Kisah Spiritualitas Abdul Wahid Hasan Bersama Gus Dur

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/SUMENEP-Jaringan Gus Durian Sumenep menggelar diskusi tentang spiritualitas Gus Dur, dengan mengundang salah satu dosen Institut Ilmu Keilmuan Annuqayah (Instika) yaitu Abdul Wahid Hasan.

Abdul Wahid Hasan menyampaikan kisah-kisah luar biasa antara dirinya dengan Gus Dur. Sosok yang sudah wafat sejak tahun 2009 tersebut tetap menjadi tempat pengaduannya, setiap kali ada masalah yang dialami.

“Kalau butuh solusi, kalau sudah tersambung itu enak. Beliau datang walaupun melalui mimpi dan memberikan pencerahan-pencerahan,” imbuhnya.

Semua kisah yang dialami dengan sang guru bangsa merupakan nilai kenikmatan yang luar biasa. Abdul Wahid Hasan melanjutkan, salah satunya, keterlambatan mempunyai momongan setelah dua tahun lebih melangsungkan pernikahan. Hal itu merupakan kegundahan yang luar biasa. Ia mengaku sudah melakukan berbagai cara, dari yang masuk akal maupun tidak masuk akal, tetapi tetap saja usaha itu masih nihil.

Pada akhirnya, ia teringat pada sosok yang dikaguminya, ia terus-terusan bertawasul kepada Gus Dur, tak beberapa lama ia kembali bermimpi dan meminta agar didoakan.

“Belum saya doakan ya,” dawuhnya dalam mimpi tersebut.

Tak lama dari peristiwa itu, istrinya resmi dinyatakan positif hamil, dari jam 12 malam sampai pagi kedua sejoli itu bermunajat sebagai wujud syukur.

Beberapa tahun kemudian istrinya kembali mengandung anak kedua. Abdul Wahid dari sebelum itu berkeinginan mempunyai momongan perempuan, tetapi anak kedua yang lahir tetap laki-laki. Ia sudah mulai resah, berbagai cara kembali ia lakukan bahkan lebih dari sebelum dikaruniai momongan pertama.

Akhirnya jawaban itu datang, ada saran yang melintas agar berziarah ke makam Gus Dur. Padahal tidak sebulan dari saran itu ia telah berkunjung bersama sanak famili ke makam yang dimaksud. Sehingga Abdul Wahid mencoba menawar ke yang memberikan saran itu untuk berziarah ke makam yang lebih dekat sebagai pengganti. Tetapi tidak ada tawar menawar jika ingin momongan perempuan harus segera ke makam Gus Dur.

Semua saran dilakukan secara prosedural, akhirnya, sosok anak perempuan resmi dilahirkan dari istri penulis buku Spritualitas Gus Dur itu.

Sebelum memungkas dialog tersebut, ia berpesan agar jangan sungkan untuk bertawasul yang memang sudah mencapai kemuliaan, salah satu caranya adalah dengan sering hadir di majelis yang membicarakan para tokoh hebat.

“Seperti forum seperti ini, sangat luar biasa efek positifnya,” pungkasnya. (ara/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *