Komisi D Jenguk Ibu Bayi yang Meninggal, Disimpulkan RSIA Dr Syafi’i Lalai

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) SEDIH: Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan menanyakan kronologis bayinya yang meninggal.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN– Dugaan human error yang dilakukan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Dr Syafi’i, menarik perhatian  Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan. Para legislator yang membidangi kesehatan itu, mengunjungi bidan desa dan korban, Kamis, (22/1/2021).

Dari hasil kunjungan rombongan Komisi D itu, disimpulkan bahwa rumah sakit lalai dalam menangani ibu hamil. Sehingga menyebabkan bayi terlahir prematur dan meninggal dunia pasca operasi caesar.

Bacaan Lainnya

Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan mengatakan, pihaknya akan memanggil kembali RSIA Dr Syafi’i dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan. Wakil rakyat tersebut ingin menemukan faktor yang menyebabkan kejadian tersebut, apakah hanya sebatas human error atau adanya malapraktik.

“Kami pastikan dari korban seperti apa kronologis sebenarnya. Karena ada poin bidan desa menganjurkan untuk melakukan caesar di RSIA Dr Syafi’i,” ujarnya

Lanjut dia, usia dikonfirmasi kepada bidan setempat, ternyata bidan tersebut mengaku tidak memberi pengarahan apapun kepada pasien untuk ke rumah sakit tertentu. Keterangan bidan Desa Perreng, Kecamatan Burneh itu, menyatakan membebaskan korban untuk memeriksakan di mana saja.

“Dari keterangan bidannya, dia tidak mengarahkan, tapi malah menyuruh memilih mau ke mana USG-nya,” jelasnya.

Selain menilai adanya kelalaian pihak rumah sakit, Nur Hasan juga melihat ada sedikit kelalaian dari bidan tersebut, meski tidak fatal. Kelalaian yang dilakukan bidan desa tersebut adalah tidak ada informed consent-nya.

Padahal, seharusnya bidan tersebut harus memberikan informasi dari dokter atau perawat kepada pasien sebelum suatu tindakan medis dilakukan.

“Semestinya dokter atau tenaga kesehatan memberikan informasi kepada pasien sebelum melakukan tindakan medis lebih jauh atau surat pernyataan,” jelasnya.

Dia juga melihat bahwa RSIA Dr Syafi’i tidak melakukan USG lagi sebelum melakukan operasi. Mereka hanya mengacu pada USG yang pertama saat pasien datang ke rumah sakit sekitar tanggal 6 Desember lalu. Sedangkan, operasi dilakukan pada 26 Desember 2020.

“USG pertama dinyatakan matang untuk dilakukan operasi. Sedangkan usai operasi bayi tersebut dinyatakan kurang umur dan berat badannya kurang. Dari sini kami menyimpulkan adanya kelalaian atau human error,” tuturnya.

Sementara itu, Bidan Desa Perreng, Burneh Eko Wahyuningsih menuturkan bahwa sejak awal, ibu hamil dengan resiko tinggi harus mendapatkan pendampingan. Dia mengelak telah mengarahkan korban yang bernama Siti Khodijah untuk melakukan pemeriksaan USG ke rumah sakit.

“Bukan diarahkan, habis kontrol di dokter kandungan pada usia 4 bulan kehamilan. Dokter Moel mengingatkan bahwa bulan Desember waktunya USG kembali,” jelasnya.

Karena dokter sebelumnya terkena Covid-19, Bidan Eko menyampaikan bahwa semua rumah sakit menyediakan USG. Pasien bisa memilih kemana saja mau melakukan USG.

“Anna Medika, Lukas dan lainnya ada. Ya saya persilakan memilih. Karena lokasi desa kami jauh dari rumah sakit, ibu Khodijah memilih ke situ,” ungkapnya.

Sedangkan berdasarkan kondisi dan umur kehamilan Khodijah, Bidan Eko menuturkan, korban disebut tidak bisa melakukan kelahiran secara normal. Sebab, sebelumnya telah melakukan operasi caesar dua kali. Sehingga, untuk kehamilan ketiga ini tidak boleh secara normal, karena resiko tinggi terhadap ibu dan bayi.

“Untuk umur kehamilan ibu Khodijah, saya tidak bisa menjawab, karena bukan yang ahli dalam bidang itu. Saya hanya pendamping, yang bisa menilai umur kehamilannya sudah cukup atau belum dari USG itu,” pungkasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *