Kisah tentang Pahitnya Hidup Lasiyah

  • Whatsapp

Peresensi         : Ridwan Nurochman

Bekisar Merah merupakan novel karya penulis kenamaan Indonesia – Ahmad Tohari yang mengisahkan tentang kepahitan hidup seorang wanita bernama Lasiyah. Lasi merupakan wanita dengan paras sangat cantik dan mirip gadis Jepang. Oleh karena kecantikan tersebut, orang-orang menyebutnya bekisar merah yang berarti hiasan yang indah. Novel ini juga mengisahkan tentang kehidupan orang-orang desa Karangsoga yang bekerja sebagai penyadap nira.

Bacaan Lainnya

Karangsoga, sebuah desa yang dipenuhi pohon kelapa sehingga masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai penyadap nira. Di desa Karangsoga ini, Darsa memiliki pekerjaan sebagai penyadap nira. Dia memiliki seorang istri yang sangat cantik rupawan bernama Lasiyah. Lasi merupakan anak Mbok Wiryaji. Sementara Mbok Wiryaji adalah istri dari Wiryaji yang merupakan masih paman Darsa. Dalam kesehariannya, Lasi selalu membantu suaminya untuk mencari kayu bakar dan mengolah nira hasil sadapan Darsa menjadi gula. Kehidupan masyarakat Karangsoga yang mayoritas penyadap nira sangatlah miskin. Sebab harga satu kilo gula selalu lebih rendah dari satu kilo beras. Meski demikian, masyarakat hidup dalam ketenangan. Mereka tetap saja setia dengan pekerjaan sebagai penyadap nira. Mereka menjual gula tersebut kepada Pak Tir, seorang juragan gula kaya di Karangsoga.

Suatu hari saat sedang hujan, Darsa bersikukuh untuk tetap menyadap nira, namun Lasi melarangnya. Ketika hujan baru saja reda, Darsa akhirnya nekat pergi ke kebun dan memanjat pohon kelapa. Namun nahas, Darsa jatuh dari pohon kelapa, dan di bawa pulang oleh Mukri. Kemudian Darsa dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa pihak rumah sakit hasil menunjukkan bahwa ada saraf yang terganggu. Karena tidak memiliki biaya untuk perawatan di rumah sakit, akhirnya Darsa dibawa pulang. Sebenarnya Lasi berniat untuk menjual tanah miliknya, namun hal itu urung dilakukan.

Ternyata Darsa terkena gangguan saraf kandung kemih dan penyakit impoten. Akhirnya Darsa dirawat di tempat Bunek, seorang dukun bayi dan pijat. Setelah beberapa bulan dirawat di tempat Bunek, Darsa mengalami kemajuan. Kini dia semakin jarang ngompol. Bahkan dia bisa sembuh seperti sediakala. Akan tetapi, Darsa dijebak oleh Bunek dengan menyuruhnya membuktikan kejantanannya kepada Sipah, anak bungsunya. Sipah ialah anak bungsu Bunek yang pincang dan belum menikah. Bunek tak ingin anaknya menjadi perawan tua, sementara Darsa merasa tidak enak bila menolak permintaan tersebut, sebab Bunek telah menyembuhkannya.

“Dunia Las terus jungkir-balik dan malang-melingang. Segala sesuatu melayang, berhamburan, dan berbaur dengan sejuta kunang-kunang, sejuta bintang dan sejuta kembang api yang meledak bersama. Ada ular belang siap mematuk. Ada kalajengking. Lalu ada suara berdenting pecah dalam liang telinga Lasi. Lalu segalanya hening. Yang jungkir-balik perlahan mereda” (hal. 55)

Peristiwa ini menjadi awal kehancuran mahligai pernikahan Darsa dan Lasi. Hal ini yang akhirnya membuat Lasi minggat ke Jakarta dengan memaksa Pardi, supir truk yang biasa mengantar gula ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, untuk sementara Lasi dititipkan Pardi di rumah makan milik Bu Koneng. Beberapa hari kemudian Pardi datang untuk mengajak Lasi pulang ke Karangsoga. Namun Lasi menolak ajakan tersebut. Di tempat Bu Koneng, Lasi kerap membantu di dapur. Dari sinilah, nasib Lasi yang miskin kemudian berubah.

