oleh

Kiai Annuqayah: Fauzi Putra Penggerak Ansor dan Politisi PPP

Kabarmadura.id/Sumenep-Dikenal nasionalis yang santun, representasi dari santri sejati. Itulah Achmad Fauzi. Dalam dirinya ternyata memang mengalir darah seorang penggerak Ansor Nahdlatul Ulama dan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

FATHOR RAHMAN, SUMENEP

Fakta tersebut terungkap dari cerita salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah Guluk-Guluk, KH Abd Muqsith Idris, ternyata salah satu Calon Bupati (Cabup) Sumenep Achmad Fauzi punya darah keturunan politisi dari NU.

Dari cerita kiai Muqsith pula, rupanya Fauzi yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Bupati Sumenep itu merupakan putra politisi PPP. Bahkan, ayahandanya Achmad Slamet Wongsoyudo pernah menjadi Anggota DPRD Sumenep sekitar tahun 1970-an dari partai berlambang Kakbah.

Salah satu kiai sepuh Ponpes Annuqayah itu menceritakan perjuangan ayahanda Fauzi, bersama KH Noer Sidak Idris atau Kiai Shadaqah selaku kakak Kiai Muqsith saat menjadi penggerak Ansor-NU. Sejarah tersebut teranf benderang ketika Fauzi sowan ke kediaman Kiai Muqsith bersama Nyai H Dewi Khalifah yang didampingi KH Syafraji, dan pengasuh Pondok Pesantren Mathlabul Ulum Jambu, Lenteng, KH Taufiqurrahman FM, Senin (24/8/2020).

Tak hanya bercerita tentang perjuangan ayahandanya, Kiai Muqsith secara khusus mendoakan Fauzi yang datang bersama Nyai Eva.

Silaturrahim Achmad Fauzi ke kediaman Kiai Muqsith merupakan kedua kalinya. Di mana sebelumnya, bang Uji, sapaan akrab Fauzi dihadiahi serban putih.

Fauzi merasa sangat bahagia bisa nyabis ke Kiai Muqsith untuk kedua kalinya. Hal itu merupakan kesempatan luar biasa baginya. Apalagi, saat nyabis selalu ada kesan dan ilmu yang ia dapatkan.

“Ada banyak cerita yang didawuhkan. Ada banyak ilmu pula yang kami dapatkan dari beliau (kiai Muqsith, red). Lebih-lebih, beliau berkenan mendoakan kami. Kami sangat berterima kasih, dan semoga beliau selalu sehat,” tuturnya.

Kepada dirinya, kata Fauzi, Kiai Muqsith memberikan nasehat untuk selalu mengayomi rakyat, menjadi manusia yang sederhana, dan meninggalkan sifat sombong.

Mengenai mendiang ayahandanya yang merupakan pensiunan PNS dan kemudian menjadi Anggota DPRD Sumenep selama lima tahun, Fauzi bercerita bahwa sosok yang meninggal pada tahun 1985 itu merupakan pejuang kemanusiaan dan keras melawan kezaliman orde baru. (nam)

Komentar

News Feed