupaten Pamekasan. Menghargai perbedaan menjadi pijakan dalam melangkah. Kritik yang tidak meretakkan sangat dijunjung tinggi olehnya. Memaksimalkan titik temu dalam perbedaan menjadi ruh pemersatu dalam kebenaran.

Kebijakan seorang pemimpin tergantung pada kemaslahatan rakyat. Term tersebut sangat melekat dalam diri Bupati Baddrut. Bisa ditelusuri sendiri, Bupati Baddrut tergolong bersih dalam membangun kota dan desa; nyaris mustahil ditemukan ‘kekotoran’ dalam kebijakannya. Kebersihan pemerintahan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Selamanya.

Pemimpin adalah pembaca. Pemimpin yang hebat, selalu dilekatkan pada dunia baca. Bupati Baddrut menjadi salah satunya. Bahkan, banyak pemuda yang didorong dan difasilitasi langsung olehnya untuk giat membaca. Sebelum menjadi Bupati, para pemuda di Madura maupun luar Madura dikader langsung olehnya.

Terakhir, Bupati Baddrut tergolong pemimpin yang luar biasa. Sebab, terobosan kebijakan yang diketengahkannya sudah menginspirasi banyak kalangan. Tidak heran ragam prestasi diganjarkan atas kesuksesannya menghidupkan Kabupaten Pamekasan dengan pelayanan yang prima.  Hasil yang luar biasa pasti diperoleh dari proses yang luar biasa. Begitu prinsip hidupnya.

*) Kader Forum Mahasiswa dan Pemuda Kadur (FMPK)

Komentar

News Feed