oleh

Kiprah Visioner Muhlis Ali, Mantan Ketua PB HMI Asal Madura

Prioritaskan Kelompok Cipayung, Sediakan Tempat Gratis Cetak Pemimpin Bangsa

Kabarmadura.id-Mantan Ketua Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 1999-2001 Muhlis Ali, menyediakan tempat tinggal, aula, serta fasilitas lainnya bagi kegiatan pelatihan dan diskusi secara gratis.

Graha Yakusa itu berlokasi di Jalan KH. Hasyim Asy’ari Nomor 159 Banjarejo, Pagelaran, Malang. Pria asal Pulau Madura itu membuka area tersebut untuk semua organisasi yang kesulitan mencari tempat atau minim biaya menyelenggarakan acara.

Guna mengetahui secara detail, jurnalis Kabar Madura Syahid Mujtahidy mewawancarai Muhlis Ali secara ekslusif, Senin (20/4/2020) pagi.

Bagaimana ceritanya bisa menyediakan tempat buat organisasi mengadakan acara?

Saya kan mantan aktivis kelompok Cipayung. Terakhir saya sebagai salah satu ketua PB HMI periode1999-2001. Saya dibesarkan di dunia aktivis, mulai sejak mahasiswa hingga kepemudaan. Sampai hari ini pun, saya merasa sebagai aktivis yang memiliki konsen perjalanan proses demokrasi, penguatan peran politik kerakyatan dan masa depan kepemimpinan.

Saya mengamati, soal kepemimpinan tidak menjadi konsen secara serius oleh semua elemen bangsa. Walaupun ada kelompok yang masih konsen melakukan diskusi kajian dan sebagainya. Tapi pasca-reformasi, saya rasa agak berkurang kelompok-kelompok yang memiliki konsen secara khusus menyiapkan kepemimpinan di masa depan, baik itu partai politik atau organisasi kepemudian.

Bagaimana seorang pemimpin di mata Anda?

Pemimpin itu tidak ucuk-ucuk punya uang terus mencalonkan diri, tiba-tiba jadi pemimpin. Bukan! Menurut saya, pemimpin itu adalah sosok yang visioner, langkahnya selalu cepat, dan kerap memikirkan soal masa depan bangsa yang menjadi motivasi saya.

Ini harus dimulai oleh siapa pun. Saya harap partai politik, organisasi kepemudaan, dan ormas lainnya juga mempunyai konsen yang sama mempersiapkan kepemimpinan yang akan datang, terutama partai politik melalui kaderisasi.

Hari ini saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan hal yang sama ke depan, seperti yang saya dulu disiapkan orang lain.

Apakah ada motivasi lain?

Yang kedua, terkait tempat saya ini. Saya memang bercita-cita, suatu saat nanti memiliki tempat yang menjadi pusat kegiatan kepemudaan dan kemahasiswaan untuk melakukan pelatihan-pelatihan kepemimpinan.

Alhamdulillah sudah berjalan, hampir delapan bulan ini, diskusi-diskusi kajian, sekolah kepemimpinan, termasuk pelatihan. Selama ini banyak digunakan oleh adik-adik HMI untuk melakukan pelatihan kader I, tapi ini terbuka untuk siapapun, bukan hanya HMI, terutama kelompok Cipayung.

Selanjutnya, saya juga ingin memotivasi teman-teman saya di mana-mana. Ada yang jadi bupati, wakil bupati, wali kota, wakil gubernur, jadi anggota DPR, dan pengusaha, agar memiliki konsen yang sama untuk menyediakan tempat adik-adik kami untuk melakukan proses aktualisasi itu. Saya ingin manas-manasin teman-teman lah yang sekarang jadi pejabat dan yang lain.

Karena mempersiapkan tempat-tempat seperti ini tidak ada ruginya bagi kami. Karena ini soal investasi manusia untuk jangka panjang. Bayangkan, saya hitung dalam waktu delapan bulan ada tidak kurang 500 orang yang ikut pelatihan di sini. Kalau dari itu separuhnya jadi pemimpin kan luar biasa.

Di Malang Raya ini agak kesulitan mencari tempat kan. Kalau menggunakan vila atau hotel kan mahal. Kadang-kadang, mereka pakai kantor-kantor desa. Tempat saya, membuka diri untuk lebih konsentrasi, fasilitas lebih memadai.

Apakah ini hanya untuk organisasi tertentu?

Siapapun bisa melakukan kegiatan di tempat saya, tentunya dengan kemudahan-kemudahan. Misalnya fasilitas gedung dan macam-macam tidak perlu membayar. Kalau masak, bisa masak sendiri, karena saya siapkan dapur khusus. Saya akan memberikan kemudahan semaksimal mungkin kepada adik-adik kelompok Cipayung. Jangan sampai pengkaderan itu terhenti karena tidak ada biaya.

Apa saja sebenarnya yang disiapkan di rumah Anda itu?

Ini satu komplek tanah sekitar 1.000 meter di depan rumah keluarga. Di belakang, saya bangun ada aula, terus di bawah ada kantor, ada tempat bermalam. Tapi masih kurang, nanti rencananya mau dibangun lagi sebelahnya untuk kamar-kamar. Kalau ada kegiatan, yang laki-laki tidur di gedung belakang bawah aula, yang perempuan ada di lantau dua di rumah saya.

Seperti apa dukungan keluarga terhadap langkah ini?

Keluarga saya walaupun background-nya bukan dari akademik, tapi dari pesantren. Mereka paham. Tidak masalah ada teman-teman menginap tiga hari.

Bagaimana rencana Anda ke depan?

Ke depan saya ingin membenahi tempat ini. Pertama, saya akan mendirikan pusat sekolah kepemimpinan. Kedua, nanti sebagai pusat literasi. Ini saya sudah ada buku-buku, tinggal kami tata infrastrukturnya, agar teman-teman mendapatkan fasilitas yang memadai, baik dari tempat atau literatur.

Saya juga secara khusus sedang mempersiapkan sekolah kepemimpinan politik bangsa. Ada beberapa teman doktor-doktor muda, siap menjadi gurunya. Saya juga pernah Mas Lutfi Kurniawan yang MC Malang. Ada Doktor Ali Maksum itu Ketua Program Ilmu Sosiologi S3 Brawijaya. Termasuk beberapa teman di Jakarta, lagi siapkan modulnya. Karena situasi ini terpending. (nam)

Komentar

News Feed