Keuangan


Keuangan

Kolom: Falsafah Harian

Ahmad Sahidah: Dosen Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid

Saya tidak pernah membayangkan mengajar mata kuliah Filsafat Keuangan di kelas Perbankan Syariah. Sebelumnya saya mengampu Filsafat Ilmu, Filsafat Pendidikan Islam, dan Filsafat Manajemen di universitas tempat saya berkhidmat sekarang. Di Universitas Utara Malaysia, saya mengajar Sains Pemikiran dan Etika selama delapan tahun, dari 2011-2019.

Mata kuliah baru ini seakan-akan merupakan jejak lanjutan yang dulu pernah dilalui. Tatkala menemani Biyya mengunjungi Pusat Sains Negara di Menara Petronas Kuala Lumpur, saya singgah di Kinokuniya dan membeli buku anggitan Georg Simmel berjudul The Philosophy of Money. Buku tebal tersebut jelas tidak menjelaskan uang sebagai alat tukar semata-mata, tetapi kata filsafat telah menempatkan duit sebagai obyek yang dilihat secara kritis.

Dalam karya fenomenal di atas, Simmel mengurai ekonomi uang dari sudut sosiologis, fisiologis, dan filosofis. Di sini ia memberikan sebuah analisis terperinci tentang peredaran dan pertukaran komoditas, seraya menimbang hubungan uang dengan kepribadian manusia, kedudukan perempuan, kebebasan individu dan arena eksistensi manusia yang lain. Tentu saja, khalayak tidak harus mengerutkan dahi untuk mencoba memahami apa hakikat uang. Kehadirannya secara bersahaja bisa diurai sebagai berikut.

Uang memang dimaknai sebagai koin atau kertas yang memiliki nilai dan menjadi alat untuk ditukar dengan barang atau jasa. Kini uang digital juga turut mendorong masyarakat untuk memburunya. Persoalannya adalah apakah semua yang kita bisa nikmati harus dibeli dengan duit? Di sini, kita bisa mengetengahkan pembedaan Herbert Marcuse tentang kebutuhan asli dan palsu (True and false needs). Keperluan otentik itu berupa makan, pakaian, dan kediaman, yang kita pangan, sandang, dan papan.

Masalahnya, orang kini makan dengan membayar mahal atas alasan selera. Lalu, peristiwa biologis ini dipahami secara ideologis. Ia menjadikan selera sebagai pembeda dengan orang lain, yang dipandang bercitarasa rendah. Malah, kegiatan ini dilakukan dengan penuh tata cara dari makanan pembuka, inti, dan penutup, berupa buah, es krim, dan aneka makanan ringan yang lain. Tentu, etiket ini pun membayangkan konstruksi sosial budaya tertentu.

Demikian pula, baju bermerek dibeli sebagai tanda komunikasi. Seseorang memilih barang mahal karena punya banyak uang. Dengan demikian, citraan ini secara langsung mendudukkan diri pesolek yang sadar mode dan menambah kepercayaan diri. Betapa celaru, manusia yang mulia karena keadaannya harus bergantung pada selembar kain dan kilauan perhiasan lain yang ditempel di sekujur tubuhnya.

Tempat tinggal juga wujud dari kantong tebal. Semakin megah dan mewah, pemilik rumah dipandang sebagai orang kaya dan terpandang. Anehnya, sepasang suami isteri tersohor membeli rumah istana dengan banyak kamar yang justru tidak ditempati. Malangnya, ia harus selalu menguras kantong untuk membayar biaya pemeliharaan.  Harga diri yang sejatinya merujuk pada karakter individu sebagai manusia, telah dilucuti dan diganti dengan aksesoris dan pesona tempelan dari luar.

Kepalsuan ini justru mendapat tempat sebab masyarakat membuat batas dan kelas. Kepemilikian benda, seperti properti, kendaraan, dan aset lain yang diperoleh uang telah menempatkannya pada garis pemisah dan kedudukannya tidak setara dengan sesama. Bukti yang paling terang benderang apabila pengguna barang palsu itu memamerkan pada khalayak adalah kegagalan dirinya memahami nilai dari benda secara otentik. Semua itu adalah alat untuk memenuhi fungsi, bukan gengsi.

Untuk itu, uang yang sering dikaitkan dengan status kaya dinafikan oleh Buddha Gautama. Orang suci dari Sungai Gangga ini menyatakan bahwa kekayaan itu adalah bukan kelimpahan harta, tetapi kemampuan menahan diri. Jika kontrol diri tidak bisa dilakukan, maka yang bersangkutan akan senantiasa akan selalu merasa kurang, tidak pernah merasa cukup. Kita pun memiliki kearifan ini melalui ucapan yang ditemui dalam lirik lagu, walaupun miskin harta, tetapi kaya hati.

Ini berarti bahwa kekayaan yang ditunjukkan dengan uang tidak lagi memberikan makna bila tidak dilihat secara jernih. Bahkan agama telah memberikan jalan keluar bahwa uang itu “kotor” dan oleh karena itu ia harus didermakan untuk menyucikannya. Secara tidak langsung, seseorang tidak dilarang untuk kaya, tetapi ia didorong untuk peduli. Inilah “uang” sejati itu.