KH. Mudatsir Masuk Jajaran Rais Syuriah PBNU, Ketua PCNU Pamekasan Ungkap Pemikiran Hebatnya

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) Mohamad Mudatsir Badruddin: Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyepen/Rais Syuriyah PBNU

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Susunan Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027 telah dibentuk. Salah satu ulama besar Madura turut ada di jajaranya. Salah satunya yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyepen, KH. Mohamad Mudatsir Badruddin. Posisinya sebagai salah satu rais syuriyah PBNU.

Ketua Pengurus Cabang Nahlatul Ulama (PCNU) Pamekasan KH. Taufik Hasyim membenarkan informasi tersebut. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Sumber Anom, Angsanah itu, KH. Mohamad Mudatsir Badruddin yang akrab dipanggil Kiai Mudatsir itu sangat layak untuk berada di jajaran syuriah PBNU.

Bacaan Lainnya

Pengakuannya itu bukan tanpa alasan. Dari segi keilmuan, Kiyai Mudatsir telah diakui kealimannya oleh masyarakat Jawa Timur. Besan dari Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar tersebut disebut sebagai tokoh ulama yang memiliki sepak terjang luar biasa. Bahkan di era tahun 90-an, pemikirannya sudah melampaui zamannya.

Salah satu sepak terjang yang dicatat, yaitu perjuangan dalam dunia pendidikan. Saat di Madura belum ada pondok pesantren yang memliki lembaga SMP dan SMA, KH. Mohamad Mudatsir Badruddin sudah membuka SMP dan SMA lebih dulu. Saat itu, banyak pihak yang mengecam Kiyai Mudatsir.

“Tapi nyatanya, orang-orang yang mengecam beliau sekarang justru membuka SMP dan SMA,” ujar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kediri ini.

Tidak hanya dalam urusan relasi pemerintahan, Kiai Musatstsir sudah melangkah lebih awal dari ulama Madura lainnya. Saat ulama-ulama Madura belum pernah menginjakkan kaki di Istana Negara, Kiai Mudatsir sudah lebih dulu diundang untuk berkunjung ke kantor presiden itu. Saat itu dia datang menemui Presiden Republik Indonesia kedua, Soeharto.

Tidak hanya itu, saat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) baru didirikan, Kiai Mudatsir sudah tergabung di dalamnya. Karena itu, Kiai Taufik tidak heran jika Kiai Mudatsir sudah kenal dekat dengan beberapa tokoh nasional, seperti Prof. Muhammad Nuh, Prof. Imam Suprayogo dan Prof. Nur Syam.

Kepada Kabar Madura, Kiai Taufik mengungkapkan bahwa sebenarnya Kiyai Mudatsir tidak berkenan untuk berada di jajaran syuriyah PBNU. Hal itu lantaran kesehatannya yang sudah tidak stabil. Namun karena Rais Aam PBNU terus meminta dan karena adanya pertimbangan lain, maka Kiyai Mudatsir kemudian menerima menerima permintaan tersebut.

‘Setahu saya, beliau pernah menyampaikan ke saya, bahwa beliau diminta langsung oleh KH. Miftahul Akhyar untuk masuk PBNU,” ucap Kiai Taufik.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *