Komisi II DPRD Sumenep: Penerapan Portal Parkir Solusi Kebocoran Retribusi

(FOTO: KM/IMAM MAHDI) LELET: Rencana pembangunan portal parkir di Disperindag Sumenep berkhair kandas. Gaglnya pembangunan itu karena terkendala anggaran.

KABARMADURA.ID | SUMENEP -Rencana pembangunan portal parkir di Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Sumenep berkhair kandas. Wacana yang sudah beberapa tahun digagas itu hingga sampai saat ini belum bisa terealisasikan. Kendati tujuannya untuk meminimalisir kebocoran pada retribusi pasar, namun hal tersebut tidak bisa dilanjutkan karena terkendala anggaran.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Sumenep Ardiansyah Ali Shocibi mengatakan, hampir setiap tahun capaian pendapatan asli daerah (PAD) pasar belum mencapai target. Pada tahun ini dari target Rp1,6 miliar hanya mencapai 84,17 persen atau Rp1.346.675.000.

“Semoga capai target, bahkan semoga melampaui,” ujar dia.

Bacaan Lainnya

Mengenai lambatnya pembangunan portal parkir di Pasar Anom. Diakuinya karena terkendala anggaran. Pihaknya menargetkan pada tahun 2022. Pengadaan portal parkir akan dikerjakan di tiga titik pintu masuk pasar Anom, yakni dari sisi pintu barat, selatan dan utara.

“Insya Allah kurang lebih Rp700 juta untuk pembangunan,” tutupnya.

Sementara itu, anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep Juhari menegaskan, sebenarnya penundaan pengadaan portal parkir sama saja membiarkan PAD pasar bocor. Sebab, selama ini laporan dari masyarakat banyak kejanggalan pada retribusi pasar maupun parkir.

”Capaian PAD pasar tidak mencapai target. Selama ini kami wanti-wanti agar dinas terkait segera rencanakan pengadaan portal parkir. Namun, hingga saat ini tidak kunjung terealisasi,” katanya, Rabu (1/12/2021)

Dia melanjutkan, sistem portal parkir digunakan untuk mengurangi kebocoran. Jika menggunakan portal, akan lebih mudah melakukan pengawasan. Sebab, semuanya bisa dikontrol dengan sistem.

Penerapan sistem portal bisa dikontrol dengan kamera pengawas. Selama ini penyebab dugaan terjadinya kebocoran karena pencatatan yang tidak tertib. Petugas parkir dicurigai ada yang tidak jujur. Namun, jika sistem portal sudah diterapkan, hal itu mustahil dilakukan.

“Jika ada yang berbohong, bisa langsung cek di portal. Petugas tidak bisa berbohong. Semuanya sudah tersistem,” tegasnya.

Sepanjang 2020 lalu, PAD dari retribusi parkir pasar hanya sebesar Rp39 juta. Pihaknya menduga ada kebocoran di sektor itu. Penyebab itu apakah karena ada permainan atau murni kelalaian dinas. Itu perlu ditelusuri bersama.

“Tahun 2021 juga masih minim dan sulit capai target,” tuturnya.

Reporter: Imam Mahdi

Redaktur: Mohammad Khairul Umam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan