Kisah Nurjati, Bertahan Hidup dari Barang Bekas

  • Whatsapp
Nurjati: Menggantungkan hidup melalui bekerja sebagai pemulung.

Kabarmadura.id-Manusia tidak bisa memilih jalan hidup sesuka hati, dan harus banyak bersyukur, apalagi masih diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga. Hal itu yang selama ini terngiang dalam benak Nurjati yang hidup sebatangkara, bahkan harus bertumpu pada belas kasih sesama untuk bertahan hidup.

MOH RAZI, SUMENEP

Mbah Nur begitu orang menyapa Nurjati. Perempuan yang hidup dengan keterbatasan ini kondisinya sangat memperihatinkan. Bahkan sejak tahun 1995, Mbah Nur harus menjalani hidup menjanda tanpa anak setelah ditinggal sang suami menghadap Ilahi.

Meski tidak begitu beruntung, namun perempuan kelahiran Sumenep 1 Juli 1938 itu, masih bisa tersenyum lantaran saat ini bisa tinggal dengan salah satu keponakannya, meski secara ekonomi statusnya sama-sama kurang berkecukupan. Sehingga tidak jarang Mbah Nur harus berjuang sendiri untuk dapat bertahan hidup.

Meski hidup serba kekurangan, Mbah Nur tetap sabar menjalani hidupnya, bahkan kesabaran tetap menemaninya, saat beberapa tahun lalu, musibah kecil mendatanginya, lantaran sebagian tubuh yang mulai keriput terbakar api saat memasak, ditambah kartu sehat miliknya dinyatakan tidak berfungsi oleh pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di tempatnya.

Saat itu, karena krisis biaya, Mbah Nur terpaksa dibawa pulang dari Puskesmas oleh keponakannya, dan terpaksa dirawat secara pas-pasan di rumahnya.

“Tidak bisa kata dokter itu, sehingga jarum infus pun saya harus bayar, ia mau gimana lagi saya dirawat di rumah yang biasa menampung saya ini,” katanya, Rabu (16/10)

Hampir setengah tahun dirinya tergolek di tempat tidu, tanpa bisa beraktivitas. Bahkan untuk makan, buang hajat, mandi, dan yang lainnya, harus dibantu oleh keponakannya, yang secara nasab kekeluargaan bukan keponakan asli.

Dirinya sadar, untuk bertahan hidup tidak bisa hanya mengharap belas kasih orang lain. Terlebih kata Mbah Nur, dirinya sudah terlalu sering menyusahkan orang lain. sehingga, ketika kesehatannya mulai membaik, meskipun luka-luka masih belum sembuh total dan tidak bisa berjalan secara normal, dirinya memaksakan diri untuk mencari penghidupan.

Sebab Mbah Nur menceritakan, dirinya tidak pernah disentuh bantuan dari pemerintah. Bahkan dia tidak pernah tahu beragam jenis bantuan yang diprogramkan oleh pemerintah.

“Apa yang mau saya makan kalau saya tidak kerja, kasian keponakan saya, dia itu punya anak, sedangkan penghasilannya pas-pasan,” imbuh nenek asal Desa Kertasada Kecamatan Kalianget tersebut.

Dirinya bercerita, meski dengan kondisi wajah menahan sakit, dia berjalan menuju tempat biasa dirinya memulung barang bekas di area Polres Sumenep. Padahal jarak dari Desa Kertasada ke Polres Sumenep tidaklah dekat. Namun dirinya tetap melakukan aktivitas yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya itu.

Saat hendak pulang memulung, Mbah Nur mengaku, terkadang dirinya ikut angkot yang ongkosnya dibayari oleh salah satu anggota kepolisian. Bahkan, dirinya diizinkan keliling masuk di area Mapolres Sumenep.

Sementara untuk berangkat memulung, Mbah Nur mengaku, setiap jam 12 malam dirinya berangkat ke salah satu rumah di pinggir jalan tempat tukang becak biasa melintas. Sebelum subuh Mbah Nur dibangunkan oleh tukang becak tersebut untuk nebeng menuju tempat dirinya memulung.

“Tukang becak itu kan jemput belanjaan setiap hari, saya dibangunkan pas jam 3 dini hari itu, itu setiap hari seperti itu, pagi biasanya saya pulang ikut angkot,” paparnya. (pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *