Keterkaitan

Ahmad Sahidah: Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

Mark Zuckerberg menegaskan bahwa Facebook memberikan pengguna kekuatan untuk berbagi dan menjadikan dunia lebih terbuka dan tersambung. Sekilas pernyataan pendiri media sosial ini benar, tetapi kenyataannya banyak pemilik akun menjadikan platform ini untuk menegaskan identitasnya dan hanya meneguhkan lingkarannya sendiri. Tidak dapat dielakkan, warga saling bertengkar dan menyerang mereka yang berbeda pandangan, kelompok, dan aliran.

Dengan bertolak dari pernyataan Zuckerberg, Facebook bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan banyak hal, seperti informasi buku, kuliner, dan destinasi wisata. Pendek kata, pengguna bisa mendapatkan semua itu tanpa bersusah payah karena kadang sesuatu bisa dinikmati tanpa harus dimiliki. Lebih jauh, kita merasa terkait dengan si A, karena ia sering mengunggah buku-buku menarik dan si B karena ia acapkali membuat status reflektif, yang mendekatkan pemikiran dan keberpihakan bersama. Ini membuat kita merasa memiliki teman. Kita mendapatkan kawan dari dunia maya. Sebaliknya, kita juga memperoleh musuh virtual, yang membuat gairah untuk menyatakan penentangan.

Apakah keterkaitan itu hanya terkait dengan teman dan keterpisahan dengan musuh? Ini adalah pertanyaan eksistensial, karena hakikatnya jati diri manusia tidak tunggal. Anda mungkin tidak suka pandangan si A karena cenderung anti-agama, tetapi merasa sejalan karena berada di partai politik yang sama. Di sini, warga tentu perlu menahan diri untuk memberi tanda like pada teman, karena justru kita mendapatkan identitas musuh. Artinya, kita dikenal sebagai orang beragama, sebab ada kawan yang tidak (kritis) terhadap agamanya.

Baca Juga:  Keterbukaan

Sejauh ini, apakah keterkaitan di dunia maya menggerakkan orang-orang yang mempunyai pandangan yang sama akan bahu-membahu untuk mewujudkannya sebagai tindakan nyata? Mungkin, seruan di Facebook bisa menarik dukungan, tetapi hanya sejauh jentikan jari pada tanda like. Malah, mungkin pengumpulan donasi bisa dilakukan karena transfer bisa dilakukan melalui internet, yang tentu ini didorong oleh sentimen tertentu. Sejauh ini, kita jarang menemukan orang yang tetap menghormati perbedaan dan mau terbuka terhadap kehadiran orang yang berbeda dalam percakapan.

Semestinya, perbincangan di Facebook mengandaikan komunikasi efektif, yang menuntut masing-masing menunda idealismenya dan mendudukkan dirinya sejajar sehingga pertukaran pandangan menyodorkan pencerahan, bukan penggelapan, dengan menyerang orang lain, apalagi kadang memang tidak saling mengenal secara pribadi. Alih-alih mendorong komunikasi yang sehat, kolom komentar adalah tidak ubahnya punching bag, yang dipukul terus-menerus untuk meluapkan kemarahan dan kejengkelan. Betapa ia telah menjadi saluran dari tekanan. Pengguna adalah orang yang stres.

Padahal, sebagai belantara, Facebook memiliki banyak ruang untuk diperhatikan dan diabaikan. Sayangnya, pengguna kadang menjadikannya media untuk berselancar dan secara acak merespons sambil lalu. Tentu, pesohor akan mendapatkan tanda banyak like dan komentar, meskipun statusnya tidak terkait dengan ide otentik, tetapi cemoohan yang menjadi kanal bagi seseorang untuk menumpang rasa lega karena ada orang yang punya nyali untuk menuliskannya di beranda.

Apakah Facebook akan memenuhi apa yang dibayangkan oleh penggagasnya? Kita tidak bisa meramalkannya karena ia senantiasa mendapat pengguna baru. Meskipun demikian, media serupa menemui ajal, seperti Friendster dan Multiply. Sebagai ruang maya ia tidak menuntut kehadiran pengguna untuk memberikan perhatian secara utuh. Seseorang bisa menulis status, komentar, dan mengunggah gambar secara acak dan suka-suka. Tentu, ada unggahan yang perlu diperhatikan secara serius karena terkait dengan masalah kebajikan publik. Lagi-lagi, ia akan ditindih dengan isu lain yang remeh-temeh dan kelakar tak bermutu.

Baca Juga:  Kesantrian

Akhirnya, kita bertanya adakah keterkaitan hidup nyata dengan Facebook? Tidak, karena kita telah melakukan penyaringan agar apa yang diunggah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Pada waktu yang sama, pengguna lain akan melihat dari sudut yang berbeda, baik positif dan negatif. Hanya, sebagai media untuk berbagi ia telah kehilangan semangatnya, sebab dilihat kembali, apa yang kita perbaharui tidak lebih daripada pengulangan. Justru, di sini tantangannya sekaligus, yakni adakah pemilik akun berpikir bahwa yang bersangkutan telah memberikan makna baru untuk menghindari kebosanan?

Nah, kata terakhir di atas justru menantang kita untuk menjadikan media sosial terkait secara otentik dengan hidup kita sehari-hari. Maklum, pengguna akan selalu menampilkan yang terbaik dari apa yang diunggah. Ia seakan-akan wajah lain yang hendak dipamerkan. Tetapi, ini tidak salah, karena keterkaitan bisa diraih dengan dukungan berupa like dan komentar. Lebih jauh, keterkaitan itu diarahkan pada kehendak berbagi yang sejati dan ketersambungan untuk menangani isu universal bersama. Tanpa ini, Facebook itu tidak lebih daripada keranjang tempat pengguna melemparkan kekesalan dan kejemuaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *