Kesederhanaan

Falsafah Harian

Ahmad Sahidah: Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

Gus Dur bersiduduk dengan tenang. Dengan pakaian batik yang kekecilan, negarawan ini memberikan sambutan di acara tahlilan almarhum Kiai Yusuf Muhammad. Saya berada tidak jauh dari mantan presiden Republik Indonesia seraya memerhatikan cucu Kiai Hasyim Asy’ari tersebut menyampaikan kegembiraannya sebab areal hutan kita bertambah luas. Data yang diperoleh dari seorang guru besar ini memecah kediaman (tidak ada suara) orang-orang yang hadir di kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalibata.

Di lain waktu, saya mengikuti seminar di Universitas Gadjah Mada yang menghadirkan Gus Dur dan Arief Budiman. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat kulit sabuk mantan dosen Universitas Satya Wacana ini yang telah mengelupas. Tokoh angkatan 66 tersebut jelas tidak peduli untuk mematut diri bahwa apa yang dipakai harus menimbang mata khalayak. Kejutan lagi, Gus Dur tak lama setelah itu menyampaikan pada hadirin bahwa ia tak perlu dikawal oleh banyak pengawal sebagai mantan presiden karena itu hanya menghabiskan anggaran.

Apa yang dilakukan oleh dua tokoh di atas mencerminkan apa yang ditulis oleh Dominique Loreau dalam L’art de la Simplicité: How to Live More with Less. Keduanya tidak perlu hidup dengan banyak aksesoris, tetapi pikiran logis. Keberlimpahan tidak ditunjukkan dengan busana dan pernak-pernik serta iringan seperti pembesar. Sebagaimana dalam halaman pertama yang mengutip haiku, puisi pendek Jepang, Matsuo Bashō, spring, in my cabin, utterly, wholly empty, utterly replete.

Kata teman saya, Nurhamid, yang pernah belajar matematika di Universitas Kanazawa Jepang, musim semi itu sangat menyenangkan, karena melewati musim dingin yang membosankan, meskipun enak untuk tidur. Bayangkan, Anda berada di kabin sendirian, dan merasa sangat penuh, dalam kekosongan yang sengit. Dua keadaan ini tampak paradoks, memang, tetapi justru seseorang tidak perlu hal lain untuk merasakan kedamaian, sebab keberadaan dirinya telah lebih daripada cukup.

Baca Juga :  Resesi Seksual dalam Sastra Kita

Kesederhanaan sejatinya tidak menolak kemakmuran. Tetapi, kita perlu memahami kata terakhir ini lebih luas. Seperti ditulis oleh Dennis Merritts Jones dalam The Art of Abundance bahwa prosperity itu adalah a successful, flourishing, or thriving condition (2018: 23). Memang kecenderungan orang banyak adalah menganggap kemakmuran dengan kepemilikan uang atau benda, yang sebenarnya hanya sebagian dari kondisi yang seutuhnya. Kita merasa makmur dalam pelbagai cara, seperti keberlimpahan bakat, damai batin, kesehatan yang baik dan waktu untuk menikmati semua itu.

Sementara, dulu para raja menunjukkan kemakmuran dengan memamerkan kereta kencana, istana yang megah, dan pakaian yang mewah. Rakyat mengelu-elukan di pinggir jalan tatkala rombongan penguasa dan hulu balangnya lewat. Raja akan melantik pengarang untuk menulis sejarah kebesarannya seraya mengabaikan apa yang dialami oleh kaum jelata. Kemewahan adalah tanda kemakmuran, sementara kesederhanaan berada di ruang sepi para filsuf dan cerdik pandai. Itulah mengapa Buddha Gautama meninggalkan kemewahan istana karena ia tidak menemukan kebenaran.

Baca Juga :  Kebebasan

Kini di era demokrasi, prilaku penguasa masih mewarisi gaya hidup monarki. Di tengah rakyat belum sepenuhnya makmur, pemimpin di era modern membangun istana, yang sesungguhnya celaru (absurd), karena bangunan ini dulu untuk raja, keluarga, dan pembantunya. Padahal, mereka semestinya menyadari bahwa orang yang memberikan pekerjaan adalah pencoblos di kotak suara. Pendek kata, majikan dari negara ini adalah rakyat. Seeloknya, pemimpin tidak membangun kemewahan di atas penderitaan tuannya.

Kesederhanaan Umar bin Ibn Khattab yang seringkali dijadikan teladan hanya sebatas serban yang diletakkan di kepala. Pemimpin mengongkosi gaya hidup mewahnya dari pajak yang dibayar oleh orang yang memberinya pekerjaan. Ironis! Sementara, dengan tanpa malu, poster pemimpinnya yang dijaja di ruang publik dengan pakaiannya yang murah tidak lebih dari akal bulus untuk memancing suara dari kaum marhaen. Kita mengulang sejarah yang sama. Jika dulu raja dipuja oleh pujangga, maka kini pemimpin disanjung oleh penggaung.

Baca Juga :  Kejawaan

Sementara, Jose Mujica sebagai mantan presiden Uruguay tetap berwibawa dengan kesederhanaannya. Bila menjadi manusia hakikatnya cukup untuk berharga, maka menjadi orang yang tidak percaya diri akan menempelkan banyak benda di kepala, badan, kaki dan apa yang dianggap menjadi miliknya. Tidak hanya itu, ia akan merasa tidak nyaman berada di keramaian, sebab ia tidak merasa aman dengan hidupnya. Kasihan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *