oleh

Kondisi Pilu Perantau Madura di Jayapura

Kabarmadura.id-Jayapura tengah melakukan pembatasan wilayah sejak 26 Maret 2020. Ketua Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Provinsi Papua Tajul Anwar, berbagi cerita kondisi pilunya kepada Kabar Madura.

SYAHID MUJTAHIDY, PAPUA

Berdasarkan surat edaran, kata Tajul Anwar, pembatasan wilayah itu membuat tidak terdapat penerbangan ke Jayapura, sedangkan untuk jalur laut hanya  menurunkan sembako.

Kebijakan itu berdampak pada sejumlah perantau Madura di Papua. Banyak dari mereka yang memutuskan kembali ke Pulau Garam sebelum 26 Maret 2020. Bahkan, yang sudah terlanjur membeli tikat di atas tanggal itu, melakukan penjadwalan ulang untuk dimajukan.

Pembatasan wilayah ini masih berlanjut hingga 28 April 2020. Seperti yang tertuang dalam surat edaran, ketika kondisi belum membaik bakal diperpanjang hingga 6 Mei 2020.

“Tanggal 26 Maret ditutup, anak-anak yang jadwal pulang di atas 26 dijadwal ulang untuk dimajukan tiketnya. Di laut juga ditutup, tidak hanya udara, laut sekarang hanya untuk membawa sembako saja. Lockdown-nya ini kan mungkin diperpanjang sampai tanggal 28 April. Nanti kalau masih situasinya tetap, sampai tanggal 6 Mei di surat edarnya,” ceritanya kepada Kabar Madura, Kamis (16/4/2020) pagi.

Di samping pembatasan wilayah, terdapat pembatasan mobilitas di Jayapura, seperti pasar hanya bisa dibuka hingga pukul 18.00 WIT (16.00 WIB), sementara pangkas rambut ditutup total untuk Kota Jayapura. Bagi pangkas rambut di Kabupaten Jayapura masih bisa buka hingga jam 14.00 WIT (12.00 WIB).

Sementara, tukang cukur asal Madura di Kota Jayapura mencapai sekitar 150 orang, lantaran banyak yang kembali ke Pulau Garam sebelum tanggal 26 Maret, tukang cukur sudah sekitar 99.

“Alhamdulillah untuk anggota IKAMA masih bersih, belum ada yang terinfeksi Covid-19. Hanya saja belum bisa kerja, pangkas rambut tutup total, tapi untuk kabupaten tidak (tutup), masih bisa sampai jam 2. Untuk Kota Jayapura sudah tutup. Ini masih mau usul, tanggal 17 April 2020 batas penutupan pangkas rambut ini. Dari 1.400 lebih tukang cukur, anggota kami sekitar 200 orang, tapi di kota ada 150, sekarang sudah tinggal 99 orang,” sambungnya.

Saat ini, Tajul Anwar menyampaikan, pendataan 99 tukang cukur tengah diupayakan untuk bisa mendapatkan izin membuka kembali. Ketika upaya tersebut gagal, dia meminta Wali Kota Jayapaura untuk memberikan bantuan.

“Kemarin, mengumpulkan KTP 99-an orang yang mau diusulkan kepada Wali Kota Jayapura. Ada dua solusi; pertama bisa buka, kalau tidak bisa buka mohon bantuan,” terangnya.

Lantaran tidak dapat penghasilan, Ketua K-Conk Jayapura Apri menceritakan, temannya memang sudah menutup usahanya. Namun, dia menyiasati dengan membuka online untuk datang ke setiap rumah.

“Untuk meyambung hidup ada yang pangkas rambut itu online. Jadi datang ke rumah-rumah agar bisa bertahan hidup,” tandasnya. (idy/nam)

Komentar

News Feed