Kepulangan 

Ahmad Sahidah : Dosen Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid 

Novel Pulang Leila S Chudori berkisah tentang kerinduan para eksil untuk kembali ke tanah air. Meskipun tinggal di negara maju, tetapi mereka ingin menikmati hari-hari terakhirnya di tanah kelahiran. Untuk mengobati rasa kangen mereka mendirikan restoran yang menyediakan masakan tradisional. Tentu cita rasa ini bukan sekadar memuaskan selera, tetapi juga suasana. Siapa pun akan senantisa ingin hidup dalam alam pikiran dan perasaannya. 

Demikian juga mudik menjelang lebaran merupakan kehendak untuk kembali ke kampung halaman, tempat pemudik lahir dan tumbuh besar. Nostalgia masa lalu yang digambarkan dengan kesederhanaan justru diimpikan kembali, meskipun mereka telah memenuhi keinginan untuk hidup layak di kota besar. Apa sebenarnya yang tanggal sehingga mereka ingin meraihnya sekali lagi?

13 orang menyewa mobil pick up dari Jakarta ke Madiun untuk mudik. Mereka rela berdesakan dan berpanasan untuk bisa berlebaran di desa, meskipun mereka bisa melakukan hal serupa di ibu kota yang memiliki banyak masjid megah dan besar. Tetapi, mereka mungkin tidak menemukan kedekatan emosional dengan warganya. Sebagai pekerja, mereka hanya membanting tulang untuk mengumpulkan duit. Mereka ingin menemukan hidupnya yang hilang. 

Lalu, apakah di kampung mereka bisa menemukan masa lalunya? Saya sendiri justru tidak lagi mendapatkan apa yang pernah dirasakan dengan riang. Setelah mengikuti khotbah salat Idulfitri, kami menikmati nasi, gulai, dan daging di emperan masjid bersama-sama dan kini kami segera pulang ke rumah masing-masing. Tentu, bagi Biyya dan Zumi yang lahir di Semenanjung, Malaysia, keduanya balik kampung, sebutan mudik di sana, ke tanah seberang. Generasi alpha telah memiliki “kampung” yang lain, rumah kakek dan neneknya, yang masa kecilnya justru tidak ada di sini. 

Baca Juga:  Keterkaitan

Pulang, mudik atau balik kampung kadang tidak lebih dari liburan sejenak dari sekolah dan pekerjaan. Ini bisa menjadi momen untuk mengecas raga dan jiwa dari kejemuan rutinitas: adakah yang dilakukan sehari-hari selama ini menjadikan kita semua sebagai manusia? Definisi terhadap terakhir ini tentu perlu dipikirkan secara utuh agar kita tidak menjadi narapidana dari pikiran kita sendiri, mengingat kata Sam Harris, we are all prisoners of our thoughts

Betapa individu tidak jarang memikirkan dunia secara atomistik, sehingga ia menjalani apa yang dipikirkan sebagai keniscayaan. Ia harus sama dengan yang lain, sehingga ia pulang dengan membawa cerita tentang keberhasilan di tanah rantau. Pikiran telah memenjarakannya untuk tidak tampil apa adanya. Mata orang lain telah mengontrol jalan yang harus dilalui. Secara tidak sadar, ia membelenggu dirinya. Padahal, mata itu tidak selamanya memelototi dan mungkin tidak memperhatikannya. Lagi-lagi, pikiran telah menjadinya bui. 

Untuk itu, kepulangan perlu diperiksa kembali. Secara kiasan, ia bisa disejajarkan dengan hijrah, pindah dari sebuah keadaan yang tidak ideal pada kondisi yang menjadi ruang untuk berbagi secara tulus. Dulu, di kampung kami menimba air di sumur untuk keperluan kamar mandi dan berkomunikasi dengan tetangga di sela antri. Jelas, di sini fungsi pompa air dan telepon genggam tidak diperlukan. Sayangnya, komunikasi di media sosial tidak lebih daripada pengalihan apa yang disebut oleh Ted Nordhaus dan Michael Shellenberger dengan “insecure affluence”. 

Baca Juga:  Keaslian

Perasaan di atas muncul karena pemenuhan kebutuhan material justru mendorong hasrat lain, yakni status lebih baik, penghargaan-diri lebih, dan aspirasi pasca material lain yang menyebabkan seseorang jengkel, cemas dan suka menyalahkan orang lain. Jelas, inilah kegagalan manusia untuk kembali ke kehidupan kampung yang bersahaja, di mana dulu alam telah memberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan. Kini, hedonistic treadmil digenjot secara terus-menerus oleh iklan dan pameran gaya hidup. 

Bila kepulangan hanya membawa kebiasaan di atas ke kampung halaman, maka pemudik hanya mengulang sesuatu yang membuat mereka bosan dan jenuh dengan cara hidup kekotaan. Selain itu, diam-diam flexing itu menghinggapi banyak orang dengan pelbagai cara, baik halus dan norak. Kemampuan menahan diri selama berpuasa jebol dalam satu hari lebaran dan mungkin hari-hari selanjutnya. Tentu, kekhawatiran kampung berubah menjadi kota akan melahirkan kegusaran lain, ke manakah kita akan pulang sesungguhnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *