Koleksi Museum Mandilaras Pamekasan Tidak Murni Peninggalan Keraton 

News, Headline188 views

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Ratusan koleksi barang di Museum Mandilaras Pamekasan tidak murni berasal dari peninggalan keraton Pamekasan. Sebagian besar koleksi tersebut berasal dari pemberian masyarakat sekitar atau instansi pendidikan. Pasalnya, peninggalan barang-barang dari kerajaan tidak ada jejak asalnya. 

Juru Pelihara Museum Mandilaras Pamekasan Muhammad Maulidi mengatakan, meski bukan berasal dari peninggalan keraton Pamekasan, koleksi-koleksi di dalam museum tersebut memiliki nilai sejarah masing-masing. Sebab, di dalamnya terdapat sejarah masa lampau yang bisa diajarkan kepada pengunjung. 

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

“Ada ulekan dari batu, bangku sekolah zaman penjajahan, dan mesin ketik. Dari benda-benda itu anak-anak bisa mengetahui bahwa zaman dulu kondisinya seperti ini. Dan sebagian barang-barang di sini memang berasal dari lembaga sekolah, seperti papan tulis dulu kayak apa, bentuk belnya juga gimana. Karena yang asli dari ekraton tidak ada,” jelasnya, Minggu (26/3/2023). 

Baca Juga:  Realisasi Perpustakaan Keliling Minim Anggaran, Komisi IV DPRD Pamekasan Minta DKP Ajukan Anggaran Tambahan

Dikatakannya, terdapat 472 koleksi Museum Mandilaras. Seperti alat dapur berbahan dasar kayu dan batu, manuskrip, keris, kartu Identitas penduduk (KTP) masa penjajahan, miniatur Pendopo Runggosukowati sebelum direnovasi, dan lainnya. 

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan Siti Fatimah menjelaskan, peninggalan keraton dihancurkan oleh Belanda, sehingga tidak tersisa.  

Hal tersebut menjadi penyebab ratusan koleksi museum tersebut tidak murni dari peninggalan keraton Pamekasan. Kendati demikian, pihaknya akan melakukan kajian koleksi museum dan cara pemeliharaan. Harapannya agar koleksi yang terdata jelas asal muasalnya.  

Baca Juga:  Terdampak Liga 1, Pamekasan Terpaksa Turunkan Target Pajak Hiburan

Dia berharap, meski tidak murni dari peninggalan keraton, antusias masyarakat tetap tinggi berkunjung ke museum, utamanya anak didik. 

“Murni tidaknya belum jelas. Tapi yang pasti, semua peninggalan keraton dihancurkan di zaman Belanda. Makanya, kami lakukan kajian koleksi biar asal usul bendanya jelas,” ungkap Fatimah kepada Kabar Madura. 

Pewarta: Safira Nur Laily 

Redaktur: Wawan A. Husna 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *