Ketika PS. HW Pengaruhi Takdir Penjaga Gawang Madura United

  • Whatsapp
(KM/ SYAHID MUJTAHIDY) KEPUTUSAN BESAR: Penjaga gawang Madura United Faqi Dwi Purnomo berubah posisi saat masuk klub PS. HW Pamekasan.

Kabarmadura.id-Pada mulanya, penjaga gawang Madura United U18 Faqi Dwi Purnomo bermain sebagai striker. Itu ketika dirinya merumput di kampungnya yang masuk daerah Kecamatan Palengaan, Pamekasan. Saat itu, dia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 3.

“Cerita pertama saya suka sepak bola adalah sejak masih SD kelas 3. Kala itu, saya masih bermain di kampung halaman sendiri, posisinya sebagai striker,” ceritanya kepada Kabar Madura, Rabu (29/4/2020) siang.

Bacaan Lainnya

Ketika sudah mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama (SMP), Faqi masuk klub internal Pamekasan PS. HW. Akan tetapi, dia berubah tidak berlatih sebagai striker, namun sebagai penjaga gawang. Hal itu tidak terlepas dari posisi target man terlalu banyak saingan.

Lebih lanjut, Faqi menuturkan, bapaknya Sahur pernah bermain di klub tersebut. Serta, ayahnya itu bermain sebagai palang pintu terakhir di PS. HW.

“Posisi saya berubah, tidak lagi striker. Melainkan penjaga gawang. Itu sama seperti bapak saya yang menjadi penjaga gawang PS. HW dulu. Di striker, saya terlalu banyak saingannya dan teknik yang masih kurang. Saya memilih ubah posisi menjadi penjaga gawang sampai saat ini,” sambungnya.

Akan tetapi, pilihan berubah menjadi penjaga gawang membuahkan kesempatan yag gemilang. Pasalnya, dia mampu lolos seleksi Madura United U16 tahun 2018. Saat itu, dia ikut bermain di Festival Filanesia Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 U16.

Sejak itu, Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Pamekasan itu konsisten bertahan di tim berjuluk Laskar Sape Kerrab ini hingga masuk Madura United U18 tahun 2020.

“Selama berada di Madura United, sangatlah senang sekali. Pengorbanan saya selama bermain sepak bola tidak sia-sia. Banyak pengalaman yang saya dapat dari Madura united. Ilmu yang sangat saya amati dengan seksama dan saya salurkan ke adik saya. Paling penting adalah bisa berkawan dengan teman-teman dari Sampang, Bangkalan, dan Sumenep,” pungkasnya. (idy/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *