Kesedihan Kiper Madura United Jalani Puasa Tanpa Sang Ayah

  • Whatsapp
(KM/ SYAHID MUJTAHIDY) NGENNES: Penjaga gawang Madura United Satria Tama Hardianto sedang berbuka puasa bersama keluarganya tanpa kehadiran ayahnya, Bambang Hardiyanto.

Kabarmadura.id-Banyak perbedaan yang dirasakan Penjaga gawang Madura United Satria Tama Hardiyanto di Bulan Ramadan tahun 2020. Pasalnya, dia berpuasa pertama tanpa kehadiran sosok sang ayah Bambang Hardiyanto yang meninggal dunia tahun kemarin.

Hal itu membuat sedih kiper yang identik dengan nomor punggung 88 di Madura United itu; biasanya berbuka dan sahur bersama dengan ayahnya, kini tak terjadi lagi.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut membuat dirinya kembali merindukan sosok sang ayah.

“Di Ramadan tahun lalu, keluarga masih lengkap, masih ada bapak (Bambang Hardiyanto). Sekarang, bapak sudah tidak ada. Otomatis ini Ramadan pertama di keluarga saya tanpa adanya sosok bapak. Kalau rindu itu pasti, tapi bukan berarti tidak ikhlas berpulangnya bapak,” ucapnya kepada Kabar Madura, Rabu (29/4/2020) siang.

Selain itu, wabah Covid-19 yang merebak hingga ke Surabaya memberikan warna tersendiri bagi Satria Tama di Ramadan tahun ini. Ditambah lagi, Surabaya tercatat sebagai daerah paling banyak pasien terinfeksi Covid-19 se-Jawa Timur.

Berdasarkan laporan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) per-Selasa (28/4/2020), masih terdapat 392 pasien terinfeksi Covid-19 di Ibu Kota Jatim.

Tak ayal, dampak Covid-19 yang membuat kompetisi terhenti sementara membuat Satria Tama bisa berpuasa bersama keluarga. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang kompetisi masih jalan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Untuk tahun lalu, saya jarang sekali bisa puasa bareng keluarga, karena ada jadwal liga yang tetap bergulir. Alhamdulillah, sekarang bisa ibadah puasa bareng keluarga,” sambungnya.

Keharmonisan mantan kiper Persegres Gresik United tersebut kian erat dengan menggelar salat tarawih berjamaah di rumahnya. Ditambah lagi, mereka menyantap hidangan sahur dan buka puasa bersama di rumah.

“Salat tarawih di rumah.  Pertama, mengikuti anjuran pemerintah. Kedua, beribadah di rumah biar keluarga makin erat lewat ibadah bersama,” tutup penjaga gawang Tim Nasional (Timnas) Indonesia ini. (idy/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *