Khusnul Hotimah Harus Antre Dua Tahun untuk Lepas Alat Bantu Operasi

(FOTO: KM/HELMI YAHYA) PROSES PENYEMBUHAN: Hingga saat ini, pihak rumah sakit belum melepas alat bantu operasi Husnul KhotimaH,  sebab masih menunggu giliran.

KABARMADURA.ID | Kisah pilu dialami Khusnul Hotimah, perempuan asal Desa Burneh, Kabupaten Bangkalan. Sudah tiga tahun dia tidak bisa beraktivitas normal pasca kecelakaan pada Maret 2019 silam.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Saat itu hari masih pagi, Hotimah bersama sang suami Abdul Wahid berboncengan mengendarai sepeda motor hendak pergi ke pasar untuk kulakan sayur. Setibanya di Jalan Raya Tonjung, tepatnya di depan Mapolsek Burneh lama, pasangan suami istri itu ditabrak mobil pick up pengangkut ayam.

Bacaan Lainnya

Sebab kecelakaan tersebut, perempuan berusia 31 tahun itu mengalami patah tulang tangan kanan, kaki, dan paha sebelah kanan. Tidak hanya itu, ia juga kehilangan sang suami yang meninggal dunia di lokasi kejadian.

Hingga saat ini, ia masih dalam proses penyembuhan di RS dr. Soetomo Surabaya.  “Operasi tulang tangan dan di bagian lengan dipasang pelatina, Alhamdulillah hasilnya sudah enak,” kata Hotimah.

Pasca operasi ketiga pada tahun 2020 lalu, alat bantu patah tulang portabel yang dipasang di kakinya tak kunjung dilepas oleh petugas rumah sakit. Bahkan kondisi Hotimah saat ini semakin mengkhawatirkan, sebab kaki hingga pahanya semakin membengkak. “Setelah operasi, lalu kaki saya dipasang besi (alat bantu tulang portabel) ini di paha. Tapi sampai sekarang belum dilepas oleh pihak rumah sakit,” ujarnya.

Padahal, Hotimah rutin melakukan kontrol ke rumah sakit. Dia pun selalu menanyakan kapan alat yang dipasang di kakinya itu bisa dilepas. Tapi jawaban dari pihak rumah sakit selalu sama. “Katanya nunggu giliran. Terakhir bilangnya bulan Desember kemarin bisa dilepas, tapi sampai sekarang tidak ada kabar kelanjutannya,” keluhnya.

Karena itu, ia harus meminta bantuan keluarga terdekat untuk mengurus dan merawat kedua anaknya. “Pengennya ya segera dilepas, terus berlatih berdiri tegak dan semoga bisa sembuh. Pengen bisa jalan lagi, kasihan anak saya, nyeri juga kalau terus seperti ini,” ucap Hotimah.

Kondisi Hotimah dan kedua anaknya mengundang simpati dari anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Mathur Khusairi. Dia mengaku prihatin atas pelayanan yang dilakukan pihak RS dr. Soetomo.

Dia menyarankan agar dokter yang menangani untuk aktif memantau kondisi pasien, bukan pasien yang harus terus proaktif. Mathur mengaku baru saja mendapat kabar dari pihak keluarga bahwa Hotimah telah berupaya untuk kontrol secara rutin dan terus menanyakan jadwal melepas pem dan penyangga kakinya. “Saya awam ilmu medis, tapi melihat dari lamanya pasien menjalani proses penyembuhan, saya merasa ini tidak wajar,” imbuh politisi Partai Bulan Bintang (PBB) itu.

Pria asal Bangkalan ini meminta jajaran direksi RS dr. Soetomo untuk membenahi pelayanan dengan memberikan skala prioritas, mengingat rumah sakit milik Pemprov Jatim itu menjadi RS rujukan pertama bagi pasien di wilayah Jawa Timur. “Jadi saya minta, mohon juga diperhatikan pasien dari Jatim, khususnya Madura,” pintanya.

Selain itu, Mathur juga meminta pihak RS. dr. Soetomo untuk menyediakan nomor antrean yang jelas dan terbuka untuk tindakan operasi yang bersifat darurat sehingga bisa diketahui khalayak publik.

Tak hanya itu, alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya itu juga mendorong pihak rumah sakit untuk menyediakan call center yang secara cepat merespon pasien ketika melakukan konfirmasi. “Saya dari dulu sudah pernah merekomendasikan, namun belum dilakukan oleh rumah sakit itu,” pungkasnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Muhamamd Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.