Dengan liciknya, Bu Koneng kemudian menjual Lasi kepada Bu Lanting secara halus. Lasi yang wanita desa dengan segala keluguannya menurut saja ketika Bu Lanting mengajaknya tinggal di rumahnya yang mewah. Di rumah Bu Lanting, Lasi dimanjakan sedemikian rupa. Bu Lanting adalah wanita yang memiliki niaga segala benda antik, batu berharga sampai keris dan jejimatan. Dan perempuan muda. Dan akhir-akhir ini, dia sedang giat mencari daun muda istimewa untuk memenuhi pasar istimewa kalangan tinggi. Dan Lasi adalah daun muda yang akan dia jual kepada Handarbeni, seorang overste purnawira yang sedang mencari “bekisar” untuk dijadikan gundik. Istilah bekisar disematkan kepada Lasi karena memang Lasi seorang keturunan Jepang. Ayah Lasi adalah tentara Jepang yang tertarik dengan Mbok Wiryaji muda. Namun, setelah menikahi Mbok Wiryaji muda tentara Jepang itu pergi semasa Lasi masih dalam kandungan dan dikabarkan telah meninggal.Sewaktu kanak-kanak, Lasi seringkali diejek oleh teman-temannya dengan sebutan yang kurang pantas yaitu Lai-pang atau Lasi anak Jepang. Hanya Kanjat anaknya Pak Tir yang tidak pernah mengejek Lasi. Bahkan Kanjat selalu ingin melindungi Lasi, meski umurnya lebih muda dari Lasi.

Ketika diperlihatkan foto Lasi dalam dengan pakaian kimono (pakaian Jepang), Handarbeni langsung tertarik. Katanya Lasi mirip dengan artis Jepang yang selalu menjadi khayalan romantisnya yaitu Haruko Wanibuchi. Lasi yang lugu tidak bisa menolak tawaran Bu Lanting untuk dirinya sebagai pendamping Handarbeni karena Lasi merasakan hutang budi. Dengan terpaksa, Lasi akhirnya menerima permintaan Bu Lanting. Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh kepada Pak Handarbeni, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main. Lebih lagi dengan pernyataan Pak Handarbeni yang sangat menyakitkan hatinya. Kebahagian yang dirasakannya berubah menjadi kepahitan dan kemalangan.

“Las, aku memang sudah tua. Aku tak lagi bisa memberi dengan cukup. Maka, bila kamu kehendaki, kamu aku izinkan meminta kepada lelaki lain. Dan syaratnya hanya satu: kamu jaga mulut dan tetap tinggal di sini menjadi istriku. Bila perlu, aku sendiri yang mencarikan lelaki itu untukmu” (hal.192)

Perkawinan yang hanya main-main itu kemudian berakhir dengan perceraian. Pak Handarbeni menceraikan Lasi dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan negeri ini, yang ternyata telah lama menyukai Lasi sejak pertama melihatnya bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup ditengah kemewahan yang serba mudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian Lasi terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Mereka kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengan Kanjat. Namun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta. Ketika sampai di Jakarta Lasi mengatakan kepada Bu Lanting bahwa dia sudah menikah dengan Kanjat dan kini tengah mengandung buah cintanya. Namun kepahitan kembali menghampiri hidup Lasi, kini dia ikut terseret kasus yang menimpa Bambung. Bambung dituduh telah melakukan korupsi kelas kakap. Syukurnya Lasi akhirnya bisa kembali bersama Kanjat dengan jaminan pengacara yang dibawa Kanjat. Mereka kemudian pulang ke Karangsoga dengan truk Pardi.

Secara keseluruhan novel ini digarap dengan apik. Lebih lagi, dengan selipan-selipan religius yang disisipkan penulis. “Dengarlah, anak muda, orang sebenarnya diberi kekuatan oleh Gusti Allah untuk menepis semua hasrat atau dorongan yang sudah diketahui akibat buruknya. Orang juga sudah diberi ati wening, kebeningan hati yang selalu mengajak eling. Ketika kamu melanggar suara kebeningan hatimu sendiri, kamu dibilang ora eling, lupa akan kesejatian yang selalu menganjurkan kebaikan bagi dirimu sendiri. Karena lupa akan kebaikan, kamu mendapat kebalikannya, keburukan” (hal.84). Dengan alur yang maju mundur membuat novel ini semakin menarik. Sayang masih ada satu-dua kalimat yang salah ketik. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini sangat menarik untuk dibaca.

Judul               : Bekisar Merah
Penulis            : Ahmad Tohari
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : 2019
Tebal               : 360 halaman
ISBN               : 978-602-06-0176-2

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *