oleh

Kisah Pilunya Mantan Kades yang Ditipu Karyawan BRI Rp2,3 Miliar

KABARMADURA.ID,Pamekasan – Tergiurr dengan tawaran menguntungkan, mantan Kepala Desa Lesong Laok Kecamatan Batu Marmar Pamekasan, Sawawi, tidak berpikir lama. Dia ikut program investasi yang ditawarkan perbankan. Belakangan baru diketahui bahwa program yang ditawarkan karwawan BRI Pamekasan tersebut ternyata fiktif.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Tidak hanya kepada Sawawi, program yang ditawarkan karyawan BRI bernama Muhammad Lukman Anizar tersebut, juga menyasar sejumlah korban lain. Sedikitnya, 20 orang dengan total kerugian sekitar Rp8 miliar terdampak tipu daya pria yang akrab disapa Anis itu.

Sawawi mengaku kenal baik dengan Anis. Bahkan saat Anis masih bertugas sebagai karyawan BRI unit Waru, sering membantu Sawawi meloloskan pengajuan pinjaman uang dengan agunan BPKB miliknya.

Mulanya, Sawawi mengira Anis merupakan orang yang jujur, karena kerap membantunya. Hingga saat Anis menawarkan program perbankan dengan modus investasi dan lelang, dirinya langsung mau. Terlebih, dirinya sempat menerima untung yang dijanjikan.

“Saat dipindah dari unit Waru ke kantor cabang, dulu bilangnya naik pangkat,” ungkapnya.

Naas, ternyata program tersebut tidak lebih dari sebuah modus penipuan. Dia menyadarinya saat Anis sudah tidak bisa dihubungi sejak tanggal 22 September lalu. Akibatnya, dia harus menelan kerugian mencapai Rp2,3 miliar.

Dia mengaku sangat tertekan dengan kejadian tersebut. Pasalnya, semua uang yang disetorkannya kepada Anis, tidak semua miliknya. Dia sendiri sempat mengajak sejumlah orang untuk bergabung mengikuti program fiktif yang ditawarkan Anis.

Mengetahui hal itu, semua korban mendatangi rumahnya dan menekannya untuk segera menyelesaikan persoalan ini dengan mengganti seluruh uang mereka. “Kalau uang saya sendiri Rp994 juta. Milik anak perempuan saya Rp1,82 miliar. Milik anak laki-laki saya Rp180 juta,” ucapnya rinci.

Kini, dirinya mengaku was was untuk pulang ke rumahnya. Sebab para korban yang dikoordinirnya mendesaknya bertanggung jawab dan mengganti rugi. Sementara dirinya juga tidak lebih dari korban penipuan. Dia khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada keluarganya.

Karenanya, dia memilih untuk menginap di depan gedung BRI dan menuntut pihak BRI bertanggung jawab atas tindakan amoral yang dilakukan karyawannya. Menurutnya, selain dia butuh kepastian dari pihak BRI, berada di lokasi itu jauh lebih aman daripada di rumahnya.

“Istri dan cucu saya ajak ke sini. Saya takut mereka diculik, kalau di sini kan aman,” ungkapnya.

Dia mengaku tidak akan berhenti menginap di depan kantor BRI hingga pihak BRI mengambil sikap untuk mengganti semua kerugiannya. Sebab, diakui atau tidak, tatkala Anis melakukan penipuan tersebut, dia masih berstatus karyawan BRI.

Sebagai orang awam, dia mengaku tidak tahu dan tidak mampu untuk menempuh jalur hukum. Cara satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya dengan terus mendesak BRI bertanggung jawab dan mengganti rugi.

Namun demikian, meski BRI harus menutup pelayanan akibat aksinya, dia tidak bermaksud memperburuk situasi. Bahkan dirinya lebih memilih mati karena ditembak aparat daripada dia harus mati dibunuh para korban yang lain. (waw)

 

Komentar

News Feed