KH Nuruddin A. Rahman di Mata Santri, Karismatik tapi Lebih Suka Tidak Dipanggil Kiai

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) MENGENANG: M. Muhadi (kiri), santri KH Nuruddin A. Rahman dalam sebuah kesempatan saat bersama.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Berpulangnya KH Nuruddin A. Rahmanke hadirat Illahi pada Jumat (9/1/2020) lalu, meninggalkan kenangan yang membekas bagi para santrinya. Sebab, sikapnya terhadap santri seperti bersikap kepada anaknya sendiri.

FA’IN NADOFATUL M, BANGKALAN

Bacaan Lainnya

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Tanjung, Burneh, Bangkalan ini, kerap disapa dengan sebutan Abah oleh para santrinya.

Salah satu santrinya, yakni M. Muhadi, menceritakan kenangananya bersama Kiai Nuruddin, Senin (11/2/2020). Baginya, sosok Abah sangat perduli perduli terhadap santri-santrinya. Bahkan, kata Muhadi, Abah menganggap semua santrinya seperti anak sendiri.

“Abah tidak mau dipanggil kiai oleh santrinya, beliau berpesan ke santri, kalian tidak usah panggil saya kiai, cukup panggil abah saja,” cerita Muhadi.

Begitupun dengan istri Kiai Nuruddin, ibu nyai (sapaan akrabnya) beliau tidak mau disapanyai. Semua santri memanggilnya Nyik.

“Semua kerendahan hati dari guru kami Abah Nuruddin Abdurrahman yang sangat kami kagumi,” ujarnya.

Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, Kiai Nuruddin mrtupsksn Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Di Bangkalan tercatat juga sebagai ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bangkalan.

Menjadi pengasuh pondok pesantren, aura kepemimpinan beliau sangat dirasakan oleh santrinya. Kata Muhadi, dalam memimpin para santrinya, Kiai Nuruddin sangat disiplin waktu dan beliau selalu berpesan terhadap para santrinya, seperti; ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain’.

“Perjuangan beliau untuk kami sangat besar supaya kami jadi orang yang baik dan selalu memberi bekal arahan untuk masa depan kami,” ujarnya.

Dia memandang Kiai Nuruddin Sebagai orang yang sangat berwibawa, karismatik, idealis dan berjiwa sosial tinggi. Dibidang pendidikan, Kiai Nuruddin sangat memperhatikan dan selalu berusaha supaya semua santri-santri beliau menjadi orang yang tidak buta akan betapa pentinngya dunia pendidikan.

Kiai Nuruddin juga dikenal selalu membantu semua kemauan santrinya di dunia pendidikan. Tidak kenal lelah mendidik santrinya di Pesantren Al Hikam.

“Ini saya sangat bersyukur bisa dekat dengan beliau dari beliau lah.Saya banyak belajar etika bersosial, pesan beliau yakni seorang pemimpin semakin tinggi derajatnya, akan semakin kencang anginnya,” pesannya.

“Kalian punya ilmu hiduplah seperti padi yang aman padi semakin berisi semakin merunduk,” imbuh Muhadi mengingat pesan Kiai Nuruddin.

Hal paling berkesan dari Abah kepada santrinya, urai Muhadi lagi, kepeduliannya terhadap pondok pesantren meskipun sakit. Bahkan tidak pernah absen untuk mengimami salat subuh dan ngaji kitab kuning seusaisalat.

“Khususnya hal itu yang sangat berkesan bagi kami,” tuturnya.

Selama sakit, Muhadi memperhatikan, Kiai Nuruddin enggan dibawa tidur, karena merasaakan lama sembuhnya. Saat merasa sakit, dibawa ibadah dan ngaji bersama santrinya. Jika dibawa melaksanakan ibadah, Kiai Nuruddin merasa rasa sakitnya tidak terasa.

Banyak pesanyang selalu disimpansantrinya,yakni apa yang belum santrinya ketahui dan pelajari selama ini mumpung ada di pondok, dimanfaatkan untuk belajar sebaik mungkin dan selalu berbakti kepada kedua orangtua sebagai jalan sukses santrinya.

“Sesuai dangan motto Al Hikam berilmu, beramal, bertaqwa, berakhlakul karimah dan selalu berpegang teguhh kepada ajaran Ahlusunna Wal Jamaah,” pungkasnya. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *