KH Marzuki Mustamar: Prioritaskan Peradaban sebagai Sikap Insidental

(KM/MOH RAZIN) SUMRINGAH: Persoalan peradaban menjadi penyempurna dan jalan keluar dari seluruh kehidupan.

KABARMADURA.ID | Tidak jauh berbeda, Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar juga menekankan agar menjadikan peradaban sebagai prioritas dalam menjalin kehidupan bermasyarakat. Apalagi, sikap tersebut sebagaimana risalah kenabian. Bahkan jika dibenturkan dengan persoalan ubudiyah, maka poin peradaban masih menjadi utama.

“Poin besarnya jangan sampai menyinggung atau membuat tidak nyaman perasaan orang lain. Dulu itu, Rasulullah sedang menjadi imam tiba-tiba ada anak jamaah nangis, maka beliau mempercepat salat, khawatir sang ibu cemas. Melihat dari situasi itu, maka peradaban atau nilai akhlaqul karimah sangatlah penting,” ujar Kiai Marzuki.

Selain itu, persoalan peradaban menjadi penyempurna kehidupan dan jalan keluar seluruh persoalan. Sehingga NU menjadikan peradaban sebagai menu perilaku yang harus dikonsumsi setiap saat. Pada momentum simposium yang melibatkan hampir seluruh kader NU se-Jatim, persoalan peradaban menjadi penting guna betapa pentingnya nilai atau karakter sebuah peradaban.

Bacaan Lainnya

“Karena nilai paling tinggi manusia ketika sudah beradab. Tidak mungkin, kami sukses beragama, bertasawuf dan yang lainnya tanpa peradaban. Sebagai nilai akhlak yang ditanamkan Rasulullah dengan cinta. Sebagaimana didikan Allah kepada para nabi merupakan pendidikan tentang pentingnya sebuah peradaban,” jelasnya.

Dia menegaskan, adab atau akhlak atau peradaban itu merupakan keharusan menjadi konsumsi setiap gerak pada setiap saat. Sehingga tidak ada hati dan perasaan yang dilukai,  terutama bagi kehadiran manusia untuk menjalani atau menikmati rasa hormat atas manusia yang lain. Bahkan, peradaban juga menjadi metode dakwah rasulullah dalam menjunjung sifat kelembutan adab atau tatakrama.

“Artinya jangan sampai niatan syiar malah dibenci lantaran membuat orang lain merasa terganggu. Tapi menjunjung tinggi kemanusiaan terutama saat berdakwah. Jangan lantas atas dasar syiar mengambil enaknya sendiri. Misalnya, banjarian hingga larut malam yang mengakibatkan  tetangga merasa terusik,” tegasnya. (*)

Reporter: Moh. Razin

Redaktur: Totok Iswanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.