Kisah Hakki, Sukses Budidaya Jamur Berkat YouTube hingga Miliki Kafe Kampoeng Jamur

News625 views

KABARMADURA.ID | Tampan dan pemberani. Kalimat yang lagi beken itu patut disandangkan kepada Abd. Hakki. Bagaimana tidak, Madura cenderung beriklim panas. Namun dia justru membudidaya jamur yang hanya bisa hidup di tempat lembab. Yang mencengangkan, usahanya sukses hingga meraup omzet puluhan juta.

ALI WAFA, SAMPANG

Tidak banyak di Madura yang sukses dalam membudidayakan jamur. Karena Madura terkenal dengan terik mataharinya. Sementara idealnya, jamur bisa hidup di kelembaban minimal 60 persen. Budidaya jamur di Madura, sama saja dengan menentang hukum alam. Tapi, itu tidak berlaku bagi Abd. Hakki.

Hakki sebenarnya warga Kelurahan Banyuanyar, Sampang. Dia memanfaatkan lahan milik orang tuanya di Desa/Kecamatan Omben. Di sana dia mengadu nasib membuka usaha budidaya jamur tiram. Dia memulainya dari nol. Mulai dari pembibitan, hingga diolah menjadi makanan.

“Dulu, modal awalnya hanya Rp15 juta. Usaha ini dimulai di bulan Juni tahun 2021,” ucapnya, Senin (6/3/2022).

Baca Juga:  Hanan Attaki Gabung NU, Bagaimana Tanggapan Ketua PCNU Sumenep?

Uniknya, Hakki belajar budidaya jamur itu hanya dari YouTube. Secara otodidak dia memahami prosesnya dari awal pembibitan, hingga mengolahnya menjadi makanan siap saji. Namun untuk memperkuat pengetahuannya, dia berkunjung ke salah satu pengusaha jamur sukses di luar kota.

Di tempatnya, tidak hanya ada pertanian jamur, tetapi juga ada kafe dengan menu utamanya makanan olahan jamur. Kafe itu diberi nama Kampoeng Jamur. Letaknya di Dusun Laodan, Desa Omben. Tempat itu bak surga bagi pecinta jamur. Sebab berbagai macam menu olahan jamur ada.

Usahanya itu bukan main-main. Setiap bulan dia bisa memperoleh omzet Rp12 juta. Bahkan pernah tembus Rp30 juta. Kini, dia menjadi pemasok bibit jamur terbesar di Madura. Semua kabupaten di Madura telah menjadi pasarnya. Bahkan dia telah memiliki beberapa petani binaan di Madura.

“Awalnya, saya produksi secara manual. Sudah seminggu ini saya menggunakan mesin. Hasilnya, empat kali lipat produksi lebih banyak dari sebelumnya,” ujar Hakki.

Baca Juga:  KPU Sampang Sosialisasikan Penetapan Dapil, Alokasi Kursi dan Penomoran Berubah

Hakki bahkan tidak mampu untuk memenuhi semua permintaan jamur dari para pelanggannya. Saat ini saja, dia telah menerima permintaan 5.000 bibit jamur. Sementara alat yang dimilikinya terbatas dan dia hanya dibantu oleh tiga orang karyawan. Dia berharap bisa mengembangkan usahanya itu.

Hakki sendiri telah menerima beberapa kali penghargaan sebagai pelaku ekonomi kreatif, baik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang maupun dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Bahkan, Dinas Pertanian Pamekasan telah datang untuk berkunjung ke tempatnya.

“Saya punya enam petani binaan. Mereka buka usaha jamur. Bibitnya dari saya. Saya tidak merasa tersaingi. Malah saya senang. Karena semakin banyak petani jamur di Madura, maka akan mematahkan anggapan bahwa di Madura tidak bisa budidaya jamur,” tutup mantan karyawan salah satu bank konvensional itu.

Redaktur: Moh. Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *