Kiai M. Faizi Gelar Haul Akbar untuk Abdurrahaman Wahid

  • Whatsapp
F Kiai Faizi KM/MOH RAZIN MENELADANI: Saat Kiai M. Faizi menceritakan sepintas tentang kehebatan Gus Dur.

Kabarmadua.id/SUMENEP-Pada Bulan Desember banyak momentum cukup berkesan, salah satunya wafatnya tokoh besar yaitu Abdurrahman Wahid atau familiar dengan sebutan Gus Dur. Sehingga momentum tersebut diperingati dalam bentuk haul untuk menggaji dan meneladaninya.

Refleksi Haul Gusdur ke-11, seperti yang disampaikan Kiai M Faizi merupakan sebuah acara yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor Pragaan. Terlebih, pemuda NU memang harus meneladani sikap atau perjuangan Gus Dur atau sang guru bangsa.

“Tapi bagaimanapun, saya akan menyampaikan sebagai refrensi, meski saya tidak mempunyai kedekatan secara khusus dengan beliau. Tapi, ada yang menyampaikan ke saya cerita-cerita unik beliau,” katanya, Kamis (31/12/2020).

Menurut kiai yang juga terkenal sebagai penyair itu, Gus Dur merupakan sosok multitalen dan bisa memposisikan atau beradaptasi dengan berbagai nuansa lingkungan, bahkan lintas budaya, agama, dan sebagainya.

Termasuk telepati atau mukasyafah pada Gus Dur, harus menjadi motivasi kader NU untuk meneladaninya. Sehingga, nilai-nilai yang biasa dikampanyekan seperti memprioritaskan nilai kemanusian juga tertanam sebagai refleksi dari haul Gus Dur.

Kiai yang familiar dengan pecinta Bus itu, menceritakan kisah perjalanan Gus Dur yang diundang ke Mekah. Selesai acara, Gus Dur langsung menemui Syeh Yasin bin Isa yang merupakan salah satu pemegang sanad keilmuan paling banyak asal Menang Kabau.

Gusdur yang ditemani empat temannya, sudah tidak terlalu ingat rute syeh tersebut. Keempat temannya hanya diceritakan sepintas tentang alamat tujuan, lalu dalam perjalanan Gus Dur tidur dan baru bangun ketika sudah sampai.

“Ketika sampai dibukakan pintu dan disediakan lima porsi makan. Temannya bertanya kok bisa tahu kami berempat dan menyiapkan lima porsi untuk makan bersama kami. Waktu tidur saya bertemu Syeh Yasin dan memberitahu, kata Gus Dur,” imbuhnya.

Kejadian ketajaman telepati Gus Dur tidak hanya itu, misalnya saat pertama kali ke Annuqayah Guluk-Guluk. Gus Dur dikejain Kiai Abdul Basit yang dibawa ke asta Kiai Syarqawi, padahal asta yang ditunjukkan bukan asta pendiri pondok pesantren tersebut.

Habis tawasul, Gus Dur berbisik ke Kiai Abdul Basit, ini bukan Kiai Syarqawi, tapi perempuan yang dimakamkan di sini. “Kebetulan yang ditunjukkan adalah makam embah saya, posisinya paling timur, dan memang perempuan. Nah ketajaman seperti itu, kami harus meneladaninya,” lanjutnya.

Termasuk sikap visioner presiden ke-4 itu sangat luar biasa, mulai perencanaan menata kehidupan tidak hanya untuk dirinya tapi efeknya untuk masyarakat banyak.

Keteladanan terhadap konteks Sisilaturrahmi yang secara luas, dipahami sebagai pintu untuk membuka jaringan, memperbaiki citra, dan mengenalkan budaya.

“Tudingan menghambur-hamburkan anggaran untuk keliling negara itu tidak benar. Padahal Gus Dur itu melobi. Sebab waktu Indonesia terpuruk, maka dari hasil lobi itu presiden selanjutnya tinggal menerima buahnya, karena jaringannya sudah dibentuk. Nah kemampuan seperti itu yang sulit dipahami oleh kita,” pungkasnya. (ara/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *