Ketentuan Pendistribusian Pupuk Bersubsidi di Bangkalan Longgar

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TERBATAS: Ketentuan pendistribusian pupuk bersubsidi di Bangkalan mulai kendar jelang musim tanam.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Distribusi pupuk ke kios resmi dibatasi. Sebab sesuai ketentuan pemanfaatannya, pupuk bersubsidi harus direalisasikan di desa yang sudah menjadi sasaran pendistribusian. Sehingga dilarang keras jika didistribusikan ke desa lain atau luar daerah. Hal ini diungkapkan Bagian Admin Rencana Definitif Kebutuhan Pokok (RDKK) Dinas Pertanian (Dispertan) Bangkalan Moh. Hoirus, Rabu (17/11/2021).

Menurutnya pembatasan pembelian pupuk di kios juga mengacu pada kebutuhan petani di suatu wilayah. Sehingga, apabila diperbolehkan dibeli oleh warga dari luar, dikhawatirkan menimbulkan krisis pupuk bersubsidi. Dengan demikian, perlu adanya penerapan sistem yang menekankan terhadap larangan pupuk bersubsidi didistribusikan ke wilayah lain.

selain ketentuan pendistribusian, harga pupuk bersubsidi juga ditentukan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020 tentang Harga Eceran Tetap (HET). Sesuai ketentuan tersebut, HET untuk jenis pupuk UREA Rp2.250 per kilogram dan Rp112.500 per karungnya. Harga tersebut berlaku di tingkat kios penyedia pupuk bersubsidi.

Pada dasarnya, jika di lapangan marak ditemukan tentang harga pupuk diatas HET bukan hal yang janggal. Sebab adanya tambahan harga umumnya sebagai ganti upah bongkar muat pupuk bersubsidi tersebut. “Karena pekerja ini hanya mendapatkan upah dari hasil kerja itu. Jadi kami toleransi jika hanya selisih Rp5 ribu dari HET, lantaran kios kena cash kuli bongkar,” ujarnya.

Namun alangkah baiknya, mengkoordinasikan dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Sehingga timbul garis koordinasi yang jelas. Sebab, PPL harus meneruskan informasi tersebut ke distributor. Meski mentoleransi adanya harga diatas HET, secara aturan langkah tersebut tetap tidak diperbolehkan. Alangkah baiknya, menyiapkan kurir untuk membayar jasa angkut yang diambilkan dari biaya di luar pupuk bersubsidi.

“Bisa saja nanti jasa kurir ini diambilkan dari uang hasil usaha lain. Dengan demikian tidak akan beresiko,” tuturnya.

Sementara itu, Sufiyah petani dari Desa Pendabah Kecamatan Bangkalan mengaku, kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi di wilayahnya. Sehingga harus mencari ke luar daerah kiosnya. Bahkan diakui, kerap kali mendapatkan jatah pupuk dari luar desa. Hanya saja, biaya yang harus dikeluarkan di atas HET. Selain itu, juga harus mengeluarkan biaya ongkos kirim.

“Karena lokasinya jauh. Kadang kena biaya kirim  Rp20 ribu lebih. Apalagi, ada kenaikan harga pupuk jenis UREA hingga tembus Rp125.000 per 25 kilogram, sebelumnya hanya Rp110.000 hingga Rp115.000. Intinya, cukup sulit ditambah harganya mengalami kenaikan,” kesalnya.

HET Pupuk Bersubsidi

  • UREA
    • Rp 2.250 per kg
    • 500 per 50 kg atau sekarung
  • NPK Phonska
    • 300 per kg
    • 000 per 25 kg atau sekarung
  • ZA
    • 700 per kg
    • Rp 85.000 per 25 kg atau sekarung
  • SP36
    • 400 per kg
    • 000 per 25 kg atau sekarung
  • Petroganik
    • Rp800 per kg
    • 000 per 25 kg atau sekarung

Temuan di Lapangan

  • Pupuk UREA sulit diperoleh di daerah sendiri
  • Bisa membeli ke luar daerah
  • Harga diatas HET
  • Harga pupuk naik
    • Sebelumnya Rp110.000 hingga Rp115.000 per 25 kg
    • Menjadi Rp125.000 per 25 kg

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *