Komunitas “Batan” Gotong Royong Rawat SDA

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) SEMANGAT: Salah satu kegiatan BATAN yaitu getol berdiskusi.

KABARMADURA.ID,SUMENEP-Komunitas Barisan Ajagha Tana Ajagha Na’poto (Batan)sedang gencar-gencarnya mengedukasi masyarakat agar bersikap lebih bijak terhadap isu agraria di Sumenep. Tentu saja tujuannya adalah menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.

Koordinator Batan yang muncul dari timur daya Sumenep, Kiai Dardziri Zubairi, menyampaikan, latar belakang komunitas yang berdiri sejak tahun 2016 ini adalah sebagai respon dari semakin maraknya  penguasaan lahan akibat ekspansi modal di kabupaten paling timur Pulau Madura. .

“Batan ini bukan LSM, bukan pula organisasi formal. Saya menyebutnya sebagai gerakan sosial. Setidaknya mimpi kita begitu. Segala pembiayaan kegiatan Batan atas dasar sumbangan anggotanya. Ini yang paling membanggakan. Kemandirian salah satu ciri yang akan dirawat,” ungkap kiai asal Kecamatan Gapura itu, Minggu (7/3/2021).

Kiai Dardiri melanjutkan, pilihan nama Batan karena keelokannya, meski nama ini juga sama dengan nama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Pilihan tersebut tentu saja juga mempertimbangkan aspek budaya yang kuat. Apalagi ada pesan, jika gotong royong menjaga tanah itu juga berarti menjaga anak cucu atau generasi yang akan datang.

Ketika sudah tidak ada yang peduli,semisal dengan gemar menjual tanah kepada pemodal atau pengusaha, alamat anak cucu di masa yang akan datang akan jadi kuli.

“Karena tidak formal, kegiatannya juga tidak rutin. Jika ada masalah atau hal yang mau didiskusikan, ya kita kumpul. Kalau kumpul yang didiskusikan ya seputar soal agraria. Sebentar lagi bersama Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) akan meluncurkan buku soal habisnya lahan pesisir kita. Ini buku perdana kita,” imbuhnya.

Kiai muda yang eksis di kalangan Aktivitas Sumenep itu berharap, masa depan Batan sebagai wadah diskusi semakin kuat secara kelembagaan, kuat dari sisi pengetahuan ekonomi dan agraria, terampil mengorganisir rakyat, dan terampil melakukan advokasi kebijakan. Juga bisa melakukan riset dan mempublikasikan hasil riset, misalnya dengan menerbitkan buku. Termasuk bisa menggerakkan anak muda agar menjadi petani.

“Kalau bakti sosial kayak sunatan massal ya tentu tidak. Atau penghijauan misalnya belum. Kita saat fokus sebisa kita melakukan kampanye penyadaran soal soal tanah, bahayanya alih fungsi lahan, dan sebagainya kepada warga. Juga melakukan advokasi kebijakan melalui kajian-kajian yang kita lakukan,” pungkasnya. (ara/km58)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *