Komunitas Rela Tonggul Gencar Lestarikan Budaya Lokal Warisan Sesepuh

(RELA TINGGUL FOR KM) MENJAGA TRADISI: Komunitas Rela Tonggul berkomitmen untuk mempertahankan budaya lokal seperti Mulod Makam, Burdeh Kaleleng, dan Rokat Buju’.

KABARMADURA.ID | Hingga saat ini, Komunitas Remaja Langgar (Rela) Tonggul masih berupaya mempertahankan beberapa budaya lokal di kampung Tonggul Desa Bencelok. Di antaranya Mulod Makam, Burdeh Kalèlèng, dan Rokat Buju’.

FAUZI, SAMPANG

Pendiri Komunitas Rela Tonggul, Gus Tollib, mengungkapkan bahwa sejarah berdirinya komunitas tersebut berawal dari banyaknya santri dan alumni pesantren yang mulai enggan mengikuti kegiatan tersebut. Dia juga beranggapan nasib budaya lokal tersebut berada di ujung tanduk alias hampir punah.

“Saya cepat-cepat membentuk Komunitas Rela Tonggul agar dapat merangkul serta mempertahankan budaya tersebut,” tegasnya.

Komunitas yang baru didirikan tahun lalu itu terdiri dari alumni sepuh dan muda dari tiga kampung. Yaitu Kampung Lembung Desa Plakaran, Kampung Kasong Desa Bencelok, dan Kampung Tonggul Desa Bencelok Kecamatan Jrengik.

“Sebelumnya hampir dari Desa Plakaran daerah barat dan Becelok sebelah timur ngajinya ke Langgar Tonggul ini. Hanya saja sekarang tidak Lagi dikarenakan sudah banyak langgar di setiap kampungnya,” jelasnya.

Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan, untuk kegiatan mulod makam, dilakukan di bulan maulid. Tujuannya untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. “Dilakukan di makam tempat pesareannya Buju’ Tonggul,” tuturnya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya kurang mengetahui asal muasal mulod makam, sebab budaya tersebut dilaksanakan dari dulu oleh para sesepuh. “Dari dulu sudah ada mulod makam, hanya saja saya tidak tahu persis siapa dan tahun berapa pencetus mulod makam ini,” imbuhnya.

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.