oleh

Kisah Inspiratif Tentang Pentingnya Menghargai Waktu

Salah satu aset manusia yang paling berharga adalah waktu. Maka atas hal itu, sebaiknya kita memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Misalnya dengan berkarya atau bekerja sehingga mampu mengurangi bermalas-malasan. Merugilah bila kita menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermalas-malasan, tidak ada faedah atau pahala yang kita petik bila kita terus menyia-nyiakan waktu.

Selain itu, kita sering mendengar julukan dari anak-anak milenial tentang “Kaum Rebahan”? Kaum yang mereka sematkan untuk mereka sendiri karena senangnya rebahan ketimbang melakukan aktivitas yang produktif, yang tentunya menghasilkan sebuah karya atau uang atau mungkin pahala karena mengisi kekosongan waktu untuk beramal saleh. Kegiatan itu tidaklah berbeda dengan kerbau. Kita tahukan bagaimana perilaku kerbau? Kerbau itu berdiri hanya untuk makan, setelah perutnya kenyang ia akan merebahkan badannya dan tidur. Bila perutnya terasa lapar lagi, ia akan bangun dan makan lagi. Seperti itulah kaum rebahan apabila digambarkan melalui hewan yang memiliki sifat sama dengan mereka yaitu pemalas.

Dalam buku ini ada sebuah cerita menarik yang dapat kita petik pelajaran. Di suatu kampung, ada seorang pemuda yang suka bermalas-malasan. Suatu sore, ia berjumpa dengan nelayan yang membawa ikan-ikan hasil tangkapannya dalam keranjang. Pemuda itu bergumam, “Ah, andai saya memiliki ikan sebanyak itu, tentu hidup saya tidak akan seperti ini lagi. Hidup saya akan berubah menjadi lebih baik karena saya bisa menjual ikan-ikan tersebut, dan uangnya akan saya belikan pakaian dan makanan.”

Suatu ketika, orang nelayan meminta tolong kepada pemuda itu untuk menjaga tali pancingannya.

“Anak muda, saya harus pergi sebentar ke ujung jalan itu. Ada sesuatu yang saya lakukan. Maukah kamu menolong saya untuk menjaga tali pancing ini? Tentu saya akan memberi sejumlah ikan hasil pancingannya kepadamu sebagai imbalan,” kata nelayan itu.

Dengan senang hati, pemuda miskin itu menerima tawaran tersebut. Tidak lama kemudian, ikan mulai menggigit tali pancing yang dipegangnya. Ia sangat senang. Tanpa terasa selama hampir dua jam, ia telah mendapatkan lebih dari sepuluh ekor ikan. Ia tersenyum lebar dan tampak begitu menikmati pekerjaannya. Setelah sang nelayan kembali, pemuda miskin itu menyerahkan tali pancingnya bersama ikan dalam keranjang.

“Anak muda, ambillah semua ikan itu. Kamu berhak memperolehnya karena telah bekerja,” kata sang nelayan sembari menyerahkan keranjang berisi ikan-ikan tersebut.

Pemuda miskin itu menerimanya dengan senang hati. Ketika pemuda miskin itu hendak beranjak pergi, sang nelayan berujar, “Anak muda, kamu masih sangat muda. Energimu masih sangat banyak dan kamu tampak sehat bugar. Aku ingin memberikan sedikit nasihat bagimu. Jangan pernah menghabiskan waktumu untuk berkhayal dan berharap akan mendapatkan sesuatu tanpa bekerja. Sibukkanlah dirimu, lemparkan “kail” yang kamu miliki dan wujudkan impianmu.”

Pemuda miskin itu hanya terdiam dan menyadari kekeliruannya selama ini. (halaman 40-42)

Cerita tentang pemuda di atas seolah hendak menyindir kita. Bagaimana tidak, kita terlalu sering menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak produktif. Terutama bagi kaum rebahan. Kita perlu mengubah semua kebiasaan itu, agar waktu kita bermanfaat.

Waktu ibarat air yang mengalir, tidak mungkin akan kembali lagi. Waktu yang sudah berlalu tidak mungkin dapat diputar kembali. Maka sebaiknya janganlah menyia-nyiakan kesempatan atau waktu yang telah diberikan karena waktu tidak akan pernah bisa terulang lagi.

 

Judul Buku    : Seni Menjalani Hidup Penuh Makna

Penulis            : Muhammad Syafi’ie El-Bantanie

Penerbit          : Quanta (PT Elex Media Komputindo)

Cetakan pertama, Februari 2020

Tebal               : 182 halaman; 14 x 17 cm

ISBN               : 978-623-00-1376-8

 

Tentang Perensi

Khairul Anam nama panggilan dari Muhammad Khairul Anam. Lahir di Surakarta, 14 Februari 1998. Mahasiswa IAIN Surakarta. Alamat rumah: Semanggi RT 05 RW 16 Pasar Kliwon, Surakarta. Aktif menulis cerpen, puisi, dan resensi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Novel yang pernah di terbitkan: Cahaya-Nya(Oase Pustaka, 2016)

 

Komentar

News Feed