oleh

Kisah Mistis di Balik Pembangunan Masjid Berumbung

Kabarmadura.id/Sumenep-Masjid Berumbung di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep memang tidak terlalu menghiasi pemberitaan. Bahkan, pencarian di google sulit mencari masjid tersebut. Untungnya masih tertera di google map.

Padahal, masjid tersebut sudah berdiri sejak abad ke-18. Selain itu, masjid tersebut lebih tua dari Masjid Jamik Sumenep yang juga didirikan pada abad tersebut.

Selain menjadi jejak penyebaran agama Islam oleh Kiai Abdul Wali Berumbung di timur daya Sumenep, terdapat sisi mistis dari pembangunan masjid tersebut. Itu diceritakan Ketua Takmir Masjid Berumbung Maskur.

Menurutnya, sebelum mendirikan masjid itu, yakni sekitar 1687 tahun silam, Kiai Berumbung bertapa di daun siwalan. Akan tetapi, dia menyebut, tidak ada yang tahu spesifik posisi pertapaannya antara di sekitar pohon, di atas pohon, atau di dalamnya. Pria yang berusia 47 tahun ini mrnambahkan, juga tidak ditemukan titik pohon siwalan yang dimaksud.

Selain itu, Maskur menceritakan, Kiai Berumbung bertapa di sumur yang berada di samping utara Masjid Berumbung. Hingga saat ini, sumur itu masih hidup dan tidak termakan usia. Akan tetapi, kondisinya kurang terawat; hanya diberi tutup  sebagai penyaring daun agar tidak mencemari airnya.

Saat bertapa di situ, Kiai Berumbung melihat cahaya muncul di titik Masjid Berumbung itu. Bahkan, usai membuka mata, dia melihat sudah siap empat tiang yang hingga saat ini masih berfungsi. Bedanya, hanya dilapisi beton agar lebih kuat menyangga masjid tersebut.

“Setelah bertapa di daun siwalan dan sumur, Kiai Berumbung merasa ada cahaya di titik itu. Usai membuka mata, sudah siap empat tiang untuk menyanggah, baru pembangunannya dilanjutkan,” ceritanya kepada Kabar Madura, Rabu (29/7/2020).

Selain jejak sumur dan empat tiang yang tersisa, mimbar, pintu dan kubah masjid juga sudah berusia tua seperti masjidnya.

Yang paling menarik, masjid tersebut menggunakan kubah guci yang berisi air. Bahkan, air di dalam guci itu diperebutkan, lantaran diyakini membawa berkah.

Guna menyiasati banyaknya peminat air di dalam guci itu, Maskur menuturkan, saat guci diturunkan ketika masjid hampir roboh awal tahun 2000, air di dalam guci dituangkan ke sumur tempat Kiai Berumbung bertapa.

“Yang butuh airnya bisa ambil langsung di sumurnya. Banyak orang yang ambil, karena kami yakin berkah airnya itu sama,” tandasnya. (idy/nam)

Komentar

News Feed