Kesehatan


 Kesehatan

Falsafah Harian

Ahmad Sahidah: Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

Dulu, kami hidup di kampung. Dengan berjalan kaki ke sekolah, saya dan teman-teman menyusuri jalan raya dengan leluasa karena tidak banyak kendaraan bermotor berlalu lalang. Sekali-kali, kami mengambil jalan pintas dengan melewati sawah dan sungai agar sampai ke rumah dalam suasana yang berbeda. Dengan bermain di alam terbuka, anak-anak pada waktu itu relatif bersenang-senang tanpa harus merogoh kantong. Bila sakit, kami cukup minum jamu dari daun-daunan di sekitar dan paling banter dibawa ke Pusat Kesehatan Masyarakat.

Sekarang, bagaimana dengan anak-anak dan orang-orang dewasa hari ini? Sekilas meskipun mereka memiliki akses pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi anak-anak terpapar pada banyak penyakit, seperti pnemonia dan orang dewasa yang harus kehilangan kaki karena amputasi sebab kadar gula yang tinggi. Dulu, kami hanya mengalami sakit ringan, seperti demam dan orang tua pusing, yang cukup dengan pil atau puyer yang dijual di toko kelontong untuk pulih. Pada waktu itu, kami tidak pernah mendengar penyakit berat, seperti kanker dan jantung.

Pertanyaannya, mengapa justru dengan keberlimpahan fasilitas dan asupan gizi kini banyak orang yang mengidap penyakit yang dulu kami jarang dengar? Tentu, ini perlu penelitian lapangan yang jauh lebih sistematis agar data-data terkait bisa diteliti secara kuantitatif dan menjadi bahan analisis yang lebih utuh tentang gaya hidup dan perubahan prilaku. Belum lagi, dengan BPJS dan kartu sehat, semestinya warga semakin sejahtera karena kesehatannya terjamin.

Tetapi, apa sebenarnya sehat? Tentu, pertanyaan ini berhubungan secara erat dengan pertanyaan besar dalam filsafat tentang apa itu hidup sejahtera (good life)? Sekilas dengan hadirnya pompa air, orang tidak lagi perlu menimba air ke sumur seperti kami lakukan dulu. Malangnya, alih-alih kini seseorang bisa lebih produktif justru menghabiskan waktu dengan duduk menghabiskan waktu berselancar di media sosial atau menonton televisi. Padahal dengan mengambil air dari sumur, ia bisa bergerak agar endorphins naik, yang baik bagi suasana batin, dan malah level oxytoxin juga turut melonjak karena bertemu secara bersemuka dengan tetangga yang juga melakukan hal yang sama.

Bukankah ngobrol dengan tetangga secara langsung tidak memerlukan gawai? Itulah mengapa Marietta MacCarthy dalam How Philosophy Can Save Life menyebut komunikasi (otentik) adalah kunci untuk mengurai beban kehidupan sehari-hari. Sementara, percakapan di gawai tidak berlangsung secara alamiah, malah ia menjadi ruang gema (echo chamber), pengguna hanya menggelorakan pandangan kelompoknya. Manakala, percakapan itu seharusnya merupakan pertemuan banyak orang yang berbeda untuk menemukan kata bersama, tidak berhenti di prasangka (vorurteil) masing-masing. Pendek kata, perbincangan yang sehat adalah pertukaran gagasan untuk kemajuan, bukan kemenangan.

Dari sini, kesehatan itu merangkumi keterpenuhan fisik dan psikis yang berjalan secara seimbang. Pendek kata, ketersediaan kebutuhan dasar, fasilitas umum, dan pelayanan kesehatan tidak akan menjamin munculnya masyarakat yang sehat tanpa memahami lebih jauh kaitan antara filsafat kesehatan publik, sebagaimana disinggung dalam buku Angus Dawson berjudul The Philosophy of Public Health. Dengan dasar inilah, kita mengajukan pertanyaan metafisik, seperti apa makna publik dalam kesehatan publik? Bagaimana seharunya kita mengkonseptualisasikan ide tentang populasi? Demikian juga secara epistemologis pertanyaan lain juga diajukan terkait  metode yang paling tepat untuk memikirkan kesehatan publik.

Dengan demikian, seluruh tindakan individu dan masyarakat bisa dilihat sebagai bagian dari kepanjangan kebijakan yang diambil oleh pihak berwenang. Namun, pendekatan struktural tidak memadai tanpa adanya dukungan kultural yang menjadi penyangga bagi tegaknya kesadaran masyarakat untuk melihat kesehatan secara utuh. Tatkala warga menyadari bahwa rumah mereka bukan tempat kediaman semata-mata, tetapi juga alam sekitarnya secara keseluruhan, maka tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sejatinya menjadi panggilan yang dilaksanakan bersama-sama secara serentak.

Berkaca pada pengalaman Zumi, anak saya, yang jatuh dari sepeda, dua teman baiknya, Akmal dan Kiki menuntun sepedanya dan mengantarnya ke rumah. Ini menggambarkan bahwa anak-anak telah menunjukkan hubungan yang sehat, yang seharusnya juga menjadi cermin dari hubungan manusia secara keseluruhan. Dengan sokongan inilah, sakit fisik itu tertanggungkan karena betapa pikiran (mind) mengatasi tubuh (body). Di tengah keterbatasan badan, pikiran kitalah yang harus menyangganya dengan sikap peduli dan melihat orang lain adalah bagian dari kehidupan kita. Inilah, menurut saya, arti dari kesehatan yang sesungguhnya.