Komitmen Asprim Kenalkan Pariwisata Madura ke Kancah Global, Upaya Mengubah Stigma Negatif Keberadaan Destinasi Wisata 

News128 views

KABARMADURA.ID | Menjadi kelompok sadar akan wisata mengharuskan mampu melakukan pengembangan kepariwisataan berdasarkan potensi lokal dan kreativitas serta inovasi. Dengan adanya kelompok sadar wisata itu, program atraksi pariwisata semakin berwarna dengan hadirnya berbagai sajian untuk menarik para pengunjung maupun wisatawan. Hal itulah yang dilakukan  sekelompok orang yang mengatasnamakan Asosiasi Pariwisata Madura (Asprim) Pamekasan. Komunitas ini konsentrasi dalam pemenuhan sajian berbeda demi memajukan wisata-wisata yang ada di Bumi Ratu Pamelingan. 

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Koordinator Asprim Pamekasan Moh. Arifin Hanifi menceritakan, berdirinya Asprim bermula atas keprihatinan sekelompok masyarakat terhadap sektor pariwisata Madura yang tidak memiliki wadah dalam proses kemajuannya, baik dalam pengelolaan wisata maupun manajemen brandingnya. Hal itu berimbas pada sepinya tempat wisata.

Dirinya beserta rekan-rekannya meyakini, bahwa wisata di Pulau Madura memiliki potensi yang cukup untuk dikembangkan. Terlebih banyak wisata-wisata baru yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, namun sepi pengunjung. Atas dasar itulah, Asprim mulai terbentuk. 

Baca Juga:  Berangkat Tahun Ini, 7 Orang di Pamekasan Belum Melunasi Biaya Haji

“Berdirinya sekitar 7 tahun lalu. Adanya Asprim ini diharapkan bisa membawa kemajuan untuk sektor pariwisata di Madura, khususnya di Pamekasan,” katanya kepada Kabar Madura, Minggu (4/6/2023). 

Ipin mengatakan, upaya yang dilakukan Asprim dalam mengembangkan wisata di Pamekasan adalah menarik wisatawan luar Madura untuk mengunjungi destinasi-destinasi wisata yang ada.  Untuk melancarkan aksinya itu, pihaknya bekerjasama dengan beberapa agen travel, tentu targetnya mengenalkan wisatawan asing ke destinasi-destinasi wisata itu. 

Tidak hanya itu, pihaknya juga kerap kali melakukan pelatihan atau pendampingan kepada pengelola wisata mengenai manajemen pariwisata, misalnya mengelola wisata agar tetap indah, cara memberikan pelayanan yang baik terhadap pengunjung, dan membangun branding terhadap wisata tersebut, serta edukasi kepariwisataan lainnya. 

Konsep yang ia terapkan saat pendampingan adalah community based tourism (CBT). Ia menjelaskan, konsep tersebut merupakan pariwisata yang berbasis masyarakat setempat. Artinya, semua pengelola sumber daya manusia (SDM) wisata berasal dari masyarakat desa setempat, begitupun dengan produk yang ditawarkan. Dengan begitu, wisata-wisata yang dikelola itu bisa memberikan dampak terhadap kesejahteraan penduduk sekitar. 

Baca Juga:  Setahun, PMI asal Pamekasan Tembus 230 Orang

Dia mengungkapkan, konsep tersebut sebagai bentuk sinergi dalam memajukan destinasi wisata di Pamekasan. Sehingga destinasi wisata di Pamekasan agar dikenal dan meluas. 

Terbukti, berbagai wisatawan luar Madura mulai berkunjung ke beberapa destinasi wisata di Pamekasan. Tidak hanya bisa menikmati pemandangan yang indah, melainkan juga menikmati makanan khas daerah setempat. 

“Tempat wisata masih dianggap hal yang tabu oleh sebagian orang. Ada yang beranggapan bahwa destinasi wisata itu tempat mesum dan lainnya. Nah, stigma itu yang juga ingin kami buang di masyarakat. Mereka bisa menikmati keindahan wisata tanpa meragukan keamanannya,” terangnya.

Redaktur: Moh. Hasanuddin 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *