Komunitas Bengkel Literasi Yayasan Dafa Pamekasan Bangun Pola Pikir dan Asah Kreativitas Pemuda

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) SEMANGAT: Komunitas Bengkel Literasi Yayasan Dafa mengasah kemampuan pemuda Desa Kertagena Pamekasan dengan mengadakan pertemuan agenda rutin setiap pekan.

KABARMADURA.ID – Keberadaan literasi digital menjadi kebutuhan masyarakat di era sekarang. Sebab, dengan hal tersebut, masyarakat bisa semakin memperluas cakrawala berpikir dan meningkatkan kualitas hidupnya. Oleh karena itu, beberapa warga Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, membentuk Bengkel Literasi Yayasan Darul Falah (Dafa).

KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN

Pembina sekaligus perintis Bengkel Literasi Yayasan Dafa Lailatul Qomariah mengungkapkan, pembentukan bengkel literasi berawal dari keinginannya untuk membuka cakrawala berpikir para pemuda khususnya yang berada di Dafa.

Bengkel literasi yang didirikan pada Januari 2021 itu menjadi wadah belajar dan sekaligus tempat mengembangkan kreativitas para pemuda. Selain itu, juga menjadi sarana membangun pola pikir agar lebih maju dan berkembang.

“Awalnya saya ingin membentuk lembaga pers siswa. Cuma kalau itu fokusnya, nanti hanya pada jurnalistik. Jadi, untuk mengisi pembelajarannya, kami bentuk komunitas Bengkel Jurnalistik,” tuturnya, Minggu (17/10/2021).

Selanjutnya, ia mengungkapkan, terdapat banyak kendala yang dijumpainya ketika mendorong semangat belajar atau membaca para siswa. Namun, ia mengaku tetap bersemangat untuk terus melakukan edukasi kepada para siswa.

“Di bengkel literasi ini, semua anggota perempuan, namun kami akan terus mendorong siswa laki-laki juga bisa bergabung untuk belajar secara bersama-sama,” ulasnya.

Perempuan kelahiran Sumenep, 25 Maret 1997 itu menuturkan, ada kiat khusus untuk mengembangkan komunitas yang baru berusia sekitar 10 bulan tersebut. Salah satunya dengan melakukan pendekatan persuasif kepada masing-masing anggota. Selain itu, ia juga berupaya mengidentifikasi potensi siswa. Salah satunya dengan penugasan membuat cerpen ataupun artikel. Bahkan, ada pertemuan khusus setiap pekannya untuk mendiskusikan 1 buku secara intensif.

“Jadi, harapannya tidak berhenti di sini, dan tidak merasa cukup dengan apa yang kami diskusikan, apa yang kami bahas, apa yang kami tulis, setiap minggunya. Tapi agar kami terus menjadi generasi pembelajar,” tuturnya.

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *