oleh

Komunitas Ataretan Jaga Persaudaraan antar Umat Beragama

Istiqamah Serukan Misi Kemanusiaan Meski Dicibir Banyak Orang

Kabarmadura.id/Pamekasan-Hadir di tengah semrawutnya diskursus toleransi, komunitas Ataretan Santri Gus Dur Pamekasan telah banyak menginspirasi banyak orang tentang pentingnya menjaga persaudaraan sebangsa dan setanah air juga merupakan perintah agama.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Ataretan Santri Gus Dur Pamekasan dibentuk pada 22 Maret 2019 lalu. Komunitas ini memiliki sejumlah misi kemanusiaan yang dalam setiap orientasinya yaitu menyerukan toleransi dan persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Terinspirasi dari kebijaksanaan dan keteladanan Gus Dur dalam merawat toleransi, anggota komunitas ini terdiri dari kumpulan anak muda dari berbagai latar belakang dan agama. Hampir semua pemeluk agama yang diizinkan undang-undang ada di komunitas ini.

Saat peringatan hari-hari besar dalam setiap agama, komunitas ini melakukan peringatan dan perayaan. Saat hari lebaran, komunitas ini menggelar halal-bihalal dan silaturrahim meski banyak di dalamnya yang nonmuslim.

Sebaliknya, saat hari besar dalam agama lain seperti saat natal, kompak seluruh anggota komunitas ini ikut merayakan natal, bahkan memenuhi undangan untuk hadir ke Gereja. Begitupula pada setiap agama lain.

Bersatu dalam komunitas yang isinya orang-orang yang berbeda keyakinan, tidak membuat mereka sungkan dan berjarak. Bahkan, mereka dapat tertawa lepas di tengah perbedaan yang sangat fundamental tentang keyakinan beragama.

Sebagaimana diungkapkan salah satu anggota komunitas ini Adi Seputra yang beragama Kristen, dirinya merasa senang bisa tertawa lepas dengan orang-orang yang berbeda agama. Baginya itu hal baru dan jarang ditemukan di komunitas dan daerah lain.

Bahkan menurutnya, dirinya yang selama ini sebagai minoritas, dengan keberadaan Komunitas Ataretan dirinya merasa terlindungi dan dihargai sebagai minoritas. Menurutnya, Indonesia sangat butuh kelompok semacam ini.

Sebab baginya, salah satu penghambat kemajuan negeri ini karena bangsanya belum selesai dengan permasalahan keyakinan pribadinya.

“Bagaimana untuk bersaing dengan negara lain, jika bangsanya masih sibuk mempermasalahkan keyakinan tetangganya,” ucapnya, Minggu (20/9/2020).

Penggerak Komunitas Ataretan Mohammad Abror menuturkan, meski pihaknya sering mendapat cibiran dan stigma negatif dari kelompok intoleran, semangatnya tidak surut untuk selalu menyuarakan misi kemanusiaan dan memberikan perlindungan kepada minoritas.

Menurutnya, setiap manusia memiliki keyakinannya masing-masing, dan selama tidak mengganggu keyakinan orang lain, maka semua orang di negara ini layak mendapat pengakuan dan pelayanan yang sama sebagai warga ngara Indonesia.

“Selama ini kita berekspresi bebas tanpa beban, tertawa tanpa takut diintimidasi. Hingga kita lupa, bahwa ada saudara kita yang telah sekian lama mengurung diri karena merasa tidak sama, tidak bersosial karena merasa minoritas. Kita tidak sadar, kebesaran yang kita miliki membuat mereka kerdil,” ulas pria yang akrab disapa Abong itu. (pin)

Komentar

News Feed