oleh

Komunitas Bawah Arus, Kekuatan Kecil yang tidak Mengamini Arus Besar

KABARMADURA.ID, Bangkalan-Diawali dari kegelisahan memandang persoalan sastra kita, sejumlah penyair Bangkalan tergerak melahirkan komunitas.

Komunitas Bawah Arus namanya. Komunitas ini dibentuk tahun 2016 silam oleh tiga penyair asal Madura Barat lintas generasi, yaitu Timur Budi Raja, Andy Moe dan Yuni Kartika Sari.

Sastrawan Timur Budi Raja menyebut, pergaulan dan gerakan sastra dalam ruang lingkup lokal maupun nasional, seolah lebih menegaskan citraan dan mengedepankan politik sastra (sosok di luar sastra), dari pada orientasi bagaimana seharusnya sastra bekerja dan mempengaruhi realitas sosial, politik dan lingkungan kebudayaannya.

“Berangkat dari kegelisahan dan kesadaran inilah Komunitas Bawah Arus dibangun. Bawah Arus diniatkan menjadi kekuatan kecil yang tidak mengamini arus besar,” ungkapnya, Minggu (4/10/2020).

Sastrawan Timur Budi Raja (paling kiri) saat diskusi dalam kegiatan Bangkalan Literary Festival 2018 yang diinisiasi oleh Komunitas Bawah Arus.

Ditambahkannya, komunitas ini dicita-citakan menjadi laboratorium sikap bagi setiap personal yang terdapat di dalamnya, serta komunitas counter terhadap dominasi pemahaman, dominasi kesadaran dan dominasi kekuasaan yang telah cukup banyak mengambil ruang dan daya pikir setiap orang.

“Berikutnya, komunitas ini concern dalam gerakan-gerakan sastra dan literasi yang paling mungkin dilakukan,” lanjutnya.

Ditemui di tempat berbeda, penyair Andy Moe menjelaskan, selain gerakan sastra dan literasi, Komunitas Bawah Arus juga akan menjalankan program yang tidak hanya membuat anak-anak muda mencintai sastra dan memperdalam pengetahuan.

“Hanya saja kami sedang mencari format kegiatan yang sesuai. Demi kehidupan berkebudayaan yang lebih baik,” ungkapnya.

“Anggota komunitas ini tidak banyak, tidak sampai 15 orang. Rata-rata penyair,” tambahnya lagi.

Beberapa anggota komunitas ini sudah memiliki 2 hingga 3 antologi puisi atau cerpen. Kegiatan rutin yang dilakukan selain menulis, bedah karya, juga diskusi dan workshop-workshop pemberdayaan.

Sepekan sekali berdiskusi, biasanya membedah puisi, cerpen atau esai. Diskusinya bersifat internal, sedangkan untuk yang bersifat umum biasanya dibuat program berbeda.

“Bangkalan Literary Festival 2018 kemarin merupakan salah satu kegiatan kami yang paling besar. Produknya adalah buku festival yang memberi peta baru kepenyairan mutakhir Indonesia saat ini di Madura, khususnya,” ulas Andi menjelaskan tentang program Bangkalan Literary Festival 2018 yang diinisiasi oleh Komunitas Bawah Arus.

“Dulu kami punya program Piknik Puisi, tapi sementara di masa pandemi (Covid-19, red) ini, kami rehatkan dulu. Ada bedah buku milik penyair Jatim dan nasional, juga workshop kepenulisan,” imbuhnya.

Suasana diskusi dalam kegiatan Bangkalan Literary Festival 2018 yang diinisiasi oleh Komunitas Bawah Arus.

Andy mengaku, komunitasnya memiliki spirit yang sama. Maka dalam setiap agenda, sedapatnya memaksimalkan pemberdayaan komunitas dan jaringan yang dimiliki. Dia berharap, komunitas ini ke depan mampu melahirkan penulis-penulis serius yang memiliki kapasitas pengetahuan dan literatur yang baik, dedikasi yang baik dan kemampuan penulisan yang kuat.

“Punya mental attitude yang baik, punya integritas dan mandiri, baik secara moral mau pun material, dan berani menanggung konsekuensi atas pilihan berkesenian. Tentu saja ini semua merupakan cita-cita besarnya,” pungkas Andi. (ina/waw)

Komentar

News Feed