oleh

KH. Mahrus Ali Dilarang Injak Tanah Malaysia Seumur Hidup

Kabrmadura.id/Sampang-Tokoh muda Asal Sokobanah, Sampang, KH. Mahrus Ali dideportasi tanpa alasan oleh perwakilan Imigrasi Malaysia pada 18 Desember lalu. Tindakan itu membuatnya kecewa berat, sehingga pihaknya mengadukannya ke Kedutaan Malaysia di Jakarta.

KH. Mahrus Ali mengaku bingung dengan tindakan Imigrasi Malaysia itu, karena paspornya sudah terdapat stempel bertuliskan no time limit (NTL), atau dilarangnya warga negara asing masuk ke negara lain selama seumur hidup. Dengan begitu, membuatnya tidak akan bisa berkunjung ke Malaysia seumur hidup.

“Saya sering ke luar negeri termasuk ke malaysia, tapi saya tidak pernah menetap di negara tersebut, makanya saya bingung kenapa saya dilarang masuk ke sana, dan tidak ada alasan yang jelas terkait deportasinya itu,” ungkapnya, Kamis (9/1/2020).

Peristiwa itu terjadi pada 18 Desember 2019 lalu, saat dirinya tiba di bandara Kuala Lumpur Malaysia, sekitar pukul 18:00, langsung dibawa ke kantor perwakilan Imigrasi di bandara tersebut.

Petuga imigrasi itu memriksa paspornya sekaligus menginterogasi Kiai Mahrus tentang tujuannya ke Malaysia.

“Saya bilang mau jalan-jalan, ‎tapi saya tetap tidak diizinkan masuk. Saya juga sempat disuruh ke kantor imigrasi, dan meskipun petugas imigrasi di sana bilang saya tidak ada masalah, tapi saya tetap tidak bisa masuk, setelah saya menunggu berjam-jam dan kemudian salah satu petugas menyatakan, saya akan langsung dideportasi,” ulasnya.

Setelah semalam ditahan di ruang tunggu Imigrasi bandara Malaysia, pada 19 Desember 2019 pukul 18.00 waktu Malaysia, ia bersama dua orang lainnya dideportasi ke Terminal 1 Bandara Surabaya dengan pengawalan ketat oleh petugas Imigrasi Malaysia

“Kami sungguh terlihat seperti penjahat besar yang akan melarikan diri. Setelah sampai di ruang tunggu, barang- barang kami kembalikan dan mereka pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa. Apa seperti ini yang selalu disebut Malaysia Truly Asia itu,” imbuhnya

Selain itu, kuasa hukum KH. Mahrus Ali “Acong Latief” di kantor Konjen Malaysia di Jakarta menyampaikan, pihaknya sudah mengadukan hal itu. Dalam pengaduannya, pihaknya meminta agar memeriksa dan memberi sanksi kepada pejabat Imigrasi Malaysia yang diduga telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan tidak manusiawi terhadap kliennya.

“Kami meminta pemerintah Malayasia mencabut atau menghapus status NTL terhadap paspor klien kami, serta meminta Pemerintah Malaysia untuk memaksa petugas imigrasinya memulihkan nama baik KH. Mahrus Ali dengan cara meminta maaf secara terbuka di media nasional di Indonesia, Malaysia, maupun media internasional,” tuturnya

Laporan itu sudah diterima Ridwan, petugas perwakilan Imigrasi Malaysia di Konjen Malaysia di Jakarta. Mereka juga sudah berjanji akan menindaklanjuti kasus ini.

“Kami harap bisa cepat, karena apa yang terjadi telah membuat nama baik klien kami tercemar dan perasaannya sangat terluka. Kami tidak ingin kasus ini menjadi preseden buruk untuk hubungan Indonesia dan Malaysia ke depannya,” tutupnya. (km49/waw)

 

Komentar

News Feed