Keterasingan

Ahmad Sahidah: Dosen Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid

Pada 12 Maret 2023, kami bertolak ke Kuala Lumpur untuk mengantar enam mahasiswa Universitas Nurul Jadid dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata di Semenanjung. Mereka akan berkhidmat di beberapa pondok pesantren negeri jiran. Meskipun mereka akan menjalani dunia yang sama, tetapi kehidupan sehari-hari agak berbeda dengan dengan apa yang telah dialami di tanah air.

Dulu pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Melayu, saya tentu menemukan dunia yang asing. Keterasingan akan dialami oleh siapa saja apabila ia menginjak tanah baru. Padahal, padahal tahun 1990-an, saya telah akrab dengan musik Amy Search dan Iklim Saleem. Apalagi, secara budaya dua negara ini berakar pada adat yang sama. Untuk itu, di awal tinggal di Pulau Pinang saya pergi ke mal terdekat untuk mencari kaset penyanyi tanah air. Di sini, saya membeli album Rhoma Irama dan Doel Soembang.

Perlahan tetapi pasti, saya bisa menjalani kehidupan sehari-hari tanpa merasa terasing, karena kawan karib asal Kelantan, Fauzi Hussin, tidak melihat  keahadiran saya sebagai orang luar. Faktor bahasa jelas membantu komunikasi di antara dua orang yang memungkinkan percakapan berlangsung dengan lancar. Apalagi, kesukaan saya pada lagu-lagu Malaysia 90-an menjadi pintu masuk untuk bertukar banyak hal di luar lagu, seperti politik, ekonomi, dan kemasyarakatan.

Keterasingan justru hinggap di kepala karena istilah ini dikaitkan dengan alienasi yang seringkali diungkap oleh kaum Kiri tentang hubungan buruh dengan barang yang dihasilkan. Kini mereka tidak lagu membuat sebuah produk utuh, melainkan bagian-bagian dan rangkaian-rangkaian dari barang jadi. Tidak hanya itu, mereka yang menghasilkan benda yang kadang tidak bisa menikmatinya. Mungkinkah pekerja barang mewah bisa membeli tas Hermes yang berharga berkali lipat dari gajinya?

Baca Juga:  Kebahasaan

Lema asing juga acapkali disematkan pada orang yang berbeda dengan sesuatu yang seseorang tidak kenal. Jadi, persoalannya bukan pada ketidaktahuan sebagai pangkal, tetapi apakah seseorang mau berkenalan jika itu terkait orang dan mau memeriksa bila itu benda. Pendek kata, dengan kehendak untuk memahami sesuatu individu tidak akan merasa aneh dengan apa yang ditemui dalam sehari-hari. Justru, keterasingan bisa menyergap apabila manusia telah memilih untuk berkelompok dengan aliran tertentu dan menutup diri dari kumpulan yang berbeda.

Tidak dapat dielakkan, setiap individu akan mencari kawan atau rekan yang bisa mengeratkan hubungan karena diikat dengan emosi dan sentimen yang sama, yang biasanya ditemukan karena kesamaan hobi, organisasi, kepercayaan, dan aliansi. Tetapi, ini juga mudah retak karena seseorang bisa memiliki jati diri yang tidak tunggal. Ia bisa merasa nyaman dengan partai ini dan merasa damai dengan aliran keyakinan itu.

Secara umum, manusia mudah terlibat secara emosional dalam kerumunan. Mereka kadang tidak bisa menjaga jarak karena takut tidak bisa membela diri bila berhadapan dengan musuh yang diciptakan oleh identitas yang telah menempel pada dirinya. Mereka cenderung berada dalam kerumunannya dan merasa terancam di luar kawanannya.

Baca Juga:  Ibadah Puasa sebagai Perisai Ukhuwah

Justru alienasi yang paling mengancam kehidupan hari ini adalah perasaan tidak nyaman di tengah kehidupan yang serba cepat dan gemerlap. Kini seseorang harus bergegas untuk memenuhi semua yang dijanjikan oleh iklan agar ia sama dengan orang lain. Demikian juga, kebutuhan tidak lagi berpijak pada kehendak otentik, tetapi palsu, karena yang terakhir sengaja diciptakan agar khalayak membutuhkannya untuk mencocokkan dirinya dengan orang banyak.

Padahal, eksistensi asli itu terkait dengan keberadaan seseorang secara apa adanya. Ia hanya perlu memenuhi kebutuhan dasar, yang kata Epicurus, memang pasti dan niscaya, seperti makanan, pakaian dan kediaman. Kebanyakan hasrat lain itu bisa ditinggalkan, bahkan kekuasaan yang diburu itu adalah kosong dan sia-sia. Tentu, kalau dilihat sebagai kesenangan sementara (mut’ah), jabatan dan harta tetap diperlukan untuk mewujudkan kesejahteraan manusia dan menghindari kekacauan.

Untuk itu, sejatinya tidak ada orang asing di dunia selagi kita belum mengenalnya. Demikian pula, keterasingan bermula dari ketidaktahuan terhadap hakikat dirinya, yang kata kata Thales, hal yang paling sulit untuk diraih. Dengan bertolak sebagai manusia, kita telah mengerti diri secara sejati. Selebihnya, status, kedudukan, dan citraan adalah buatan agar manusia menemukan makna atau tujuan hidup. Dari sini, manusia merawat jati dirinya sehingga ia tidak akan menjadi orang asing atau terasing dengan kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *