Kisah Abdul Maun yang Menapaki Sukses dari Hasil Pertanian

  • Whatsapp
GAGAH : Abdul Maun, Pejabat Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A KB) Pamekasan.

Kabarmadura.id/Pamekasan-Tidaklah mudah meraih kesuksesan dalam setiap sektor kehidupan. Setiap orang haruslah berjuang dengan keras agar bisa meraih sukses dalam hidupnya. Hal itu yang juga dialami oleh Abdul Maun. Pria yang saat ini mengabdikan diri sebagai pejabat negara di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A KB) Pamekasan.

Kebiasaan pejabat yang satu ini sekalipun Setiap harinya Bekerja di kantor juga tidak lupa pada pekerjaan yang digelutinya. Yakni, Kerja keras dari SD sudah mulai menanam tembakau palawija, dan jenis pekerjaan petani lainnya.

IMAM MAHDI, KOTA

Menjalani kehidupan dengan mandiri tidak mudah dilakukan oleh banyak orang. Apalagi harus hidup mandiri sejak masih sekolah dasar (SD). Namun hal itu tidak berlaku bagi Abdul Maun. Salah satu ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan itu, mengaku sudah terbiasa hidup mandiri sejak masih SD.

Namun siapa sangka, pria yang belajar memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dari sektor pertanian ini, mampu menjadi pria sukses di tataran birokrasi di Pamekasan.

Pria kelahiran 16 Juli 1964 ini mengaku, sejak kecil sudah belajar mandiri dengan ikuti ibundanya bertani di tempat kelahirannya di Desa Murtajih. Meski terlahir dari keluarga petani, Maun mengaku tidak pernah mengeluh saat ikut bekerja keras bersama keluarganya.

Diceritakannya, sejak kecil sudah bekerja keras dengan menemani sang Ibu menyiram tembakau dan berbagai palawija demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dirinya mengaku, semangat untuk serta terus berjuang demi keberlangsungan masa depan yang telah mendarah daging.

“Hidup itu tidak usah dibuat ruwet, cukup berikhtiar nanti Allah yang mengangkat derajatnya,” katanya, Selasa (27/7)

Menurutnya, apa yang diperoleh tidak semudah kaki melangkah. Sebab, Maun juga pernah mengalami masa-masa sulit. Tetapi, bisa diantisipasi dengan cara terus istiqamah dalam membantu orang tua.

Bagi Maun, sukses tidak terletak pada berapa jumlah pekerjaan dan pangkat yang diperoleh, akan tetapi, ukuran sukses baginya adalah seberapa mandiri seseorang dalam menjalani dinamika kehidupan.

Maun menceritakan perjuangan dirinya untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Dirinya mengaku, untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi,  dirinya harus keliling Jawa Timur mencari lowongan kerja untuk mencukupi biaya kuliah. Keterbatasan ekonomi, memaksa dirinya untuk mencari penghasilan sendiri agar tidak memberatkan keluarga.

Bahkan Maun mengaku, secara terpaksa merahasiakan pada ibunya, kalau dirinya tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kala itu dia beralasan, takut dimarahi sang ibu karena untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tidak mudah dan biayanyapun cukup mahal.

“Saya keliling hingga menjadi kernet di Banyuwangi,” paparnya.

Maun bercertia, dirinya sempat dilarang pulang oleh keluarganya di Madura, lantaran saat berangkat untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, dirinya tidak pamit kepada orang tunya.

Akhirnya, Maun memutuskan untuk pulang ke rumah familinya di Kabupaten Jember. Disana, Maun menerpa diri dan mencari pekerjaan di tempat tersebut. 3 bulan dilalui, Maun memutuskan pulang dan bekerja sebagai kernet bus Kamal sampai Pamekasan selama 7 bulan sambil lalu menunggu lowongan perguruan tinggi yang akan ditempuh.

Dari berbagai perjuangan yang dilalui, akhirnya Maun bisa meraih sukses dengan menjabat sebagai ASN di lingkungan Dinas Kesehatan, kemudian dilanjutkan ke DP3A KB Pamekasan sejak tahun 2008 hingga saat ini.

“Hidup itu akan indah tergantung pada usaha, kerja keras atas kemauan sendiri,” pungkasnya (pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *