KM Goes to Campus, Berbagi Ilmu Jurnalistik di LPM Fajar

  • Whatsapp
GIAT BELAJAR: Reporter Kabar Madura saat mengisi pelatihan kepenulisan di kampus Instika Guluk-Guluk Sumenep.

Kabarmadura.id/SUMENEP-Mendobrak semangat menulis bagi kader muda, mahasiswa yang tergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep kembali melaksanakan karantina kepenulisan dengan menghadirkan jurnalis Kabar Madura (KM) pada Minggu, (17/2) di Rusunawa Instika.

Ketua LPM Instika Abd. Waris menjelaskan, kegiatan itu dilaksanakan selama satu pekan, sejak  16-22 Maret 2019 dengan menghadirkan para jurnalis muda Kabar Madura.

“Tentu ini adalah upaya regenerasi para kader LPM dan memantapkan kepenulisan mahasiswa yang setiap harinya diwajibkan menulis banyak karya dan menghafal kosakata populer,” ujarnya.

Mibahul Munir, wartawan KM yang mengisi pelatihan dengan materi teknik wawancara, merasa bernostalgia dengan kegiatan itu.

“Saya dulu pernah mengikuti semacam karantina seperti ini, dan ini sangat bermafaat untuk para kader penulis, sebab selain menulis dengan praktik, kader juga perlu belajar belajar teori-teori, termasuk teori wawancara ini,” ujarnya di sela-sela mengisi kegiatan tersebut.

Ia pun banyak bercerita tentang dirinya semasa nyantri, bahwa tradisi menulis harus dibangun sejak dini.

Dalam hal teknik wawancara, wartawan harus mempersiapkan banyak hal, salah satunya materi atau tema yang hendak diliput, peralatan yang harus disediakan sebelum dan hasil liputan.

“Wawancara itu mudah, bisa wawancara langsung dan wawancara tidak langsung,” paparnya.

Selain memiliki materi dan peralatan yang perlu dipersiapkan, ia juga menceritakan pengalamannya, bahwa wartawan harus berani dan sopan menghadapi narasumber.

“Kalau draf wawancara kita sudah terekam di otak, kita tinggal butuh mental keberanian. Kalau mentalnya sudah berani, kita tinggal datangi narasumber,” ujar Munir.

Sebelum mengakhiri materi yang  disampaikan, ia berpesan bahwa tradisi Pesantren Guluk-Guluk Dalam hal tulis menulis sudah lazim dan mengakar kuat.

“Tradisi menulis,  wajib kita rawat sebab Guluk-Guluk sudah banyak melahirkan banyak penulis, mari kita rawat bersama, untuk merawat itu, kita harus terus menulis dan sering adakan pelatihan kepenulisan,” jelasnya. (mun/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *