Keteladanan  

Ahmad Sahidah: Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid 

Dalam keseharian, seseorang melakukan sesuatu sejalan dengan status dan profesi yang ditekuni. Ada banyak kegiatan lain yang disukai di luar rutinitas, seperti hobi dan kesenangan. Mereka menunaikannya sesuai dengan alam pikiran dan kebiasaan. Secara umum, banyak orang telah mendapatkan banyak aktivitas dari sejak kecil dan lingkungan tempat mereka tumbuh dan besar. 

Kekuatan sosial untuk membentuk perilaku individual sangat besar. Tidak hanya itu, norma masyarakat turut memperluas dan membatasi tindakan seseorang. Saya menyebutnya sebagai paradoks diri (The Paradox of self). Tarik-menarik antara kelaziman dan kehendak individu bisa saling mendukung atau menolak, yang bisa melahirkan tatanan dan tantangan sosial sekaligus. Lalu, bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan seharian?

Betapapun seseorang mungkin dikenal sebagai pemikir yang mumpuni, namun Arthur Schopenhauer dengan rendah hati mengakui Immanuel Kant sebagai teladan atau pahlawannya. Tatkala penulis Die Kunst, Recht zu behalten (The Art of Being Right) mengatakan kesederhanaan terbesar yang mungkin dalam hubungan kita dan bahkan monoton dalam cara hidup kita akan membuat kita bahagia, selama itu tidak menghasilkan kebosanan, ia meniru kebiasaan Kant. 

Filsuf pesimis ini memulai hari dengan bersarapan, lalu menulis selama tiga jam dan bermain seruling selama satu jam. Seusai meniup alat ini, ia makan siang di Englischer Hof, menikmati kopi dan obrolan. Di sore hari, tokoh yang mengambil ilham dari pikiran Buddha ini duduk di ruang baca Casino Society, yang kemudian menutupnya dengan jalan-jalan bersama anjing poodlenya dan mengakhiri malam dengan membaca. Tentu, rutinitas ini tidak membosankan karena ia menjalaninya selama 27 tahun di Frankfurt. 

Baca Juga:  Kediaman

Lalu, siapakah teladan (uswah) kita? Sebagai umat beragama kita tentu menjadikan Nabi Muhammad sebagai cermin. Kisah kesederhanaan rasul bisa dilacak dalam sirah nabawi, yang jejaknya juga bisa ditemukan pada tokoh agama atau bahkan orang awam. Salah satu rujukan yang mungkin bisa diakses oleh khalayak adalah al-Syama’il al-Muhammadiyyah. Dari sini, pengikutnya bisa melihat dari dekat apa yang dilakukan suami ‘Aisyah sehari-hari, seperti makan, minum, dan berbusana.

Pada akhirnya, setiap orang akan mencoba mencari sosok yang paling dekat dan pernah dilihat untuk dijadikan cermin. Sejauh ini, saya mendengar kisah Kiai Ilyas, Annuqayah, dari ayah. Betapa almarhum sangat menghargai siapa pun yang menemuinya, bahkan makhluk hidup. Sekali waktu, beliau memilih jalan lain karena di lorong yang harus dilalui ada seekor burung yang sedang mematuk remah makanan. Demikian juga, ketika melihat dari dekat sosok Kiai Zuhri, Nurul Jadid, kita bisa melihat betapa simple kehidupan pengasuh. 

Baca Juga:  Kebebasan

Tentu, kita bisa bercermin dari banyak sosok. Salah satu sarjana yang turut mengilhamkan saya dalam mencandra kehidupan adalah Zulkifli Abdul Razak. Dulu, semasa belajar di Universitas Sains Malaysia, kami melihat dari dekat kepemimpinan rektor Universitas Islam Internasional Malaysia ini. Dengan gagasannya kampus dalam taman, warga bisa menjadikan halaman dan lahan universitas sebagai kepanjangan dari gagasan hijau, kelestarian lingkungan. Tidak hanya di atas kertas, dalam kegiatan resmi di USM dulu, air minum tidak disediakan dalam gelas atau botol, tetapi jug dan gelas kaca. Di masanya, penggunaan styrofoam dilarang dan diganti dengan kotak yang berbahan ramah lingkungan dan bisa didaur ulang. 

Lebih jauh, sosok ini juga membahasakan ulang maqashid syariah dalam bahasa baru, di mana menjaga jiwa (hifz al-nafs) terkait dengan kepedulian umat terhadap alam sekitar. Tak ayal, ia membawakan diri secara sederhana dalam berpakaian dan menggunakan gawai secara cermat dan bila perlu. Pendek kata, pandangan hidupnya tercermin dari apa yang dikatakan dan dilakukan. Di sini, kita bisa juga turut menimbang, selain membuka diri untuk melihat tokoh-tokoh lain yang setia dengan satunya kata dan perbuatan. Sosok teladan itu bisa berada tak jauh dari tempat kita, dan kalaupun jauh, teknologi informasi bisa mendekatkan dengan kita di mana pun berada. 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *